Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, apa yang dimaksud dengan orang bertakwa? Lalu apa karakter orang yang bertaqwa? Berikut adalah penjelasan dari Syaikh Khalid bin Abdurrahman Al-Husainan, dari kitab Hakadza Kanash Shalihun. Teruskan membaca!

Makna Takwa

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa,” (QS At-Taubah: 4).

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan,

إن الله يحب من اتقاه بطاعته، بأداء فرائضه واجتناب معاصيه قال تعالى: (واعلموا أن الله مع المتقين)

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertakwa kepadaNya dengan menaatiNya, yakni menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat kepadNya. Allah ta’ala berfirman, ‘Dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa,’ (QS At-Taubah: 36).

Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma berkata,

يريد أنه تعالى مع أوليائه الذين يخافونه فيما كلفهم من أمره ونهيه

“Maksudnya, Dia menyertai wali-waliNya yang merasa takut kepadaNya terkait perintah maupun laranganNya yang Dia bebankan kepada mereka.”

Ath-Thabari rahimahullah berkata,

وأيقنوا، عند قتالكم إياهم، أن الله معكم، وهو ناصركم عليهم، فإن اتقيتم الله وخفتموه بأداء فرائضه واجتناب معاصيه، فإن الله ناصر من اتقاه ومعينه

“Yakinlah ketika kalian memerangi mereka (orang-orang kafir), bahwa Allah bersama kalian, Dia akan menolong kalian mengalahkan mereka. Jika kalian bertakwa kepada Allah dan takut kepadaNya dengan menunaikan kewajiban-kewajibanNya dan menjauhi kedurhakaan-kedurhakaan kepadaNya. Sungguh, Allah menolong dan membantu orang yang bertakwa kepadaNya.”

 

Rasulullah ﷺ bersabda,

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

“Sesungguhnya ada sekerat daging di dalam tubuh, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Apabila ia rusak, rusak pula seluruh tubuhNya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati,” (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim).

Ditanyakan kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Apa itu takwa?” Beliau menjawab, “Apakah engkau pernah lewat di tanah yang berduri?” Seseorang itu menjawab, “Ya.” Maka Abu Hurairah berkata, “Bagaimana sikapmu?” Dia berkata, “Aku berhati-hati.” Abu Hurairah berkata:

فتوق الخطايا

“Jadi, berhati-hatilah pada kesalahan-kesalahan.”

Hakikat Takwa

Tentang hakikat taqwa, Rasulullah ﷺ bersabda:

لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لا بأس به حذرًا لما به بأسُ

“Seorang hamba belum mencapai tingkatan orang-orang bertakwa hingga dia meninggalkan sesuatu yang tidak berbahaya karena khawatir ada bahaya (dosa),” (Jami At-Tirmizi).

Tempat Takwa

Dimana takwa itu berada? Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

الأصل في التقوى والفجور هي القلوب، فإذا بر القلب واتقى برت الجوارح، وإذا فجر القلب فجرت الجوارح

“Pangkal takwa dan dosa adalah hati. Apabila hati baik dan bertakwa, baiklah organ-organ tubuh. Apabila hati menyimpang, menyimpanglah organ-organ tubuh.”

Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

أيما أحب إليك رجل قليل الذنوب قليل العمل، أو رجل كثير الذنوب كثير العمل؟

“Mana yang lebih engkau sukai, orang dengan sedikit dosa dan sedikit amal, atau orang yang banyak dosa dan banyak amal?” Ibnu Abbas berkata:

لا أعدل بالسلامة شيئا

“Aku menilai keduanya tidak selamat.”

Kriteria Orang Bertakwa

  1. Mereka mengakui kebenaran sebelum diajukan saksi, mereka mengetahuinya dan melaksanakannya. Mereka mengingkari kebatilah, menjauhinya dan takut kepada Rab yang Maha Agung, yang tak ada sesuatu pun tersembunyi dariNya.
  2. Orang bertakwa itu mengamalkan kitab Allah. Mereka mengharamkan apa yang Dia haramkan, dan menghalalkan apa yang Dia halalkan.
  3. Tidak mengkhianati amanah, tidak mendurhakai orang tua, tidak memutus silaturahmi, tidak meresahkan tetangga, dan tidak menyakiti saudara-saudara mereka. Sebaliknya, mereka menyambung orang yang memutus hubungan dengan mereka.
  4. Mereka memberi orang yang pelit kepada mereka dan memaafkan orang yang menzalimi mereka.
  5. Kebaikan mereka diharapkan dan orang lain merasa aman dari kejahatan mereka.
  6. Mereka tidak suka membicarakan keburukan orang lain, tidak berdusta, tidak bersifat munafik, tidak mengadu domba dan tidak hasad.
  7. Mereka tidak riya, tidak melakukan praktik riba, dan tidak memfitnah orang lain.
  8. Mereka takut kepada Rab walau tidak melihatNya, dan mereka juga merasa takut dengan kedatangan hari kiamat.

Wallahu’alam bish shawwab