.fullpost { display: inline; }

Irfan Nugroho
Masih ingatkah Anda pada medio 2009 dimana facebook mulai booming di antara orang Indonesia.

Bangsa yang latah ini pun lantas menggunakan facebook sebagai wahana
untuk berbuat kerusakan, mulai perselingkuhan, perdagangan manusia,
hingga transaksi prostitusi secara online.

Sebagai respon terhadap fenomena seperti di atas, kalangan ulama
Nahdiyin di Jawa Timur kemudian mengeluarkan fatwa “haram” terhadap
facebook, yang ditengarai bahwa facebook memang dibuat oleh kaum kafir
untuk merusak umat Islam.

Dalam hal ini benarlah apa yang Allah firmankan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 120:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka,” (Al-Baqarah: 120)

Hari ini, 13 Dzulhijjah 1432 H, Radio Dakwah Syariah (RDS FM) dalam
acara RDS Pagi mengangkat topik maraknya event-event internasional yang
digelar di kota Surakarta, atau lebih dikenal dengan nama Solo.

Memang benar bahwa hampir semua event-event internasional di kota Solo
ini tidak berbau Islami dan cenderung sekularis, nasionalis, ataupun
tradisionalis.

Dan mayoritas umat Islam yang terlibat dalam acara pagi tersebut
berkomentar negatif bahkan mengecam penyelenggaraan event-event tersebut
sebagai wujud “ketidakridhaan” orang-orang Yahudi maupun Nasrani
terhadap Islam.

Sehingga, stigma yang sering muncul di kalangan para ikhwan ketika ada
acara-acara seperti ini menjadi cenderung “anti” dan saya pun tidak
menyalahkan ikhwan-ikhwan tersebut.

Alih-alih kita hanya sekedar bersikap anti, kenapa tidak kita galakkan aksi kita?

Dalam membahas Surat Al-Baqarah Ayat 120 tersebut, seorang ustadz yang
mengisi kajian lewat RDS FM Solo juga mengutip Ayat Pertama Surat
Al-Bayyinah:

Orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik
(mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum
datang kepada mereka bukti yang nyata
,” (Al-Bayyinah: 1).
Alih-alih hanya sekedar bersikap anti terhadap facebook ataupun
event-event internasional non-Islami di kota Solo ini, harusnya para
aktivis Islam lebih giat berdakwah sebagai upaya counter-balance.

Ketika orang-orang tradisionalis menyelenggarakan “World Heritage
Conference,” lantas mengapa para aktivis dakwah tidak berinisiatif
menyelenggarakan “World Islamic Conference”?

Ketika kaum Nasrani gencar menjalankan misi Kristiani lewat facebook,
ulama-ulama Nahdiyin Jawa Timur hanya sekedar “memfatwakan haram
terhadap facebook,” kenapa tidak berupaya untuk menggalang persatuan
umat dan menyeru umat untuk berdakwah lewat facebook?

Ketika para kriminal menggunakan facebook untuk ‘berdagang’ manusia,
kenapa tidak kita gunakan facebook untuk ‘berdagang barang-barang
Islami’?

Ketika para budayawan Jawa menggelar event-event semisal “Melestarikan
Budaya Jawa dan Budaya Bangsa,” kenapa ikhwan-ikhwan kita tidak
berinisiatif untuk mengadakan acara bertajuk “Jihad, Budaya Bangsa Yang
Terlupakan” (karena memang Jihad sudah ada sejak zaman Sultan Trunojoyo,
Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Baabullah).

Maka, kenapa kita hanya sekedar bersikap “anti” terhadap upaya-upaya
jahat orang-orang kafir? Tunjukin “Aksi” Loe! (13 Dzulqa’dah 1432 H).