Pembaca yang semoga dirahmati Allah, sejenak mari kita selami tafsir dari Surat Thaha ayat 41. Di dalam Quran Surat Thaha ayat 41 Allah ta’ala berfirman:

وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي

Terjemah Surat Thaha ayat 41: Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku, (QS Thaha 41).

Imam Ibnu Katsir mengutip satu kisah menarik tentang obrolan Nabi Adam alaihissalam dengan Nabi Musa alaihissalam. Berikut hadisnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:

الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: أَنْتَ الَّذِي أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ آدَمُ: وَأَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ، وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فوجدتَه قَدْ كَتَبَ عَليّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي؟ قَالَ: نَعَمْ. فحَجّ آدَمُ مُوسَى” أَخْرَجَاهُ

Adam dan Musa pernah bertemu. Maka Musa bertanya kepada Adam, ‘Apakah Anda Adam yang telah membuat umat manusia menderita dan mengeluarkan mereka dari Surga?’

Maka Adam menjawa, “Apakah Anda Musa yang telah dipilih Allah untuk mengemban risalah-Nya? Dan Dia telah memilih dirimu sebagai utusan-Nya dan menurunkan Taurat kepada Anda?”

Musa menjawab, “Iya benar.”

Adam lantas bertanya, “Bukankah Anda mendapati bahwa hal itu (diusirnya Nabi Adam, dan manusia dari surga) sudah ditetapkan padaku sebelum Allah menciptakan diriku?”

Musa pun menjawab, “Iya, benar.”

Maka Rasulullah ﷺ berujar, “Dengan demikian Adam telah mengalahkan Musa (dalam hujjahnya),” (Sahih Bukhari: 4736).

Kandungan Surat Thaha ayat 41

Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu berkata:

اصطفيتك لوحي وَرِسَالَتِي

“Aku (Allah) telah memilihmu untuk (menerima) wahyu dari-Ku dan risalah dari-Ku,” (Tafsir Al-Jami li Ahkamil Quran).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, di dalam kitabnya Tafsir Al-Quranul Adzhim, berkata:

اصْطَفَيْتُكَ وَاجْتَبَيْتُكَ رَسُولا لِنَفْسِي، أَيْ: كَمَا أُرِيدُ وَأَشَاءُ.

“Aku (Allah) telah memilih dirimu sebagai Rasul (utusan) Allah, yaitu sesuai dengan yang Allah inginkan dan Allah kehendaki.”

Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di Rahimahullah berkata:

أجريت عليك صنائعي ونعمي، وحسن عوائدي، وتربيتي، لتكون لنفسي حبيبا مختصا، وتبلغ في ذلك مبلغا لا يناله أحد من الخلق إلا النادر منهم

“Aku (Allah) telah memberimu berbagai macam kebaikan dan mengurusmu, sehingga kamu menjadi orang kesayangan-Ku, lalu kamu mencapai derajat yang tidak bisa dicapai oleh orang lain kecuali sedikit.”

Lebih lanjut Imam Al-Qurtubi menuturkan bahwa “memilih” di sini ada dua makna:

1) menciptakan nabi Musa, dan

2) menjadikanmu (Nabi Musa) sosok yang kuat, mengajarimu (nabi Musa), sehingga mampu menyampaikan kepada para hamba tentang berbagai perintah dan larangan.”

Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh ahli tafsir tersohor, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah. Menjelaskan ayat ini, beliau berkata:

أنعمت عليك يا موسى هذه النعم، ومننت عليك هذه المنن، اجتباء مني لك، واختيارا لرسالتي والبلاغ عني، والقيام بأمري ونهيي

“Aku (Allah) telah mengenugerahkan nikmat-Ku kepadamu, wahai Musa, yaitu memilihmu sebagai seorang rasul yang bertugas mengemban risalah-Ku, serta melaksanakan segala perintah dan larangan-Ku.”

Dari sini bisa kita pahami bahwa seseorang yang telah dipilih oleh Allah, darinya dituntut totalitas dalam menjalankan amanat tersebut. Lebih-lebih seorang nabi atau Rasul. Itulah mengapa Sayyid Qutub rahimahullah, ketika merenungi ayat ini, beliau menulis demikian:

“Kamu diutus tidak untuk mencari apa-apa di dunia ini. Tugasmu hanya melaksanakan tugas yang telah Aku (Allah) pilihkan untukmu (Nabi Musa). Aku (Allah) memilihmu untuk melaksanakan tugas tersebut. Maka:

1) kamu tidak memiliki apa-apa terhadap dirimu,

2) keluargamu juga tidak memilikimu,

3) tidak seorang pun yang dapat memilikimu.

Oleh karena itu, laksanakanlah apa yang telah Aku pilihkan untukmu,” (Fi Zilalil Quran).

Penutup

Nabi Musa mendapat kedudukan khusus di sisi Allah, yang ditugaskan untuk berdakwah, menyampaikan risalah Islam, baik itu yang berupa perintah maupun larangan, dan itu membutuhkan ilmu dan kekuatan (fisik dan hujjah), serta membutuhkan totalitas di dalamnya, di atas kepentingan terhadap diri sendiri, keluarga, dan siapa pun dari manusia. Wallahu’alam bish shawwab