Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, di antara tuntunan Islam yang paling mulia adalah diwajibkannya seseorang untuk menyambung hubungan karena satu rahim atau biasa disebut dengan satu rahim. Kali ini yg akan kita bahas adalah urutan silaturahim yang wajib disambung. Siapa yang nomor pertama? Apa dalilnya? Bagaimana penjelasan ulama tentang hal ini? Teruskan membaca! Bismillah.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, Imam Al-Bukhari menulis suatu riwayat di dalam kitabnya Adabul Mufrad dari Kulaib bin Manfa’ah yang mengatakan bahwa kakeknya berkata kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَبَرُّ‏؟‏

“Wahai Rasulullah, kepada siapa saya harus berbakti?”

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

أُمَّكَ وَأَبَاكَ، وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، وَمَوْلاَكَ الَّذِي يَلِي ذَاكَ، حَقٌّ وَاجِبٌ، وَرَحِمٌ مَوْصُولَةٌ‏.

“Ibumu, kemudian ayahmu, kemudian saudarimu, kemudian saudaramu. Lalu keluarga yang terdekat. Yang demikian itu adalah hak yang wajib. Mereka memiliki hubungan rahim denganmu yang wajib disambung,” (Adabul Mufrad: 47).

Penjelasan dari Rassyul Barad

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Dr. Muhammad Luqman menulis sebagai berikut:

1. Pemakaian “wawu” di dalam redaksi hadis maknanya “tsumma” atau kemudian (bukan “dan”). Jadi sifatnya urutan.

2. “Maulaka” artinya kerabat Anda, yaitu kerabat yang paling dekat dengan Anda.

3. “Rahimun mausulatun” artinya kerabat yang wajib disambung (hubungan kekerabatannya), dan haram untuk memutuskan hubungan kekerabatan dengannya.

4. Memuliakan kerabat atau sanak famili itu berbeda-beda tingkatannya, bukan satu level sama rata. 1) Ibu, 2) Ayah, 3) Saudara perempuan, 4) Saudara laki-laki, 5) Kerabat terdekat.

5. Alhasil, tiap-tiap kerabat memiliki hak-hak yang bertingkat-tingkat; maka yang disebut adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

6. Di dalam hadis ini terdapat wasiat kepada seluruh manusia untuk berbuat baik kepada seluruh sanak kerabat, sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ, “Kerabat terdekat.”

Penjelasan Dr. Adil Salahi

Menjelaskan hadis ini, Dr. Adil Salahi menulis sebagai berikut:

Hadis ini memberi kita urutan yang jelas tentang kerabat yang memiliki klaim paling kuat terhadap kita. Para pensyarah hadis menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ menggunakan konjungsi “wa”, tetapi kata tersebut menunjukkan urutan prioritas. Klaim seorang ibu (terhadap kita untuk memenuhi haknya) lebih didahulukan daripada ayah, pun demikian dengan klaim seorang saudara wanita daripada saudara laki-laki.

Sebelumnya telah kami jelaskan panjang lebar tentang hak orang tua untuk menerima perlakuan baik dari anak-anaknya. Maka masuk akal pula jika mereka memiliki hak yang paling kuat dari kita jika dilihat dari sudut pandang perintah untuk menjalin tali silaturahim, karena tidak ada yang lebih dekat kepada seseorang daripada orang tuanya sendiri.

Hadis ini, juga hadis-hadis lainnya, yang berbicara tentang silaturahim menjelaskan kepada kita bahwa kerabat lainnya juga memiliki hak dari kita untuk mendapatkan kasih sayang dan bantuan materiil. Itulah mengapa saudara wanita dan saudara laki-laki lebih didahulukan daripada kerabat yang lainnya.

Mengapa? Karena mereka secara khusus disebutkan oleh Nabi ﷺ sebagai salah satu pihak yang memiliki hak terbesar dari kita. Kerabat lainnya menyusul dan berdasarkan tingkat hubungan kekerabatannya.

Perlu kita catat di sini bahwa Nabi ﷺ menyebutkan ibu sebelum ayah, lalu menyebut saudari sebelum saudara. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa wanita wajib mendapat perhatian dan perawatan dari saudaranya yang laki-laki. Di kehidupan sehari-hari, seorang perempuan lebih membutuhkan bantuan dari saudaranya yang laki-laki. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mendahulukan saudara perempuan daripada saudara laki-laki. Hal ini berlaku di semua aspek kekerabatan. Saudara perempuan lebih didahulukan daripada saudara laki-laki dalam besar-kecilnya hak untuk menerima bantuan dan kebaikan.

Sukoharjo, 6 Desember 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)