Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, di antara kesempurnaan ajaran agama Islam adalah adanya seperangkat aturan atau tata krama bagi pemeluknya ketika berjalan, di antaranya adalah tidak boleh ini, itu, dan anu. Apa itu? Teruskan membaca! Bismillah

Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

اِتَّبَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَرَجَ لِحَاجَتِهِ

“Saya pernah mengikuti Nabi ﷺ ketika beliau sedang keluar untuk menunaikan hajatnya.”

فَكَانَ لَا يَلْتَفِتُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ

“Maka beliau berjalan tanpa menoleh, maka akupun mendekat ke beliau.”

فَقَالَ اَبْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا أَوْ نَحْوَهُ وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا رَوْثٍ

“Kemudian Rasulullah ﷺ berkata, ‘Bawakan aku bebatuan untuk beristijmar (membersihkan kotoran di sekitar lubang dubur/kubul dengan memakai batu), atau apa saja selain batu tetapi jangan beri aku tulang atau kotoran hewan (yang sudah mengeras).”

فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ بِطَرَفِ ثِيَابِي

“Maka aku bawakan beliau beberapa batu dengan memakai ujung bajuku.”

فَوَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ وَأَعْرَضْتُ عَنْهُ فَلَمَّا قَضَى أَتْبَعَهُ بِهِنَّ

“Maka aku letakkan batu-batu tadi di sisi beliau, lalu aku menjauh dari beliau. Setelah itu beliau pun beristinja dengan batu-batu tersebut,” (Sahih Bukhari: 155).

Kosa Kata Hadis

Yang dimaksud dengan ‘laa yaltafitu’ adalah tidak menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke belakang tanpa adanya hajat atau keperluan.

Pelajaran Hadis

1. Boleh mendekat dengan orang yang sedang buang hajat apabila dia buang hajatnya dalam kondisi tertutup

2. Hendaknya tidak menoleh ke kiri, kanan, atau belakang ketika berjalan, apabila tidak ada keperluan. Hal ini juga didukung dengan hadis riwayat Imam Al-Hakim dari Jabir Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كان رسول الله ﷺ إذا مشَى لَمْ يَلْتَفِتُ

“Rasulullah ﷺ apabila beliau berjalan, beliau tidak menoleh,” (Mustadrak: 7794. Al-Albani: Sahih).

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Khalid Al-Jauhani mengatakan bahwa “Menoleh di sini maksudnya menoleh ke kanan, kiri, atau belakang (tanpa adanya keperluan).”

3. Disyariatkannya istinja dengan bebatuan atau biasa disebut dengan istijmar

4. Tidak boleh beristinja dengan tulang dan kotoran hewan (baca selengkapnya di artikel berjudul: Larangan Istijmar (peper) dengan Tulang atau Kotoran Hewan)

5. Haram melihat aurat orang lain (baca selengkapnya di artikel berjudul: Dalil Menundukkan Pandangan dari Melihat Aurat Orang Lain)

Referensi:

Sahih Adab al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali

Al-Lalu al-Bahiyatu karya Syaikh Khalid Al-Jauhani

Penerjemah:

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)