Simak videonya saja, yuk!

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ada satu pertanyaan dari kolom komentar channel YouTube Mukminun TV bahwa seorang wanita sudah menikah selama 3 tahun. Tetapi dia tinggal bersama orang tuanya karena dia adalah anak satu-satunya. Dia sudah mendapat izin dari suaminya untuk tinggal bersama orang tuanya. Nah, pada dua kesempatan, dia pernah mengikuti tes CPNS. Tetapi dia gagal dengan hanya selisih koma dari mereka yang diterima. Apakah gagal CPNS ini karena dia tidak tinggal bersama suami? Terima kasih

Jawaban oleh tim fatwa asy-Syabakah al-Islamiyah, diketuai oleh Syaikh Abdullah Al-Faqih

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Selawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti beliau.

Kegagalan wanita tersebut dalam tes CPNS tidak selalunya karena dia tidak tinggal bersama suaminya. Asalkan sang suami telah memberi izin baginya untuk tinggal bersama orang tuanya, dia tidak berdosa karena meninggalkan rumah suami.

Selain itu, kegagalan dia dalam mengikuti ujian CPNS tidak selalunya merupakan hal yang buruk. Bisa saja hal itu justru baik bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Arab-Latin QS Al-Baqarah 216: Kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asā an takrahụ syai`aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbụ syai`aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

Terjemah Arti QS Al-Baqarah 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).

Hendaknya seorang Islam itu selalu memperbarui taubatnya, apa pun keadaan yang menimpanya. Sungguh, Sahabat Ali bin Abi Thalih Radhiyallahuanhu menjelaskan:  

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah suatu musibah turun melainkan karena dosa. Dan tidaklah suatu musibah diangkat kecuali dengan taubat,” (Al Jawabul Kaafi: 87).

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis qudsi:

يَا عِبَادِي! إنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إيَّاهَا؛ فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَن إلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya amal perbuatan kalian senantiasa akan Aku hisab (adakan perhitungan) untuk kalian sendiri. Kemudian Aku akan berikan balasannya. Barang siapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah ﷻ. Dan barang siapa yang mendapatkan selain kebaikan, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri,” (Sahih Muslim: 4674).

Menjelaskan hadis ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

فالمؤمن إذا أصابه في الدنيا بلاء ، رجع إلى نفسه باللوم ، ودعاه ذلك إلى الرجوع إلى الله بالتوبة والاستغفار

“Ketika suatu musibah menimpa orang beriman di kehidupan dunia ini, dia hendaknya menyalahkan dirinya sendiri, lalu hal itu hendaknya membuat dia kembali kepada Allah dengan bertaubat dan memohon ampunan,” (Jamiul Ulum wal Hikam).

Wallahu’alam bish shawwab.

Fatwa No: 436120

Tanggal: 23 Januari 2021 (10 Jumadil Akhir 1442)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)