Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, pada pertemuan sebelumnya sudah kita pelajari bahwa seorang muslim tidak boleh menganggap dirinya suci, sudah bertakwa, atau memuji diri sendiri karena kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan. Anda bisa membacanya di sini. Lalu ternyata dalam hal ini ada pengecualian, bahwa seorang muslim boleh menyebut kebaikan yang pernah dia lakukan apabila dia dalam kondisi tertentu. Apa itu? Teruskan membaca!

Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah di dalam Sahihul Adab Al-Islamiyah menulis:

إِلَّا إِذَا اُتُّهِمَ ظُلْمًا وَاحْتَاجَ إِلَى تَزْكِيَةِ نَفْسِهِ فَلَا بَأْسَ

“Kecuali jika dia dituduh secara keliru, dan dia harus menyucikan dirinya sendiri (dari tuduhan-tuduhan itu), maka tidak masalah.”

Imam At-Tirmizi meriwayatkan suatu hadis beliau sendiri menilainya sebagai hadis Hasan Sahih dari Abu Abdirrahman As-Sulami yang mengatakan bahwa ketika Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu dikepung oleh orang-orang yang terkena fitnah, beliau menemui orang-orang tersebut dari atas rumahnya. Kemudian beliau berkata:

أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ حِرَاءَ حِينَ انْتَفَضَ

“Aku ingatkan kalian dengan Asma Allah, apakah kalian tahu ketika Gua Hira berguncang.”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اثْبُتْ حِرَاءُ فَلَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ

“Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tenanglah Hira. Yang di atasmu ini tidak lain tidak bukan adalah seorang Nabi, Sidiq (Abu Bakar Radhiyallahu Anhu), dan Syahid (Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu).

Kemudian orang-orang yang mengepung kediaman Ustman menjawab, “Iya. (Mereka ingat)”.

Kemudian Ustman Radhiyallahu Anhu berkata lagi:

أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي جَيْشِ الْعُسْرَةِ

“Aku ingatkan kalian dengan Asma Allah, apakah kalian tahu bahwa di hadapan Pasukan Al-Usrah (menjelang Perang Tabuk) Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُنْفِقُ نَفَقَةً مُتَقَبَّلَةً

“Siapa saja yang berinfak, infaknya itu mutaqabalah (akan diterima oleh Allah ta’ala).”

Kemudian Ustman melanjutkan kata-katanya:

وَالنَّاسُ مُجْهَدُونَ مُعْسِرُونَ فَجَهَّزْتُ ذَلِكَ الْجَيْشَ

“Padahal waktu itu manusia sedang bersusah payah dan sengsara. Maka aku pula yang mempersiapkan perbekalan untuk pasukan tersebut.”

Kemudian orang-orang itu berkata, “Iya (Mereka ingat.”

Kemudian Ustman berkata:

أُذَكِّرُكُمْ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ بِئْرَ رُومَةَ لَمْ يَكُنْ يَشْرَبُ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا بِثَمَنٍ فَابْتَعْتُهَا فَجَعَلْتُهَا لِلْغَنِيِّ وَالْفَقِيرِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Aku ingatkan kalian dengan Asma Allah, tahukah kalian bahwa tidak ada yang bisa minum air dari Sumur Ruumah kecuali harus membayar dengan harga yang mahal. Kemudian aku membeli sumur tersebut, lalu aku pula yang menjadikannya gratis untuk orang kaya, orang fakir, dan orang-orang yang dalam perjalanan.”

Orang-orang yang mengepung rumah Ustman kemudian berkata:

اللَّهُمَّ نَعَمْ

“Demi Allah, apa yang Anda katakan itu benar.”

Abu Abdurrahman As-Sulami, periwayat hadis ini, berkata, “Ustman kemudian menyebut beberapa kemuliaan beliau yang lainnya,” (Sunan At-Tirmizi: 3699).

Di dalam riwayat lain dari Tsumamah, juga di dalam Sunan At-Tirmizi, disebutkan bahwa Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata:

أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ وَالْإِسْلَامِ هَلْ تَعْلَمُونَ أَنَّ الْمَسْجِدَ ضَاقَ بِأَهْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَشْتَرِي بُقْعَةَ آلِ فُلَانٍ فَيَزِيدَهَا فِي الْمَسْجِدِ بِخَيْرٍ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ

“Aku ingatkan kalian dengan Asma Allah, apakah kalian tahu bahwa waktu itu masjid sudah sesak dengan penghuninya. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Siapa saja yang membeli tanah milik keluarga Fulan, lalu menambahkannya ke dalam kompleks masjid ini, maka dengan kebaikannya itu dia akan masuk surga?”

Mereka pun menjawab, “Demi Allah, iya apa yang Anda katakan itu benar.” Kemudian Ustman bin Affan radhiyallahu anhu berkata:

فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَأَنْتُمْ الْيَوْمَ تَمْنَعُونِي أَنْ أُصَلِّيَ فِيهَا رَكْعَتَيْنِ

“Maka aku beli tanah tersebut dengan hartaku sendiri, tetapi kalian hari ini justru melarang aku untuk melakukan salat dua rekaat di dalamnya,” (Sunan At-Tirmizi: 3703. Musnad Ahmad: 555. Al-Albani: Hasan).

PENJELASAN

Sahabat mulia Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu mengalami ujian yang sangat berat dengan mendapat tuduhan telah membuat surat yang berisi perintah untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar dan dua orang lainnya. Muhammad bin Abu Bakar adalah gubernur baru di Mesir, dan surat tersebut adalah palsu, bukan tulisan resmi sahabat Ustman bin Affan, meskipun di situ terdapat cincin stempel Ustman bin Affan.

Setelah melihat surat tersebut, beberapa pemberontak mengepung rumah Ustman bin Affan. Parahnya, mereka sampai menghentikan aliran air ke rumah Ustman bin Affan, padahal air itu berasal dari Sumur Ruumah yang dulu dibeli oleh Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu. Beliau dikepung oleh banyak orang yang termakan hasutan dan fitnah jahat dari orang yang tidak suka dengan kepemimpinan Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

Akhirnya, mereka menjebol rumah Ustman bin Affan dan salah seorang pemberontak menikam Ustman bin Affan. Bahkan jari jemari istri Ustman bin Affan, yaitu Na’ilah, juga dipotong ketika hendak membela suaminya. Jenggot Ustman ditarik oleh para pemberontak yang kemudian membunuh beliau ketika Mushaf Ustman itu berada di genggamannya.

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini di antaranya:

مَشْرُوعِيَّةُ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ عِنْدَ الْحَاجَةِ إِلَيْهَا.

Disyariatkannya membela diri atau menyebut kebaikan diri sendiri jika memang perlu untuk melakukan hal itu, khususnya ketika diri sedang dituduh dengan tuduhan yang tidak benar.

فِي الْحَدِيثِ مُعْجِزَةٌ مِنْ مُعْجِزَاتِ النَّبِيِّ.

“DI dalam hadis ini ada keterangan tentang salah satu mukjizat Nabi ﷺ.”

فَضْلُ أَبِي بَكْرٍ وَعُثْمَانَ.

“Di dalam hadis ini terdapat keterangan tentang keutamaan Abu Bakar dan Ustman Radhiyallahu Anhuma”

قَدْ يُطَّلِعُ اللَّهُ عُزُوجَلَ أَحَدَ أَنْبِيَائِهِ عَلَى بَعْضِ الْغَيْبِ.

“Allah azza wa jalla bisa saja menampakkan kepada salah satu NabiNya tentang hal-hal yang gaib.”

الْحَثّ عَلَى التَّثَبُّتِ قَبْلَ إِلْقَاءِ التُّهَمِ عَلَى النَّاسِ.

“Di dalam hadis ini terdapat anjuran untuk melakukan klarifikasi sebelum melemparkan tuduhan kepada manusia.”

Kitab: Al-Laali Al-Bahiyyatu, Syarah Sahihul Adab Al-Islamiyah

Karya: Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar PPTQ At-Taqwa Sukoharjo)