Di antara adab seorang muslim ketika hari Jumat adalah memakai pakaian yang paling indah ketika menghadiri salat Jumat, demikian tulis syekh Wahid abdussalam Bali di dalam kitabnya shahihul adab al islamyah.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang Hasan dari Abu Sa’id al-Khudri juga Abu Hurairah semoga Allah meridhoi keduanya yang mana keduanya mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ واشتاك وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَلَمْ يَتَخَطَّ أَعْنَاقَ النَّاسِ ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ جُمُعَتِهِ الَّتِي قَبْلَهَا

“Barang siapa mandi di hari Jumat lalu bersiwak,[1] kemudian memakai pakaiannya yang paling bagus, kemudian memakai parfum, kemudian dia mendatangi salat Jumat,[2] kemudian dia tidak memutus pundak-pundak manusia,[3] kemudian dia melakukan salat,[4] maka tidaklah Allah mencatat baginya jika dia diam[5] ketika imam keluar[6] sampai selesai salat[7] kecuali diampuni dosanya[8] antara Jumat tersebut dengan Jumat sebelumnya,” [Sunan Abu Dawud: 343].

PENJELASAN

[1] Sabda beliau, “lalu bersiwak” maksudnya membersihkan gigi dengan siwak atau sikat gigi.

[2] Sabda beliau, “kemudian kemudian dia mendatangi salat Jumat” maksudnya ke masjid.

[3] Sabda beliau, “kemudian dia tidak memutus pundak-pundak manusia” maksudnya melewati atau melangkahi

[4] Sabda beliau, “kemudian dia melakukan salat” maksudnya salat Sunnah yang jumlahnya sebanyak yang dia mau, jumlah minimalnya dua rekaat tahiyatul masjid.

[5] Sabda beliau, “jika dia diam” maksudnya dia dalam rangka mendengarkan khutbah.

[6] Sabda beliau, “ketika imam keluar” maksudnya ketika khatib/imam naik ke mimbar.

[7] Sabda beliau, “sampai selesai salat” maksudnya hingga khutbah dan salat Jumat itu selesai.

[8] Sabda beliau, “kecuali diampuni dosanya” maksudnya semua rangkaian amalan di atas adalah kafarah atau penebus dosa.

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL

Ketika mensyarah hadis ini, Syaikh Khalid Al-Jauhani menyuguhkan beberapa pelajaran:

 

۱ – استحباب الغسل يوم الجمعة .

۲ – استحباب التسوك ووضع الطيب ولبس أحسن الثياب يوم الجمعة .

3- كراهة تخطي الرقاب يوم الجمعة .

4 – التنفل قبل الجمعة لا حد له .

ه – من تكلم والإمام يخطب لم يحصل على الأجر المذكور في الحديث .

6 – عظيم رحمة الله وإحسانه بهذه الأمة حيث جعل لهم من الأعمال القليلة أجورا عظيمة .

۷ – تقرير قاعدة : لا تكليف إلا بمقدور

 

1. Hukumnya mustahab atau Sunnah untuk mandi di hari Jumat.

2. Hukumnya mustahab atau Sunnah untuk bersiwak, memakai parfum, juga memakai pakaian yg paling baik di hari Jumat.

3. Makruh hukumnya untuk memutus atau melangkahi pundak manusia ketika Jumatan.

4. At-Tanaful atau Salat Sunnah sebelum Jumatan itu tidak ada batasan jumlah rekaatnya.

5. Siapa saja yg berbicara ketika imam sedang berkhutbah, maka dia tidak mendapat pahala (berupa ampunan dosa) seperti yang disebutkan di dalam hadis.

6. Agungnya Rahmat Allah, juga kebaikanNya, kepada hambaNya, yaitu dengan dijadikannya amal-amal yg ringan, tetapi pahalanya buesar.

7. Penetapan adanya kaidah:

لا تكليف إلا بمقدور

Arti: Perbuatan dalam hukum taklifi selalu berada dalam batas kemampuan seorang mukallaf.”

SUMBER:

– Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali

– Al-La-ali Al-Bahiyyatu karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani

Diterjemahkan oleh Irfan Nugroho (Semoga Allah menjaganya, mengampuni dosanya dan orang tua serta keluarganya, serta semoga Allah karuniakan kepadanya anak-anak yg kelak menjadi ulama. Aamiin)