Oleh Sheikh Abu
Bakar Jabir Al-Jazairi
1. Syarat Menjadi
Imam
Syarat-syarat
seorang imam yaitu, laki-laki, adil, dan fakih. Dengan demikian, tidak sah
perempuan menjadi imam bagi laki-laki. Demikian juga, tidak sah imam orang
fasik yang dikenal dengan kefasikannya kecuali dia seorang raja yang ditakuti.
Demikian juga,
tidak sah imam orang bodoh yang tidak bisa membaca dan menulis kecuali dia
mengimami orang yang semisalnya. Karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لاَ تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلاً وَلاَ يَؤُمَّنَّ
أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا وَلاَ يَؤُمَّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا إِلاَّ أَنْ يَقْهَرَهُ
بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ
“Janganlah
seorang wanita menjadi imam bagi para lelaki, jangan pula seorang Badui menjadi
imam bagi para Muhajirin, jangan pula orang yang fajir menjadi imam bagi orang
yang beriman, kecuali dia dipaksa seseorang dengan kekuasaannya, atau dia takut
dengan cemeti atau pedangnya,” (HR Ibnu Majah: 1081. Dhaif, tetapi
jumhur ulama mengamalkannya).
Adapun
seorang imam perempuan terbatas hanya untuk keluarganya, seperti para perempuan
dan anak-anak. Sebagaimana perihal imam orang fasik terbatas hanya untuk ketika
kondisi-kondisi terpaksa.
2. Orang
yang lebih berhak menjadi imam
Orang
yang lebih utama menjadi imam adalah yang paling fasih bacaannya dan paling
banyak hafalan Qurannya. Kemudian, yang paling paham tentang agama Allah
(Islam), kemudian yang paling bertakwa, kemudian yang lebih tua usianya.
Hal ini
didsarkan pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
يَؤُمُّ
الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ
كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ
كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلاَ
يُؤَمُّ الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ وَلاَ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يُجْلَسُ عَلَى
تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Hendaklah
orang yang paling banyak hafalan Qurannya dan fasih bacaannya yang menjadi imam
bagi orang banyak. Jika dalam hal itu mereka sama, maka hendaklah yang paling
paham tentang sunnah. Jika dalam hal sunnah mereka sama, maka hendaklah yang
paling dahulu berhijrah. Jika dalam hal hijrah mereka sama, maka hendaklah yang
lebih tua usianya,” (HR Abu Dawud: 582, Ahmad, 3: 163, dan An-Nasai, 2: 76).
Di dalam
riwayat lain disebutkan dengan redaksi, “yang paling dahulu masuk Islam.”
Selama orang itu bukan seorang raja atau pemilik rumah, maka dia lebih utama
menjadi imam dari yang lainnya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam:
لاَ
يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا سُلْطَانِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Janganlah
seseorang mengimami orang lain di dalam rumahnya atau di dalam kekuasaannya
kecuali dengan seizinnya,” (HR Muslim: 673a).
3. Imam anak kecil (belum baligh)
Anak kecil sah menjadi imam pada shalat
sunnah, bukan pada shalat fardhu karena orang yang mengerjakan shalat fardhu
itu tidak boleh shalat di belakan orang yang mengerjakan shalat sunnah. Shalat
seorang anak kecil adalah sunnah (dihukumi sebagai sunnah), maka tidak sah anak
kecil menjadi imam pada shalat fardhu berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam:
لَا تَحْتَلِفُوا عَلَى إِمَامِكُمْ
“Janganlah kalian shalat menyelisihi imam
kalian,” (Telah ditakhrij sebelumnya).
Sebagian dari perselisihan para ulama
terhadap maksud dalam hadist tersebut antara orang yang mengerjakan shalat
fardhu di belakan orang yang mengerjakan shalat sunnah.
Dalam masalah ini, Imam Syafi’i
Rahimahullah berbeda pendapat dengan jumhur ulama. Beliau berpendapat boleh
anak kecil mengimami shalat fardhu, berdasarkan dalil riwayat Amru bin Salamah
yang menyebutkan bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada
kaumnya:
يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ
“Hendaklah orang yang paling banyak hafalannya
itu mengimami kalian.”
Amru bin Salamah berkata, “Maka aku
mengimami mereka dan ketika itu aku berumur tujuh tahun,” (HR Abu Dawud: 585).
Hanya saja, jumhur ulama mendhaifkan
riwayat hadist tersebut dan mereka mengatakan, “Untuk kebenaran riwayat
tersebut masih mengandung penafsiran dan mungkin juga Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam tidak mengetahui Amru mengimami kaumnya karena ketika itu mereka
berada di padang sahara yang jauh dari Madinah.”
4. Imam perempuan
Seorang perempuan sah menjadi imam bagi
wanita lain, dan dia berdiri di tengah-tengah mereka karena Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam telah mengizinkan Ummu Waraqah binti Naufal mengambil seorang
muazin laki-laki pribadi di rumahnya agar dia (Ummu Waraqah) mengimami anggota
keluarganya,” (HR Abu Dawud: 591).
5. Imam orang buta
Orang yang buta tetap sah menjadi imam
karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah meminta Ibnu Ummi Maktum dua
kali untuk menggantikan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah, dan Ibnu
Ummi Maktum ketika itu mengimami jamaah padahal dia dalam keadaan buta,” (HR
Abu Dawud: 595
).
6. Imam orang yang kurang afdhal (kurang
utama)
Orang yang kurang afdhal itu sah untuk
menjadi imam meskipun ada yang lebih afdhal daripadanya karena Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam pernah shalat di belakang Abu Bakar Radhiyallahuanhu dan
Abdurahman bin Aur Radhiyallahuanhu padahal beliau lebih afdhal daripada mereka
berdua dan semua makhluk, (Disebutkan oleh Imam Al-Haitsam dalam Majma’uz
Zawaid, 9: 46, 181).
7. Imam orang yang bertayamum
Orang yang bertayamum tetap sah menjadi
imam bagi orang yang berwudhu karena Amru bin Ash Radhiyallahuanhu pernah
mengimami sejumlah pasukan tentara padahal beliau ketika itu bersuci dengan
tayamum sedangkan yang lainnya berwudhu. Hal itu lalu diadukan kepada
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau tidak memungkirinya, (HR
Abu Dawud. Shahih
).
8. Imam orang yang sedang bepergian
(musafir)
Orang yang sedang bepergian jauh tetap sah
menjadi imam. Hanya saja, orang yang bermukim apabila shalat di belakang
musafir maka dia wajib menyempurnakan shalatnya setelah imam salam, karena
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengimami penduduk Mekkah sedangkan
beliau ketika itu sedang bepergian, dan beliau bersabda kepada mereka:
يَا أَهْلَ مَكَّةَ
أَتِمُّوْا صَلَاتَكُمْ فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ
“Wahai
penduduk Mekkah! Sempurnakanlah shalat kalian karena sesungguhnya kami ini
orang-orang yang sedang melakukan perjalanan,” (HR At-Thabrani dalam Mu’jamul
Kabiir, 8: 209 dan Al-Baihaqi dalam Assunanul Kubra, 3: 126
).
Jika
musafir itu shalat di belakang orang yang bermukim, maka dia menyempurnakan
shalatnya bersama-sama karena Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu pernah ditanya
tentang menyempurnakan shalat (musafir) di belakang orang yang bermukim. Pada
saat itu beliau menjawab, “Itu sunnah Abul Qassim (Nabi Muhammad Shalallahu
‘Alaihi Wasallam),” (HR Muslim: 688).

Bersambung…