Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, pembacaan kitab Adabul Mufrad kita sudah di hadis nomor 48, yang oleh Imam Al-Bukhari diberi judul, “Wajibnya menyambung silaturahim.” Pertemuan sebelumnya sudah kita pelajari bahwa dalam menyambung silaturahim ada urutan prioritas, lalu kali ini, Imam Bukhari menyuguhkan suatu cara lain dalam menyambung silaturahim, selain berkunjung atau memberikan doa atau materi. Apa itu? Teruskan menyimak hingga akhir. Bismillah

Pemirsa yang semoga dirahmati Allah ﷻ, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau mengatakan bahwa ketika turun ayat:

‏وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada sanak kerabat terdekat,” (QS Asy-Syu’ara: 214)

Nabi ﷺ kemudian berdiri dan menyeru:

يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏

“Wahai Bani Ka’ab bin Luay! Selamatkanlah diri kalian dari neraka.”

يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏

“Wahai Bani Abdi Manaf! Selamatkanlah diri kalian dari neraka.”

يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏

“Wahai Bani Hasyim! Selamatkanlah diri kalian dari neraka.”

يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏

“Wahai Bani Abdil Mutalib! Selamatkanlah diri kalian dari neraka.”

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ

“Wahai Fatimah binti Muhammad! Jagalah dirimu dari neraka.”

فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهُمَا بِبِلاَلِهَا

“Sesungguhnya aku ini tidak punya daya apa-apa sama sekali untuk membela kalian semua di hadapan Allah kelak, kecuali bahwa memang aku memiliki hubungan rahim yang dapat aku penuhi sebaik-baiknya di dunia saja,” (Adabul Mufrad: 48).

Pelajaran dari Rassyul Barad

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Muhammad Luqman memberikan beberapa poin pelajaran:

1. Di antara makna menyambung silaturahim adalah memberi peringatan atau nasihat kepada kerabat agar berupaya menghindarkan diri mereka dari neraka. Juga, di antara bentuk menyambung silaturahim adalah mengajak mereka untuk melakukan amal saleh, karena amal saleh yang bisa menjauhkan mereka dari murka dan azab Allah, karena pahala itu hanya diperoleh jika didasari dengan iman dan amal saleh, sedangkan hubungan kekerabatan maupun nasab tidak ada gunanya sama sekali di hari ketika semua mata terbelalak.

2. Hadis ini juga menjadi bantahan bagi orang-orang yang memiliki akidah yang rusak, yang menyebar di kalangan orang-orang jahil dan ahli bid’ah, bahwa Rasulullah ﷺ bisa memberi syafaat dan perantara kebaikan di sisi Allah, yang dengan wasilah tersebut bisa menjadikan seseorang bisa masuk surga tanpa harus melakukan amal saleh dan ibadah.

3. Pihak yang pertama kali menjadi obyek dakwah para dai seharusnya adalah keluarga mereka, kemudian trah keluarga besar mereka, kemudian orang-orang terdekat mereka setelah itu.

Sukoharjo, 16 Desember 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)