Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram. Karena hal itu berarti berkuasanya orang kafir atas orang-orang Islam serta merupakan penghinaan terhadap orang Islam.

Iqomah atau bertempat tinggal secara terus-menerus di antara orang-orang kafir juga haram hukumnya. Oleh karena itu Allah mewajibkan hijrah dari negara kafir menuju negara muslim dan mengancam orang yang tidak mau berhijrah tanpa memiliki udzur syar’i.

Malas Baca? Klik video!

Syariat Islam juga mengharamkan seorang muslim bepergian ke negara kafir kecuali karena alasan syar’i dan mampu menunjukkan keislamannya. Kemudian, jika dia sudah selesai dari melaksanakan tujuannya, maka dia harus segera kembali ke negara Islam.

Adapun bekerjanya seorang muslim kepada orang kafir, yang mana pekerjaan itu tidak bersifat melayani atau pengabdian, yaitu seperti menjahit atau membangun tembok dan lain sebagainya, maka hal ini hukumnya boleh karena tidak ada unsur penghinaan. Hal ini berdasarkan riwayat Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu Anhu dimana dia pernah berkata:

“Saya bekerja untuk seorang perempuan Yahudi dengan upah setiap timba air ditukar dengan sebutir kurma. Kemudian, saya menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan aku membawakan beberapa butir kurma Kepada beliau lalu Beliau pun memakan sebagian kurma tersebut bersama saya,” (HR Bukhari).

“Khabbab pernah bekerja kepada Al-Ash bin Wa’il di Mekah sedang Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengetahuinya dan beliau pun menyetujui hal tersebut,” (HR Bukhari).

Hal ini menunjukkan akan kebolehannya pekerjaan yang serupa dengan ini karena ini merupakan akad tukar-menukar seperti halnya jual-beli tidak ada unsur penghinaan terhadap umat Islam tidak menjadikannya sebagai abdi dan tidak bertentangan dengan sifat bara’-nya dari orang-orang kafir dan dari agama-agama mereka.

Adapun orang yang mengutamakan bekerja pada orang-orang kafir dan bertempat tinggal atau menetap bersama mereka daripada bekerja dan bertempat tinggal di tengah-tengah kaum muslimin, lalu dia memandang bolehnya bersikap loyal kepada orang-orang kafir dan ridha terhadap agama-agama mereka, maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut adalah murtad, keluar dari agama Islam.

Apabila dia melakukan hal ini karena tamak terhadap dunia atau kekayaan yang melimpah di negara orang-orang kafir, dengan tetap memiliki rasa benci kepada agama orang-orang kafir dan dia tetap menjaga agamanya sebagai orang Islam, maka hal itu haram dan dikhawatirkan akan membawa dampak buruk terhadap dirinya yang akhirnya menjadikannya ridha dengan agama mereka.