Pembaca
yang semoga dirahmati Allah ta’ala, jika Anda membaca tulisan ini, mungkin Anda
sudah mendapat broadcast di WhatsApp atau media sosial lainnya tentang
anjuran melakukan sholat lidaf’il bala (salat tolak bala).


Di dalam broadcast
tersebut disebutkan bahwa waktu pelaksanaan sholat lidaf’il bala adalah pada
hari Rabu terakhir bulan Safar.

Adapun tata
cara sholat lidaf’il bala, dalam broadcast tersebut, adalah dilakukan
sebanyak empat (4) rekaat dan satu salam. Setiap rekaat dalam shalat lidaf’il
bala membaca surat Al-Fatihah, Al-Kautsar (sebanyak 17x), Al-Ikhlas 5x,
Al-Falaq 1x, dan An-Nas 1x.

Lalu bagaimana
penjelasan ulama tentang hal ini?

Pertanyaan
serupa pernah diajukan Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti, mufti dan ulama
di Yayasan Asy-Syabakah Al-Islamiyah Qatar pada 5 April 2009. Ketika ditanya
tentang hukum dan kesahihan dalil salat di Rabu terakhir bulan Safar untuk
menolak bala, beliau berkata:

الصلاة
المذكورة بدعة لا أصل لها ولا دليل عليها بل هي مكذوبة
.

“Salat yang
disebutkan (dalam pertanyaan) adalah bid’ah, tidak ada asal-usulnya, juga tidak
ada dalilnya. Sungguh, anjuran tentang salat seperti itu adalah suatu
kebohongan.”

Lebih
lanjut beliau mengatakan bahwa Komite Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi juga
pernah mendapat pertanyaan tentang hal ini, yang di sana Komite Riset Ilmiah
dan Fatwa Arab Saudi berkata:

هذه
النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلاً من الكتاب ولا من السنة

“Amal nafilah yang disebutkan dalam pertanyaan
tersebut, kami tidak mengetahui asal-usulnya dari Quran dan Sunah.”

ولم
يثبت لدينا أن أحداً من سلف هذه الأمة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة بل هي بدعة
منكرة

“Juga tidak ada yang bisa membuktikan kepada kami,
baik dari kalangan terdahulu umat ini, juga orang-orang saleh penerus umat ini,
tentang adanya amal nafilah tersebut. Sungguh, perbuatan itu adalah bid’ah
munkarah.”

Kemudian Lajnah Daiman mengutip sabda Nabi :

مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak kami
perintahkan, maka amalan itu tertolak,” (Sahih Muslim: 1718).

Lebih lanjut, menutup fatwanya, Lajnah Daimah menulis:

ومن نسب
هذه الصلاة وما ذكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة رضي
الله عنهم فقد أعظم الفرية، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة الكذابين

“Siapa saja yang menisbatkannya dan hal-hal seputar
salat tersebut kepada Nabi
(atau orang tadi mengatakan bahwa Nabi benar-benar
mengajarkan salat seperti itu), atau menisbatkannya kepada salah seorang
sahabat (semoga Allah meridhai mereka semua), maka sungguh orang tadi telah
melakukan suatu kebohongan yang besar. Para pendusta seperti itu layak mendapat
hukuman dari Allah subhanahu wa ta’ala.”

Pertanyaan yang hampir mirip juga ditanyakan kepada
Departemen Urusan Agama Islam dan Wakaf Uni Emirat Arab. Ketika ditanya tentang
“Salat yang dilakukan dengan niat untuk tolak bala”, mereka menulis:

لم يثبت
عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن السلف الصالح فعل ذلك، وإنما الثابت عنه صلى
الله عليه وسلم ما علّمه ابن عمه عبد الله بن عباس رضي الله عنهما:

“Tidak ada
bukti dari Nabi
,
juga dari para salafus saleh, bahwa mereka melakukan hal tersebut. Yang ada
adalah dalil dari Nabi

yang mengajarkan kepada putra bibinya, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma:

«يَا غُلامُ،
أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ؟
»

“Wahai anak
kecil, maukah aku ajarkan kepadamu kalimat yang akan bermanfaat bagimu?”
Kemudian Abdullah bin Abbas menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Maka
Rasulullah

bersabda:

«احْفَظِ
اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ عَلَى اللَّهِ
فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ…
»

“Jagalah
Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya akan kau dapati
Allah di depanmu. Kenalilah Allah ketika kamu sedang luang, niscaya Allah akan
mengenalmu ketika kamu sedang kesempitan,” (Musnad Ahmad: 2803).

Lebih
lanjut Departemen Urusan Agama Islam dan Wakaf Uni Emirat Arab tadi menulis:

وإن كان
شيء يدفع البلاء ويردّ القضاء فهو الدعاء كما قال صلى الله عليه وسلم:

“Jika ada
sesuatu yang bisa menolak bala dan mencegah takdir, maka sesuatu tersebut
adalah doa. Ini seperti yang disabdakan oleh Nabi
:

«لَا يَرُدُّ
الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ
»

“Tidak ada
yang bisa menjadi sebab terhalangnya takdir kecuali doa, dan tidak ada yang
bisa menjadi sebab bertambahnya umur kecuali amal kebajikan,” (Sunan
At-Tirmizi: 2139).

Kesimpulan:

Sholat lidafi’il
bala, yang konon dianjurkan untuk dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan
Safar, dengan melakukan salat empat rekaat sekali salam dan setiap rekaat
membaca Al-Fatihah, Al-Kautsar 17x, Al-Ikhlas 5x, Al-Falaq 1x, juga An-Nas 1x,
ini tidak ada tuntunannya di dalam Quran maupun hadis, maupun dari para
sahabat.

Sebaiknya
umat Islam tidak melakukan hal tersebut, karena perbuatan yang dianggap sebagai
amal ibadah, dan perbuatan tersebut bersifat “ritual” padahal tidak ada
dasarnya dari Quran atau Sunah, maka amalan itu ditolak oleh Allah
. Ingat, ada syarat-syarat yang harus kita penuhi agar ritual ibadah kita diterima oleh Allah.

Kalau ingin
melakukan ritual tolak bala, lakukan dengan berdoa. Perbanyak doa, semoga
negeri ini lekas berkurang bencananya, musibahnya, juga agar kita dan keluarga
kita terbebas dari bencana atau musibah. Aamiin