Oleh Sheikh Muhammad Suwaid

A. Mengeluarkan Zakat Fitrah[i]
Abu Dawud meriwayatkan dari Amru bin Su’aib dari ayahnya
dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam dengan membawa seorang putrinya yang mengenakan dua buah
gelang yang cukup tebal terbuat dari emas.
Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata
kepadanya, “Apakah kamu akan
mengeluarkan zakatnya
?”
Ia menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apakah
kamu suka jika pada hari kiamat nanti Allah akan mengenakan kepadamu dua gelang
dari api neraka?
” Perempuan itu lalu melepas kedua gelang emas pada anaknya
itu dan memberikannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sembari
bersabda, “Gelang ini adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Adapun
berkenaan dengan zakat fitrah, Imam Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Abu Dawud
meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu bahwa dia berkata, “Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma atau
gandum atas setiap hamba sahaya atau orang merdeka, anak kecil maupun orang
dewasa
.”[ii]
Kita bisa
catat di sini bahwa ibadah ini hukumnya wajib dan bukan sunnah. Dari sini bisa
kita catat pula bahwa Islam sangat menghendaki agar harta itu senantiasa bersih
dengan dizakati.
“Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka,” (QS At-Taubah: 103).
B. Hak
Mendapat Warisan
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
Jika seorang anak telah lahir, dia mendapatkan hak waris,” (HR Abu
Dawud
).[iii]
Diriwayatkan
dari Said bin Musayyib bahwa Jabir bin Abdillah dan Miswar bin Mikhramah
mengatakan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah memutuskan bahwa
seorang anak tidak akan memperoleh hak waris sehingga dia dilahirkan dengan
jelas. Yang dimaksud dengan kelahirannya itu adalah bila dia menjerit, atau
bersih atau menangis
,” (HR Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hibban).[iv]
Dalam kitab
Syarhus Sunnah dikatakan, “Jika ada seseorang meninggal dunia dan ada ahli
warisnya yang masih ada dalam kandungan, maka hak warus itu ditanggungkan
terlebih dahulu. Hika kemudian bayi itu keluar dalam keadaan hidup, maka dia
mempunyai hak untuk mendapatkan warisan. Jika dia keluar dalam keadaan tidak
bernyawa, maka dia tidak berhak memeroleh warisan. Dan jika dia lahir dalam
keadaan hidup kemudian dia meninggal dunia, maka dia mendapatkan warisan, baik
terdengar suara tangisnya atau tidak, setelah ditemukan padanya tanda-tanda
bahwa dia pernah hidup, berupa bersin atau bernafas atau bergerak atau
selainnya yang menunjukkan bahwa dia pernah hidup.[v]
C. Ucapan
Selamat atas Kelahiran Bayi
Masyarakat
Islam dengan karakter kebersamaan dan solidaritasnya tidak akan membiarkan
sebuah kesempatan yang penuh dengan suka dan duka kecuali ikut secara
bersama-sama menyertainya agar jalinan kebersamaan yang ada benar-benar menjadi
kokoh.
Anak yang
dilahirkan akan memeroleh sambutan kebahagiaan dari anggota keluarganya.
Orang-orang di sekitar akan memberikan salam ucapan kebahagiaan kepada kedua
orangtuanya sebagaimana ucapan selamatnya para malaikat Allah yang disampaikan
kepada para utusannya yang mulia dan juga kepada Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam.
Kemudian
Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat
di mihrab (katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran
(seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah,
menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk
keturunan orang-orang yang saleh,” (QS Ali-Imran: 39).
Hai
Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan kehadiran
seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan
orang yang serupa dengan dia,” (QS Maryam: 7).
Bersegera
memberikan ucapan selamat dan kabar gembira ini akan menambah kebahagiaan
tersendiri bagi kedua orang tua si jabang bayi. Hal ini juga akan semakin
mempererat hubungan masyarakat Islam. Boleh memberikan ucapan selamat seperti
yang pernah diucapkan oleh Imam Hasan Al-Bashri yang begitu lembut:
بُوْرِكَ لَكَ فِى الْمُوْهُوْبِ وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ وَرُزِقْتَ بِرُّهُ
وَبَلَغَ أَشُدَّهُ
Semoga
Allah memberkahimu di dalam pemberitan-Nya dan engkau bersyukur kepada Sang
Pemberi, sehingga engkau pun diberi rezki berupa kebaktiannya hingga ia
mencapai usia dewasa.”
Bersambung…

[i] Kalangan mahdzab Syafi’i mengatakan wajib
zakat atas anak-abak, sedangkan kalangan Hanafi mengatakan tidak wajib. Lihat
Bada’i As-Shana’i, 2/4-5.
[ii] Diriwayatkan oleh Daruquthni dari Ibnu
Abbas, 2/150 dan dari Jabir, 2/151.
[iii] Lihat Silsilah Al-Hadist Ash-Shahihah, No.
153.
[iv] Lihat Silsilah Al-Hadist Ash-Shahihah, No.
152.
[v] Ibnu Taimiyah, Al-Muntaqa min Akhbar
Al-Musthafa Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Ditahqiq oleh Muhamamd Hamid Al-Fiqqi,
2/467.