Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, bolehkah seorang anak memanggil ayahnya dengan “kunyah” milik sang ayah? Bagaimana pendapat ulama dalam hal ini? Teruskan membaca! Bismillah

Imam Al-Bukhari rahimahullah, di dalam kitabnya Adabul Mufrad, menyuguhkan dua buah atsar (ucapan/perbuatan para sahabat Nabi ﷺ) tentang bolehkah seorang anak memanggil ayahnya dengan “kunyah” sang ayah. Pertama, beliau meriwayatkan dari Syahrun bin Hausyab yang mengatakan bahwa beliau pernah keluar bersama Ibnu Umar. Saat itu, Salim (anak dari Ibnu Umar) berkata kepada Ibnu Umar:

الصَّلَةُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ

“Salat! Wahai Abu Abdurrahman,” (Adabul Mufrad: 45).

Kemudian Imam Al-Bukhari juga menulis riwayat lain yang kali ini bersumber dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma yang pernah berkata:

لَكِن أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ قَضَى

“Tetapi Abu Hafsah (Umar bin Khattab) telah memberi keputusan,” (Adabul Mufrad: 46).

Definisi Kunyah

Apa itu kunyah? Syaikh Husain Audah Al-Awayisah di dalam Syarah Sahih Adabul Mufrad berkata tentang Kunyah:

ما يجعل علمأ على الشخص غير الاسم واللقب، نحو: أبو الحسن، وأم الخير؛ وتكون مصدرة بلفظ أب أو ابن أو بنت، أو أخ أو أخت، أو عم أو عمة، أو خال أو خالة. وتستعمل مع الاسم واللقب أو بدونهما؛ تفخيما لشأن صاحبها أن يذكراسمه مجدا

“Kunyah adalah sesuatu yang menjadikan seseorang diketahui dengan selain namanya (yang asli) atau julukannya, seperti Abu Hasan, Umu Khair. Kunyah biasa dipakai dengan Abu (Bapaknya Fulan), Ibnu (Anak Laki-lakinya Fulan), Bintu (Anak Perempuannya Fulan), Akhun (Saudaranya Fulan), Ukhtun (Saudarinya Fulan), Ammun (Pamannya Fulan), Ammatun (Tantenya Fulan), Khalun atau Khalatun. Kunyah bisa dipakai dengan/tanpa nama, julukan, bahkan tanpa keduanya. Kunyah adalah suatu penghormatan atau pujian bagi pemiliknya ketika namanya disebut.”

Penulis Adabul Mufrad, Imam Bukhari rahimahullah, seolah ingin menunjukkan kepada kita melalui dua atsar ini bahwa memanggil ayah dengan kunyahnya adalah boleh.

Penjelasan dari Rasyul Barad

Menjelaskan dua riwayat di atas, Syaikh Dr. Muhammad Luqman mengatakan bahwa Salim adalah anak dari Abdullah bin Umar; sedangkan Abu Abdurrahman adalah kunyah atau julukan bagi Abdullah bin Umar. Abdurrahman sendiri adalah anak tertua dari Abdullah bin Umar. Itulah mengapa Abdullah bin Umar dijuluki “Abu Abdurrahman,” yang di dalam riwayat tersebut Salim memanggil ayahnya (Abdullah bin Umar) dengan julukan sang ayah, yaitu Abu Abdurrahman.

Abu Hafsah adalah kunyah dari Umar bin Khattab. Itulah mengapa di riwayat kedua dalam bab ini, Abdullah bin Umar memanggil ayahnya sendiri dengan julukan/kunyahnya, yaitu Abu Hafsah.

Menyimpulkan kedua riwayat ini, Syaikh Dr. Muhammad Luqman berkata:

الحديثان يدلان على أن المرء له أن ينادي أو يذكر أباه بكنيته، وأن فيه نوع من الإكرام لأبيه والتأدب معه، إذ لم يذكره باسمه كأي شخص آخر يناديه أو يذكره باسمه

“Dua hadis ini menunjukkan bahwa seseorang boleh memanggil atau menyebut ayahnya dengan kunyahnya. Juga, hadis ini menunjukkan bahwa tindakan semacam itu merupakan satu dari sekian bentuk memuliakan ayah, juga merupakan tata krama (sopan santun) terhadap ayah, karena dia tidak memanggil ayahnya dengan namanya secara langsung.”

Sukoharjo, 1 Desember 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)