Tafsir

Tadabur QS Hujurat 10 – Orang2 Beriman adalah Saudara

Pembaca rahimakumullah, apa isi kandungan surat Al-Hujurat 10? Bagaimana cara bersaudara menurut QS Hujurat 10? Artikel kali ini akan membahas tentang tafsir dan beberapa faidah dari ayat orang-orang beriman sesungguhnya bersaudara. Teruskan membaca!

AYAT DAN ARTI AL HUJURAT 10

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Latin: Innamal-mu`minụna ikhwatun fa aṣliḥụ baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum tur-ḥamụn

Arti: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat, (QS Hujurat 10).

TAFSIR AL-HUJURAT 10

Berikut adalah tafsir Imam At-Tabari terhadap QS Al-Hujurat ayat 10 ini:

Firman Allah (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ) yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,” maksudnya:

فِي الدِّينِ

Yaitu bersaudara dalam agama, yakni agama Islam.

Note:

Jadi, kalau kita beragama islam, seseorang juga beragama Islam, maka kita dengan dia adalah saudara seagama, meskipun kita dengan dia tidak memiliki hubungan nasab (darah).

Firman Allah (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ), yang artinya, “Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu,” maksudnya:

إِذَا اقْتَتَلَا بِأَنْ تَحْمِلُوهُمَا عَلَى حُكْمِ اللَّهِ وَحُكْمِ رَسُولِهِ

Apabila dua orang beriman itu bersengketa, damaikan mereka dengan mengajak mereka untuk kembali kepada hukum Allah dan RasulNya.

BACA JUGA:  Ingin Menang dari Judi? Ini Jurus Saktinya

Firman Allah (وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ), yang artinya, “takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,” maksudnya:

وَخَافُوا اللَّهَ – أَيُّهَا النَّاسُ – بِ

Wahai sekalian manusia, takutlah kepada Allah dengan:

أَدَاءِ فَرَائِضِهِ عَلَيْكُمْ فِي الْإِصْلَاحِ بَيْنَ الْمُقْتَتِلِينَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِالْعَدْلِ

1 – Menjalankan berbagai hal yang wajib atas kalian dalam urusan mendamaikan dua orang beriman yang bersengketa dengan cara yang adil,

أَدَاءِ فَرَائِضِهِ عَلَيْكُمْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ فَرَائِضِهِ

2 – Menjalankan berbagai hal yang wajib atas kalian, dalam urusan yang lainnya,

اجْتِنَابِ مَعَاصِيهِ

3 – Menjauhi berbagai kemaksiatan

Orang yang menjalankan tiga hal ini, mendamaikan orang beriman yang bersengketa, menjalankan kewajiban di dalam Islam, serta menjauhi hal-hal yang haram, kata Imam At-Tabari:

لِيَرْحَمَكُمْ رَبُّكُمْ

1 – Tuhan kalian akan merahmati kalian (rahmat artinya kebaikan di akhirat)

فَيَصْفَحَ لَكُمْ عَنْ سَالِفِ إِجْرَامِكُمْ

2 – Mengampuni dosa-dosa kalian yang sudah lalu (sehingga dengan diampuninya dosa, doa seseorang untuk kebaikan dunia dan akhirat akan dikabulkan oleh Allah).

PELAJARAN

Pelajaran atau faidah yang bisa diambil dari QS Hujurat 10 ini di antaranya:

1 – Persaudaraan karena Agama lebih Kokoh daripada Persaudaraan karena Nasab

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Al-Qurtubi berkata:

أُخُوَّةُ الدِّينِ أثْبَتُ مِن أُخُوَّةِ النَّسَبِ

Ukhuwah (persaudaraan) karena agama lebih kokoh daripada ukhuwah karena hubungan darah, (Al Jami Li Ahkamil Quran).

Meski demikian, perlu diingat bahwa ukhuwah yang dibangun atas nasab sekaligus iman, adalah ukhuwah yang paling kokoh, paling utama, dan paling wajib dijaga. Di dalamnya ada dua keutamaan: 1) Keutamaan menjaga silaturahmi, dan 2) Keutamaan menjaga ukhuwah Islamiyah.

2 – Pondasi Masyarakat Islam Adalah Tiga Hal Ini

Ketika merenungi QS Al Hujurat 10, Sayyid Qutub berkata:

وَمِمَّا يَتَرَتَّبُ عَلَى هَذِهِ الْأُخُوَّةِ أَنْ يَكُونَ الْحُبُّ وَالسَّلَامُ وَالتَّعَاوُنُ وَالْوَحْدَةُ هِيَ الْأَصْلُ فِي الْجَمَاعَةِ الْمُسْلِمَةِ

Implikasi dari persaudaraan adalah hendaknya suatu masyarakat muslim itu dibangun di atas pondasi rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan, (Fi Dhilalil Quran).

3 – Larangan Berlaku Zalim dan Membiarkan Saudara Seiman Disakiti

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengutip suatu hadis yang diriwayatkah oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang muslim adalah saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya, juga tidak boleh membiarkannya dizalimi, (Sahih Bukhari: 2442).

BACA JUGA:  Quran Surat Al-Kahfi Ayat 1-10, Latin dan Artinya

4 – Anjuran untuk saling Tolong Menolong

Ketika menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengutip suatu hadis yang diriwayatkah oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah akan senantiasa menolong hambaNya, selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya (dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan), (Sahih Muslim: 2699).

5 – Anjuran Mendoakan Saudaranya dengan Kebaikan

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini menukil suatu hadis yang diriwayatkah oleh Imam Muslim dari Abu Darda Radiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ما مِن عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بظَهْرِ الغَيْبِ إلَّا قالَ المَلَكُ: وَلَكَ بمِثْلٍ

Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tadi, kecuali malaikat akan berkata kepada hamba muslim tadi, “Saya doakan yang semisal dengan doamu yang baik-baik untuk saudaramu tadi,” (Sahih Muslim: 2732).

6 – Anjuran untuk Memiliki Sikap Tenggang Rasa, Senasib Sepenanggungan

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini menukil suatu hadis yang diriwayatkah oleh As-Sahihain dari Nu’man bi Basyir Radiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ المُؤْمِنِينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الجَسَدِ إذا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى له سَائِرُ الجَسَدِ بالسَّهَرِ والحُمَّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal hubungan, kasih sayang, serta tolong menolong, itu seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit, sekujur tubuh akan merasakan tidak enak, hingga dia tidak bisa tidur dan meriang, (Sahih Bukhari: 6011. Sahih Muslim: 2586).

7 – Senang jika Saudara Senang, Sedih jika Saudara Sedih

Ketika menjelaskan ayat ini, Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di berkata:

أُخُوَّة تُوجِبُ أَنْ يُحِبَّ لَهُ الْمُؤْمِنُونَ مَا يُحِبُّونَ لِأَنْفُسِهِمْ ، وَيَكْرَهُونَ لَهُ مَا يَكْرَهُونَ لِأَنْفُسِهِمْ

Ukhuwah itu mewajibkan seseorang untuk senang apabila saudaranya yang beriman juga senang, juga untuk bersedih ketika saudaranya sedih, (Taisiril Karimir Rahman).

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Sahihnya dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺbersabda:

 لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Seseorang dari kalian tidak akan sempurna imannya sampai dia mencintai untuk saudaranya,” atau beliau juga mengatakan, “untuk tetangganya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri,” (Sahih Muslim: 45).

BACA JUGA:  Khutbah Jumat: Jangan Berhenti Berdoa!

8 – Wajibnya Mendamaikan Dua Orang Beriman yang Bertikai

Di antara pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini, menurut Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di adalah:

وُجُوبُ الْإِصْلَاحِ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ بِالْعَدْلِ ، وَعَلَى وُجُوبِ قِتَالِ الْبُغَاةِ ، حَتَّى يَرْجِعُوا إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

Wajibnya mendamaikan orang beriman dengan cara yang adil, juga wajibnya memerangi kelompok yang memberontak terhadap suatu pemerintahan Islam, sampai mereka kembali kepada aturan Allah, (Taisiril Karimir Rahman).

Sedikit tambahan dari Syaikh Dr Muhammad Sulaiman Al Asyqar tentang wajibnya memerangi bughat (pemberontak):

لَوْ خَرَجَ جَمَاعَةً عَلَى الْإِمَامِ فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ طَائِفَةً بَاغِيَةً إِنَّ كَانَ خُرُوجُهُمْ بِغَيْرِ حَقٍّ وَلَكِنَّهُمْ إِخْوَةً مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

Tentang suatu kelompok yang keluar terhadap imam, yakni para pemberontak, dan meskipun pemberontakan mereka itu bukan karena alasan yang hak, mereka tetap saudara dan tetap beriman (selama tidak melakukan pembatal keimanan), (Zubdatut Tafsir).

9 – Keutamaan Mendamaikan Dua Pihak yang Bertikai

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ ‏ ‏وَالصَّدَقَةِ

Maukah kalian aku beri tahu amalan yang pahalanya menyamai derajat salat (sunah), puasa (sunah), dan sedekah (sunah)? Kemudian para sahabat menjawab, “Ya, Rasulullah!”

Rasulullah ﷺ bersabda:

‏إِصْلَاحُ ‏ ‏ذَاتِ الْبَيْنِ ‏ ‏وَفَسَادُ ‏ ‏ذَاتِ الْبَيْنِ ‏ ‏هِيَ ‏ ‏الْحَالِقَةُ

Mendamaikan dua orang (yang bertikai), karena rusaknya hubungan dua orang yang bertikai adalah pemutus (kebaikan dunia dan akhirat), (Musnad Ahmad: 27508).

10 – Mendamaikan Orang Beriman adalah Salah Satu Sebab Pintu Rahmat

Ketika menafsirkan firman Allah (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ), yang artinya “supaya kalian mendapat rahmat,” Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di berkata:

عَدَم اَلْقِيَامِ بِحُقُوقِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَعْظَمِ حَوَاجِبِ الرَّحْمَةِ

Tidak memenuhi hak-hak orang beriman adalah satu dari sekian sebab penghalang rahmat Allah, (Taisiril Karimir Rahman).

11 – Hendaknya Umat Islam Hanya Dipimpin Satu Imam

Di antara kesimpulan yang diambil Sayyid Qutub dari ayat ini adalah:

وَالْأَصْلُ فِي نِظَامِ الْأُمَّةِ الْمُسْلِمَةِ أَنْ يَكُونَ لِلْمُسْلِمِينَ فِي أَنْحَاءِ الْأَرْضِ إِمَامَةً وَاحِدَةً

Prinsip utama dalam sistem umat Islam adalah bahwa hendaknya kaum muslimin di berbagai belahan dunia memiliki satu kepemimpinan, (Fi Dhilalil Quran).

12 – Mengapa Terjadi Perang Jamal antara Ali dan Muawiyah?

Menjawab pertanyaan ini, Buya Hamka Rahimahullah menulis di dalam kitab beliau Tafsir Al-Azhar:

“Ibnu Abbas menjawab setelah kejadian itu lama lampau. Kata beliau: ‘Sebabnya ialah karena dalam kalangan kami tidak ada orang yang seperti Mu’awiyah dan dalam kalangan Mu’awiyah tidak ada orang yang seperti Ali.’ Alangkah tepatnya jawaban ini.

Karangasem, 12 Mei 2023

Irfan Nugroho (Guru di Pesantren At-Taqwa Sukoharjo)

 

Irfan Nugroho

Hanya guru TPA di masjid kampung. Semoga pahala dakwah ini untuk ibunya.

Tema Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button