Irfan Nugroho
Cita-cita yang paling tinggi bagi seorang Muslim sepertimu adalah masuk
surga, karena Allah hanya memberi dua pilihan “segolongan masuk Surga
dan segolongan masuk neraka” (Asy-Syura: 7)?

Maka aku pun berharap engkau masih ingat dengan metode manusia meninggal
dunia, yakni dengan metode ‘khusnul khatimah’ atau mati dengan metode
‘su’ul khatimah.

Jika akhir hayatmu adalah sebuah “happy-ending” (khusnul khatimah), maka
insyallah cita-citamu masuk surga adalah sebuah kepastian.

Namun jikalah engkau berakhir dengan sebuah kemaksiatan (su’ul
khatimah), ingatlah nak hidup ini hanya sekali dan kita semua musti
berlindung dari mati dalam keadaan su’ul khatimah.

Dalam keadaan seperti apa engkau akan mati kelak, nak? Sudahkah terbesit
dibenakmu jika engkau meninggal saat ini? Khusnul khatimah, kah? Atau
Su’ul khatimah, kah?

Setahu aku, Imam Hakim dan Abu Dawud pernah meriwayatkan sebuah pesan
dari Rasulullah 1500 tahun yang lalu yangmana bunyi pesan tersebut
adalah, “Barangsiapa yang akhir ucapannya ‘laa ilaa ha ilallah’ pasti ia
masuk surga.”

Dan inilah salah satu tanda bahwa seseorang meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.

Oleh karena itu, Rasulullah pun juga berpesan kepada kita untuk
membimbing seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat
syahadat “Laa ilaa ha ilallah, wa ash hadu anna Muhammad rasulullah”
(Riwayat Imam Muslim).

Mungkin engkau akan berkata, “Aah mudah…!”

Nak, seorang yang berilmu pun, entah laki-laki yang shalih maupun wanita
yang shalihah, bisa kebingungan pada saat-saat menjelang kematian
lantaran iblis laknatullah lebih gencar menyesatkan manusia pada
saat-saat ini (Hadist dha’if riwayat Abu Nau’aim – meski dhaif tapi
secara makna tidak bertentangan dengan perkataan-perkataan para salaf).

Jika seorang shalih pun bisa kebingungan atau merasa berat untuk
mengucapkan kalimat “laa ila ha ilallah” maka apa lagi mereka yang
jarang menggunakan lidah dan mulut mereka untuk berdzikir kepada Allah.

Seandainya mulutmu dan lidahmu kau gunakan untuk senantiasa melantunkan
lagu-lagu Justin Beiber dan meninggalkan lantunan Quran dan dzikir, maka
bisa jadi lirik lagu Justin Beiber-lah yang akan terucap olehmu, di
akhir hayatmu.

Jika engkau pencinta Sm*sh dan senantiasa ‘tadarus’ lagu-lagu Sm*sh
sampai-sampai Quranmu hanya sekedar pajangan almari, bisa jadi ‘dzikir’
cenat-cenut-lah yang akan kau ucapkan di masa sakaratul mautmu.

Ketahuilah bahwa berdzikir “Laa ila ha ilallah wah dahula syarikalah;
lahul mulku walahul hamdu wa huwa ala kulli syai in qadir” sebanyak 10
kali di pagi dan sore hari (HR Imam Nasa’i) adalah lebih baik daripada
berdzikir “cenat-cenut” ala Sm*sh.

Ketahui pula bahwa melantunkan ayat-ayat Al-Quran adalah jauh lebih baik
daripada ‘tadarus’ dengan lagu Superman Is Dead, Avenged Sevenfold,
Justin Beiber, atau Sm*sh, nak…

Jika kau enggan ‘menyanyi’ Al-Quran, paling tidak hanya dengan
mendengarkan lantunan Al-Quran dari hape atau MP3 player-mu itu jauh
lebih baik daripada menyumbat telingamu dengan ‘dzikir-dzikir’ syaithan.

Kini semua ada di benakmu. Bagaimana kau mati kelak, nak? Mampukah kau ucapkan “Laa ila ha ilallah” dan khusnul khatimah?

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah
kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha
pemberi (karunia),” (Ali-Imran: 8). (20 Dzulqa’dah 1432 H).