Al-Auza’i berkata, “Aku diberi tahu bahwa dulu ada ungkapan, ‘Celakalah orang-orang yang memperdalam agama bukan untuk beribadah, bukan pula orang-orang yang menghalalkan yang haram dengan menganggapnya syubhat.”

Sebagian ahli hikmah berkata, “Orang yang paham agama tanpa menyandang sifat wara’ (waspada dari keharaman), dia seperti lentera yang menerangi rumah dan membakar dirinya sendiri.”

Asy-Sya’bi berkata, “Kami bukan ulama dan bukan fuqaha’ (ahli fiqih). Tapi kami adalah sekelompok orang yang telah mendengar suatu hadis lalu kami menceritakannya kepada kalian. Kami mendengar bahwa orang faqih (berilmu) adalah orang yang menghindarkan diri dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah.”