Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, di antara adab seorang muslim ketika berbicara adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai sosok yang suci, selalu benar, sedang orang lain salah, karena kebenaran adalah milik Allah, dan manusia adalah tempatnya lupa dan salah.

Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah mendasarkan pendapat ini pada firman Allah ta’ala:

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (QS An-Najm: 32).

Juga didasarkan pada firman Allah ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ ٱللَّهُ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun,” (QS An Nisa: 49).

Juga disebutkan di dalam Ash-Shahihain dari Abi Bakrah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَثْنَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ

“Ada seorang laki-laki yang menyanjung kebaikan laki-laki di depan Nabi ﷺ, maka beliau ﷺ bersabda:

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ أَخِيكَ ثَلَاثًا

“Celakalah kamu! Kamu telah memenggal leher saudaramu! (Beliau ﷺ mengulangi ungkapan tersebut hingga tiga kali)

Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا إِنْ كَانَ يَعْلَمُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji temannya, hendaknya dia mengucapkan, ‘Aku menilai fulan seperti ini dan seperti itu, tetapi Allah yang menilai si fulan tersebut.’ Seseorang tidak boleh menyucikan orang lain di hadapan Allah, meskipun dia mengenalnya,” (Sahih Bukhari: 6162. Sahih Muslim: 3000).

PENJELASAN

Yang dimaksud dengan, “Janganlah kamu mengatakan dirimu suci,” adalah:

فلا تمدحوها على سبيل الفخر والإِعجاب

“Jangan memuji dirimu sendiri karena kesombongan dan kekaguman,” (Aisarut Tafasir).

Yang dimaksud dengan, “Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya” adalah:

يطهر من الذنوب من يشاء من عباده بتوفيقه للعمل بما يزكي النفس

“Allah akan menyucikan dosa-dosa para hambaNya sesuai dengan kehendak Allah, yaitu dengan cara memberikan taufik kepada hamba-hambaNya tersebut untuk melakukan amalan yang dengan amalan tersebut mereka bisa menyucikan diri,” (Aisarut Tafasir).

Yang dimaksud dengan, ‘Aku menilai fulan seperti ini dan seperti itu, tetapi Allah yang menilai si fulan tersebut” adalah “Aku mengira atau berprasangka bahwa fulan itu seperti ini dan seperti itu, tetapi sejatinya, hanya Allah yang akan menghisab atau menilai orang tersebut berdasarkan amalannya.”

Yang dimaksud dengan “Seseorang tidak boleh menyucikan orang lain di hadapan Allah” adalah:

لَا أشهد على الله بِالْجَزْمِ أَنه عِنْد الله كَذَا وَكَذَا لِأَنِّي لَا أعرف بَاطِنه، أَي: لَا أقطع بِهِ لِأَن عَاقِبَة أمره لَا يعلمهَا إلاَّ الله

“Aku tidak bersaksi di atas Allah dengan meyakini bahwa si fulan itu baik seperti ini dan seperti itu, karena aku tidak tahu batin si fulan itu seperti apa. Saya tidak memastikan hal itu karena akibat atau kesudahan orang tersebut hanya diketahui oleh Allah,” (Umdatul Qari).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat dan hadis tentang larangan menganggap diri sendiri sebagai sosok yang suci dan selalu benar, menurut Syaikh Khalid Al-Juhani adalah:

Haramnya menyucikan diri sendiri, yaitu dengan memuji dan memberi kesaksian atas dirinya sendiri, bahwa dirinya itu orang yang baik, memiliki keutamaan dan kesempurnaan.

Sempurnanya keadilan Allah ta’ala, yaitu bahwa Allah tidak menzalimi satu orang pun, meskipun untuk hal-hal yang sepele, Allah tidak pernah zalim kepada siapa pun.

Tidak disyariatkan atau tidak boleh seseorang menganggap orang lain suci ketika orang itu hadir di hadapannya.

Disyariatkannya untuk mengucapkan apa yang tercantum di dalam hadis Abi Bakrah apabila memang seseorang harus memuji kebaikan orang lain.

Kita hanya bisa menilai manusia secara zahirnya saja, sedang apa yang tidak terlihat oleh kita, itu urusan Allah.

Kitab: Al-La-ali Al-Bahiyyatu, Syarah Sahihul Adab Al-Islamiyah

Karya: Syaikh Khalid Al-Juhani hafizahullah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)