Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, di antara prinsip hidup seorang muslim adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, baik itu dengan malaikat maupun para nabi, karena Allah tidak ridha apabila Allah disekutukan dalam peribadatan yang sebenarnya itu adalah hak khusus bagi Allah.

أَنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى أَنْ يُشْرَكَ مَعَهُ أَحَدٌ فِي عِبَادَتِهِ، لَا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ  مُرْسَلٌ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَـــــى: 

“Sesungguhnya Allah tidak ridha apabila Allah disekutukan dengan sesuatu apa pun dalam hal peribadatan, baik itu disekutukan dengan malaikat atau pun dengan Nabi yang diutus. Dalil dalam perkara ini adalah firman Allah ﷻ:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّــهِ فَلَا تَدْعُـــــوا مَعَ اللَّــهِ أَحَدًا﴾ [الجن: 18] .

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada Allah, juga berdoa kepada yang lainnya,” (QS Al-Jin: 18).

Inti dari prinsip hidup yang satu ini adalah agar manusia itu menjauhi perbuatan syirik. Syirik itu bahasa gampangnya “menyelingkuhi” Allah, menduakan Allah. Kita beribadah kepada Allah, tetapi di saat yang sama kita juga beribadah kepada selain Allah.

Kita berdoa kepada Allah, kita juga berdoa kepada selain Allah, bisa kuburan, pohon, batu besar, atau para pemimpin yang kita agungkan menyamai tingkat pengagungan kita kepada Allah. Kita menyakini bahwa Allah itu Maha Mendengar, lalu di saat yang sama kita juga menyakini bahwa Wali Fulan bisa mendengar kata-kata hati kita meskipun Wali Fulan itu di tempat yang jauh. Nauzubillah.

Jika seseorang tidak rela diselingkuhi, maka bukankah Allah lebih berhak untuk marah apabila diselingkuhi? Suami menyelingkuhi istrinya, urusan ini masih dalam tahap berbuat jahat kepada manusia. Tetapi jika seseorang menyelingkuhi Allah, ini sudah masuk ranah kejahatan kepada Allah.

Bukankah kita masih ingat dengan prinsip yang pertama kemarin:

أَنَّ  اللَّهَ  خَلَقَنَا، وَرَزَقَنَا

“Sesungguhnya Allah yang telah menciptakan kita. Allah pula yang memberi kita rezeki.”

Bukankah ini kejahatan yang luar biasa kepada Allah apabila seseorang itu menyelingkuhi Allah padahal Allah yang telah menciptakan kita dan memberi rezeki kepada kita. Bukankah hati seorang istri itu begitu tersayat-sayat dan tercabik-cabik ketika suami yang dia cintai, dia beri pelayanan, yg anaknya dia kandung dan sang istri harus menyusui, kurang tidur, dan lain sebagainya tetapi sang suami justru main selingkuh dengan wanita lain?

Pun demikian dengan Allah.

أَنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى أَنْ يُشْرَكَ مَعَهُ أَحَدٌ فِي عِبَادَتِهِ، لَا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ  مُرْسَلٌ

Allah tidak ridha apabila Allah diselingkuhi dengan apa pun, baik dengan malaikat maupun para nabi.

Pemirsa yang semoga dirahmati Allah. Paling tidak, bahaya syirik itu ada tiga:

1. Syirik Adalah Dosa Terbesar

Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:

أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ

“Dosa apa yang paling besar menurut Allah?” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ

“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Allah yang menciptakan engkau,” (Sahih Bukhari: 4477).

2. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah, apabila seseorang mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosa syirik yang pernah dia perbuat. Allah mengampuni dosa selain syirik, baik itu dengan “grasi” atau rahmat Allah, maupun dengan seseorang “dicuci” dulu dari suatu dosa dengan dimasukkan ke dalam neraka, lalu setelah bersih kemudian diangkat ke dalam surga. Tetapi orang yang meninggal dunia dalam kondisi belum bertaubat dari dosa syirik, dia kekal abadi di dalam neraka. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

3. Syirik akan menggugurkan semua amal kebaikan kita. Maksudnya, jika seseorang melakukan amal saleh (salat, puasa, zakat, sedekah, atau yang lainnya) selama bertahun-tahun, lalu dia melakukan perbuatan syirik, maka semua amal kebaikan itu menjadi terhapus, gugur, hilang, tidak tersisa, tidak dihitung oleh Allah. Itu jika dia meninggal dunia dalam kondisi belum bertaubat dari dosa syirik tadi. Tetapi jika dia bertaubat, maka sebagian ulama berpendapat pahala amal yg sebelumnya sempat terhapus karena syirik, akan dikembalikan. Allah ta’ala berfirman:

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu (Muhammad) berbuat syirik, sungguh akan terhapus semua amalmu dan sungguh kamu akan menjadi orang rugi. (QS. az-Zumar: 65).

Inilah bahaya syirik. Jadi mari kita tanamkan di dalam hati kita suatu prinsip:

أَنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَى أَنْ يُشْرَكَ مَعَهُ أَحَدٌ فِي عِبَادَتِهِ، لَا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ  مُرْسَلٌ

“Sesungguhnya Allah tidak ridha apabila Allah disekutukan dengan sesuatu apa pun dalam hal peribadatan, baik itu disekutukan dengan malaikat atau pun dengan Nabi yang diutus.”

Sukoharjo, 2 Desember 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)