Pembaca yang semoga dirahmati Allah, sedikit kita akan belajar tentang tafsir atau kandungan dari surat Al Ahzab ayat 70. Ada beberapa yang akan kita bahas; 1) Tafsir perintah bertakwa, dan 2) Tafsir perkataan yang benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di Surat Al Ahzab 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Arti: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, (QS Al-Ahzab: 70).

Tafsir Perintah Bertakwa

Tentang “bertakwalah kepada Allah,” Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

اتقوا الله أن تعصوه، فتستحقوا بذلك عقوبته

“Bertakwalah kepada Allah sehingga kamu takut untuk bermaksiat kepada-Nya, sehingga dengan bermaksiat kepada Allah itu kalian berhak mendapat hukuman dari-Nya.”

Tentang ini juga, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

يقول تعالى آمرا عباده المؤمنين بتقواه ، وأن يعبدوه عبادة من كأنه يراه

“Allah ta’ala berfirman, memerintahkan kepada hambaNya yang beriman dengan perintah takwa kepada-Nya, juga dengan perintah beribadah seperti orang yang sedang diawasi oleh Allah.”

Sayyid Muhammad Thanthawi di dalam tafsir Al-Wasith tentang takwa di sini beliau berkata:

بمراقبته وبالخوف منه،

“Takwa itu dengan merasa selalu diawasi oleh Allah ﷻ, merasa takut kepada Allah.”

Tentang perintah takwa ini, Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di rahimahullah berkata:

يأمر تعالى المؤمنين بتقواه، في جميع أحوالهم، في السر والعلانية

“Allah ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman dengan perintah takwa, di semua keadaan mereka, baik ketika sembunyi-sembunyi maupun di keramaian.”

Buya Hamka rahimahullah, menjelaskan Surat Al Ahzab ayat 70 ini, beliau berkata:

“Seseorang yang telah mengakui dirinya beriman kepada Allah, hendaklah imannya itu benar-benar dipupuknya baik-baik agar subur tumbuh dan berkembang. Memupuk iman ialah dengan takwa kepada Tuhan, dengan memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan. Di antara sikap hidup karena iman dan takwa ialah jika berkata-kata, pilihlah kata-kata yang tepat, yang jitu. Dalam kata yang tepat itu terkandunglah kata yang benar.”

Tafsir Perkataan yang Benar

Tentang firman Allah ﷻ:

وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Tentang hal ini, Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah berkata:

قولوا في رسول الله والمؤمنين قولا قاصدًا غير جائز، حقًّا غير باطل.

“Berkatalah tentang Rasulullah dan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang lurus, tidak menyimpang, dengan perkataan yang hak (benar), bukan yang batil.”

Lalu beliau juga menyuguhkan tafsir para salaf tentang hal ini sebagai berikut:

Imam Mujahid menafsirkannya dengan “perkataan yang tepat,” sedang Imam Al-Kalbi “perkataan yang jujur,” lalu Imam Qatadah dengan “perkataan yang adil,” kemudian Imam Ikrimah dengan “Laa ilaaha illa Allah.”

Sayyid Muhammad Thanthawi rahimahullah berkata:

هو القول الصادق الصحيح الخالي من كل انحراف عن الحق والصواب

“Ia adalah perkataan yang jujur, yang sahih, bebas dari semua penyimpangan dari al-hak dan kebenaran.”

Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sadi rahimahullah menjelaskan agak panjang sebagai berikut:

وهو القول الموافق للصواب، أو المقارب له، عند تعذر اليقين، من قراءة، وذكر، وأمر بمعروف، ونهي عن منكر، وتعلم علم وتعليمه، والحرص على إصابة الصواب، في المسائل العلمية، وسلوك كل طريق يوصل لذلك، وكل وسيلة تعين عليه.

“Ia adalah perkataan yang sesuai dengan kebenaran, atau yang mendekati kebenaran, jika sulit untuk dipastikan. Termasuk dalam perkataan yang benar adalah membaca Quran, zikir, amar makruf nahi munkar, nyantri dan jadi ustadz, bersemangat untuk menyesuaikan diri dengan kebenaran, di semua masalah ilmiyah, menempuh semua jalan yang bisa mengantarkan kepadanya, dan semua wasilah yang bisa membantunya ke sana.

ومن القول السديد، لين الكلام ولطفه، في مخاطبة الأنام، والقول المتضمن للنصح والإشارة، بما هو الأصلح.

“Termasuk perkataan yang benar adalah perkataan yang lembut dan halus ketika berbicara dengan orang lain, serta perkataan yang yang mengandung nasihat dan isyarat menuju apa-apa yang bisa menjadikan dirinya lebih baik, maslahat.”

Buya Hamka Rahimahullah menyuguhkan satu faidah bagus sekali tentang hal ini:

“Kalau seseorang telah memilih kata-kata yang akan dikeluarkan dari mulut, yang sesuai dengan makna yang tersimpan dalam hati, tidaklah akan timbul kata-kata yang menyakiti orang, apalagi kata-kata yang menyakiti Allah dan menyakiti Nabi-nabi…. Timbulnya sikap hidup memilih kata-kata yang tepat dalam bercakap-cakap ialah karena hati yang bersih. Sebab ucapan lidah adalah dorongan dari hati.”

Wallahu’alam bish shawwab.