Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari Rahimahullah dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ

“Apabila Nabi telah menempati tempat tidurnya tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya lalu berdoa:

بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا

Bismika Amutu wa Ahya

“Dengan menyebut Asma Allah aku mati dan aku hidup.”

Lalu ketika beliau bangun dari tidur, beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da maa amatana wa ilaihin nusyur

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali,” (Sahih Bukhari: 6314).

Kandungan Hadis:

a. Tentang doa akan tidur, Imam Al-Qurtubi berkata, “Dengan menyebut namaMu yang Maha Menghidupkan aku hidup, dan dengan menyebut namaMu yang Maha Mematikan aku mati,” (Fathul Bari).

b. Abu Ishaq Az-Zajjaj berkata, “Tidur disebut mati karena menghilangkan akal dan gerakan. Ini hanya perumpamaan dan penyerupaan,” (Idem).

c. Al-Qurtubi berkata di dalam kitabnya Al-Mufhim, “Tidur dan mati mempunyai kesamaan dalam hal putusnya ruh dengan badan,” (Idem)

d. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Kadang seseorang yang telah mati tampak seperti tidur, karena itulah tidur disebut sebagai saudara mati, sementara batinnya adalah mati. Maka mati dinamakan tidur dalam konteks majaz, karena keduanya mempunyai kesamaan dalam hal putusnya keterkaitan ruh dengan badan,” (Idem).

e. Meletakkan tangan kanan di bawah pipi, juga miring ke kanan ketika tidur bukanlah wajib, tetapi sifatnya afdaliyat, lebih afdal, (Syarah Riyadhus Shalihin li Ibni Utsaimin).