Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’aala, sebelumnya telah kita bahas bahwa pakaian sutera adalah haram bagi laki-laki. Tetapi tahukah Anda, Rasulullah ﷺ membolehkan penggunaan sutera pada pakaian asal ukurannya tidak lebih dari ukuran di penjelasan nanti di bawah ini. Apa dalilnya? Yuk teruskan membaca! Bismillah

Imam Muslim meriwayatkan dari Suwaid bin Gaflah bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu ketika sedang berkhutbah di Jabiyah berkata:

نَهَى نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ إِلَّا مَوْضِعَ إِصْبَعَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ أَوْ أَرْبَعٍ

“Nabi ﷺ melarang memakai sutera kecuali seukuran tidak lebih dari dua, atau tiga, atau empat jari.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 2069, juga Imam At-Tirmizi nomor 1643, dan Musnad Ahmad nomor 16297.

Penjelasan dari Syarah Nawawi Ala Muslim

Menjelaskan hadis ini, Imam An-Nawawi menulis:

وفي هذه الرواية إباحة العلم من الحرير في الثوب إذا لم يزد على أربع أصابع ، وهذا مذهبنا ومذهب الجمهور .

“Di dalam riwayat ini terdapat pembolehan corak/tanda yang terbuat dari sutera pada pakaian, jika tanda atau corak tersebut tidak lebih dari empat jari. Ini adalah pendapat mazhab kami, juga mazhab jumhur.”

Penjelasan dari Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti

Ketika ditanya tentang pakaian yang mengandung sutera, Syaikh Abdullah Al-Faqih dari Asy-Syabakah Al-Islamiyah berkata di dalam fatwanya nomor 10914:

وهذه الإباحة إباحة مطلقة غير مقيدة بحاجة كالمرض ، أو مصلحة كالحرب ، ولكن يشترط في كمية الحرير في الثوب الواحد ألا تزيد على ما نسج معه ، بل إن غلب الحرير في الثوب حرم كالخالص ، وإن استويا في المقدار فقولان في مذهب أحمد: أحوطهما المنع تغليباً لجانب الحظر على الإباحة

“Pembolehan di sini sifatnya mutlak, bukan bersyarat seperti karena dibutuhkan untuk orang yang sakit, atau untuk kemaslahatan perang. Yang disyaratkan dari kandungan sutera di suatu pakaian adalah tidak lebih dari bahan lainnya. Jadi jika bahan sutera (dalam suatu pakaian) ternyata lebih banyak (dari bahan lainnya), maka nanti hukumnya haram, seperti haramnya (kain yang berbahan) sutera murni. Kalau kandungannya sama (sutera dan bahan lainnya 50%-50%), maka dalam hal ini ada dua pendapat di dalam mazhab Imam Ahmad, yang intinya pendapat atas keharamannya lebih dimenangkan daripada pendapat atas kebolehannya.”

Penjelasan dari Syaikh bin Baz:

Syaikh Bin Baaz pernah ditanya tentang trend pakaian pria yang konon mengandung sutera. Menjawab pertanyaan tersebut, beliau berkata:

فإذا كانت القطعة التي في الثوب موضع أصبعين أو ثلاثة أو أربعة فلا بأس مثل رقعة في الثوب من الحرير ومثل الزرار ومثل علامة من الحرير، علامة في ثوب جعلت في ثوب علامة وما أشبه ذلك هذه تباح، المقصود قدر أصبعين أو ثلاث أو أربعة فقط في الثوب وما زاد على هذا في لباس الرجل يحرم من الحرير.

“Jika kandungan bahan di dalam baju tersebut seluas dua jari, tiga jari, atau empat jari, maka tidak apa-apa. Apa yang tidak lebih dari ukuran tersebut? Bisa berupa tambalan, kancing, atau corak/tanda yang terbuat dari sutera. Tanda pada baju dan yang semisalnya (yang terbuat dari sutera) hukumnya mubah, yaitu jika ukurannya dua jari, tiga jari, atau empat jari saja di pakaian tersebut. Pemakaian sutera yang lebih dari itu pada baju laki-laki bisa menjadikannya haram.”

Penjelasan dari Al-Lalu Al-Bahiyatu

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Dr. Khalid Al-Jauhani menyuguhkan beberapa kesimpulan:

1. Boleh menggunakan sutera pada pakaian, asalkan ukurannya tidak lebih dari empat jari.

2. Haramnya pakaian yang murni terbuat dari sutera bagi laki-laki. Baca selengkapnya tentang ini di sini.

3. Disyariatkannya pakaian sutera bagi perempuan.

Tambahan:

Satu jari adalah dua sentimeter.

Sukoharjo, 17 November 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)