Uncategorized

Kejujuran dan Keikhlasan Para Salaf #3

Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail & Baha’uddin Fatih Aqil
Dari Ja’far bin Burqan, ia berkata, “Kabar tentang keutamaan dan kesalehan Yunus bin Ubaid telah sampai kepadaku. Aku pun menulis surat kepadanya,

Wahai saudaraku, kabar tentang keutamaan dan kesalehan dirimu telah sampai kepadaku. Maka aku pun berkeinginan untuk menulis surat kepadamu. Maka tulislah balasan surat ini kepadaku tentang kebiasaan yang kamu lakukan.”

Yunus bin Ubaid membalas suratku:

Suratmu yang memintaku untuk menceritakan kebiasaan yang aku lakukan telah sampai kepadaku. Aku akan memberitahukannya kepadamu. Sungguh, aku telah memaksakan diri untuk mencintai orang lain sebagaimana aku mencintai diriku sendiri, dan membenci mereka sebagaimana aku membenci diriku sendiri. Tetapi sangat sulit untuk melakukannya.

Kemudian, pada kesempatan yang lain, aku memaksakan diri ini untuk tidak menyebut-nyebut aib mereka, tetapi ternyata aku mendapati puasa di hari yang panas begitu menyegat di Bashrah lebih ringan untuk dilakukan daripada tidak menyebut-nyebut aid mereka. Demikianlah kondisi diriku, duhai saudaraku,” (Dalam Shifatush Shafwah: 3/303).

Dari kitab, “Aina nahnu min akhlaqis salaaf.”

BACA JUGA:  Fiqih Islam: Wajib, Sunnah, dan Makruh dalam Tata Cara Mandi Junub (Mandi Besar)

Irfan Nugroho

Guru TPA di masjid kampung. Mengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Nguter Sukoharjo. Penerjemah profesional dokumen legal atau perusahaan untuk pasangan bahasa Inggris - Indonesia dan penerjemah amatir bahasa Arab - Indonesia. Alumni Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) tahun 2008 dan 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button