Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Imam Abu Syuja Asy-Syafii, di dalam kitab kecilnya At-Taqrib wal Goyah berkata, “Syarat wajib berpuasa ada tiga, 1) Islam, 2) baligh, dan 3) berakal. Artinya, orang yang memenuhi tiga syarat tersebut, dia terkena kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al Baqarah 185).

Puasa adalah perintah langsung dari Allah, bukan sekedar perintah bos-bos kita, bukan sekadar perintah atasan-atasan kita. Tetapi puasa adalah perintah dari Allah, atasan dari semua atasan-atasan yang ada di dunia. Puasa juga merupakan 1 dari 5 tiang agama Islam, yang apabila 1 saja tiang ini tidak dilaksanakan, maka robohlah bangunan Islam yang ada pada diri seseorang.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Sedih sekali melihat orang yang tidak memiliki alasan untuk tidak berpuasa, tetapi mereka tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadan. Padahal sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadan, tanpa memiliki uzur atau alasan yang dibenarkan oleh undang-undang agama Islam, adalah satu dari sekian dosa-dosa besar.

Rasulullah pernah bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ

“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba aku didatangi oleh dua orang laki-laki.”

فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ

keduanya memegangi kedua lenganku,”

فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا

“kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal,”

فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ

“Keduanya berkata kepadaku, “Naiklah!”

فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ

Aku menjawab, “Aku tidak mampu”.

فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ

Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”.

فَصَعِدْتُ

Maka aku naik.”

حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ

“Ketika aku berada di tengah gunung itu,”

إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ

“tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras,”

فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ

“maka aku bertanya, “Suara apa itu?”

قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ،

Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”.

ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ

Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang”

مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ

“tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas),”

مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا

“ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah.”

قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ

Aku bertanya, “Mereka itu siapa?”

قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Mereka menjawab, “Meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya,” (Sahih Sunan An-Nasai).

Inilah kabar yang disampaikan oleh Nabi Muhammad , sosok yang tidak pernah berdusta di dalam hidupnya. Kabar mimpi beliau adalah benar adanya, bukan seperti mimpinya manusia biasa. Sebuah kabar yang sangat mengerikan bagi sebagian manusia, yang masih memiliki iman di dalam dadanya. Sebuah kabar yang mengimbangi iming-iming pahala dan balasan surga untuk orang yang bersedia melakukan puasa di bulan Ramadan.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadan tanpa memiliki alasan yang dibolehkan oleh syariat adalah dosa yang sangat besar. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (w. 1348 M), ulama yang sezaman dengan Sunan Gresik (w. 1419) atau pendiri Wali Songo, pernah berkata tentang orang yang tidak berpuasa tanpa memiliki alasan yang dibolehkan oleh syariat:

وَعِنْدَ الْمُؤْمِنِينَ مُقَرَّرٌ أَنَّ مَنْ تَرْكِ صَوْمِ رَمَضَانِ بِلَا مَرَضٍ وَلَا غَرَضٍ( أي بِلَا عُذْرِ يُبِيحُ ذَلِكَ) أَنَّهُ شَرٌّ مِنَ الزاني وَمُدْمِنَ الْخَمْرِ بَلْ يُشَكُّونَ فِي إِسْلَامِهِ وَيَظُنُّونَ بِهِ الزِنْدِقَةُ وَالْاِنْحِلَالُ

“Sudah menjadi ketetapan di kalangan orang beriman, bahwa siapa saja yang tidak berpuasa di bulan Ramadan, padahal dia tidak sakit dan tidak ada keperluan (maksudnya tidak memiliki uzur yang membolehkan untuk tidak puasa), maka orang itu adalah lebih buruk daripada orang yang gemar berzina, juga lebih buruk daripada orang yang gemar mabuk-mabukan, bahkan dia diragukan keislamannya, apakah dia itu orang Islam atau bukan, juga boleh dicurigai sebagai orang yang zindiq atau memiliki paham atheis, orang yang memiliki keyakinan bahwa tuhan itu tidak ada,” (Al-Kabair).

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Mari bertaubat di sisa-sisa Ramadan tahun ini. Sudahi kebiasaan tidak berpuasa tanpa uzur di siang hari bulan Ramadan. Allah itu Maha Welas Asih, Maha Pengampun, dengan dua syarat, jika kita mau bertaubat dan mengganti hari-hari di bulan Ramadan yang kita tidak berpuasa di dalamnya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحا

“Wahai orang-orang yang mengaku dirinya beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya,” (QS At-Tahrim: 8).

Taubat dengan meninggalkan maksiat berupa tidak puasa di siang hari bulan Ramadan tanpa uzur. Taubat dengan menyesali perbuatan tersebut. Taubat dengan bertekad tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang.

Rasulullah bersabda:

التَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari suatu dosa, dia seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa tersebut,” (Sunan Ibnu Majah. Sahih).