Pertanyaan:
Kapan
seorang wali anak yatim boleh menyerahkan kembali harta si anak yatim tersebut?
Jawaban
oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim di dalam Al-Fataawa Al-Jamiah lil Mar’ah
al-Muslimah: 3/1129
Alhamdulillah
Tidak boleh bagi seorang wali anak yatim untuk menyerahkan
kembali harta si anak yatim sampai si anak tersebut merasa bahwa dirinya telah
matang (mandiri), yaitu ketika dia telah mampu menjalankan urusannya dengan
cara yang baik dan tidak akan menghabiskannya di jalan yang haram. Waktu untuk
menyerahkan harta si anak yatim bukanlah ketika si anak tadi telah mencapai baligh,
tetapi ketika dia merasa telah mampu untuk mandiri setelah mencapai usia baligh.
Allah berfirman:
وَٱبۡتَلُواْ ٱلۡيَتَٰمَىٰ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغُواْ ٱلنِّكَاحَ
فَإِنۡ ءَانَسۡتُم مِّنۡهُمۡ رُشۡدٗا فَٱدۡفَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَٰلَهُمۡۖ  ٦
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup
umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai
memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya
,” (QS An-Nisa:
6).
Seseorang tidak lagi
disebut yatim setelah dia mencapai usia baligh, dan baligh itu sendiri diketahui
dengan beberapa hal: tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan, mencapai usia 15 tahun, dan
mengeluarkan mani baik ketika bangun atau tidur. Sama antara pria dan wanita,
kecuali dua tanda tambahan bagi wanita, yaitu menstruasi dan kehamilan.
Dikatakan di dalam
Al-Mughni (2/139):
“Baligh dicapai ketika
seseorang mengalami mimpi basah, mencapai usia 15 tahun, tumbuh rambut di sekitar kemaluan. Untuk wanita, ada dua tanda tambahan: kehamilan dan
menstruasi.”
Wallahu’alam bish
shawwab.
Fatwa: 13262
Tanggal: 11 Januari
2010
Sumber: IslamQA
Penerjemah: Irfan Nugroho
(Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)