Pertanyaan: Jika orang tua memaksa anak
laki-lakinya untuk menceraikan istrinya, apakah dia harus mematuhi perintah
orang tuanya tersebut? Bagaimana pandangan mazhab Syafi’ah dalam hal ini?


Jawaban
oleh tim fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah, diketuai oleh Syaikh Abdullah
Al-Faqih hafizahullah

Segala puji
hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang hak
untuk diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad

adalah hamba dan utusanNya.

Jika kedua
orang tua, atau salah satunya, meminta anak laki-lakinya untuk menceraikan
istrinya, dan mereka (orang tua) memiliki alasan yang dibenarkan oleh syariat,
maka hukumnya mandub (disukai) bagi sang anak untuk menceraikan istrinya.
Inilah pandangan mazhab fikih Syafi’iah dalam hal ini.

Akan
tetapi, jika perintah untuk menceraikan istri tersebut tidak disertai dengan
suatu alasan yang dibenarkan oleh syariat, maka tidak disukai bagi sang anak
untuk menceraikan istrinya tadi.

Tertulis di
dalam I’aanatuth Thaalibiin ‘ala hil Alfaadh Fathul Mu’iin ketika membahas
tentang macam-macam talak (cerai):

مندوب:
كأن يعجز عن القيام بحقوقها ولو لعدم الميل إليها

“Cerai hukumnya mandub, seperti ketika seorang suami
tidak mampu memenuhi hak-hak istrinya, meskipun sang suami masih memiliki
kencenderungan (rasa cinta) terhadap istrinya tadi.”

أو
يأمره به أحد والديه

“(Cerai
hukumnya juga mandub ketika) sang suami disuruh oleh salah satu dari kedua
orang tuanya.”

Nah, ketika
menjelaskan sebab terakhir ini, penyusun I’anatuth Thaalibiin berkata, “(Perintah
orang tua agar anaknya menceraikan istrinya ini hukumnya mandub (disukai) untuk
dituruti) jika tidak disertai dengan sikap keras kepala. Maksudnya, (perintah orang
tua kepada anaknya untuk menceraikan istrinya itu) harus karena adanya tujuan
yang bisa dibenarkan oleh syariat. Jika perintah itu karena orang tua yang
ngotot atau keras kepala, padahal tidak ada alasan yang bisa dibenarkan oleh
syariat, seperti karena orang tuanya yang tidak paham agama, maka perintah
cerai dari orang tua kepada anaknya tadi tidak boleh dipatuhi.”

Wallahu’alam
bish shawwab

Fatwa No: 448249

Tanggal: 4 Oktober 2021 (27 Safar 1443)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di
Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)