Rasulullah ﷺ bersabda:

لا ينظرُ اللهُ تبارك وتعالى إلى امرأةٍ لا تشكُرُ لزوجِها ؛ وهيَ لا تَستَغني عنهُ

Allah tabaraka wa ta’ala tidak akan melihat pada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal si wanita itu membutuhkan suaminya.

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasai di dalam Sunan Al-Kubra nomor 9135, juga oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak nomor 2771. Redaksi hadis ini milik keduanya. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh At-Tabrani nomor 14184.

PENJELASAN HADIS

Tertulis di dalam Ensiklopedia Hadis Durar Saniyah:

طاعةُ الزَّوجِ والإحسانُ إليه، والاعتِرافُ بجَميلِه وشُكرِه، من الأُمورِ التي تُوجِبُ رضا اللهِ، ومُخالفةُ هذه الأُمورِ تَجلِبُ سَخَطَه سُبحانَه وعَذابَه.

Ketaatan kepada suami, juga kebaikan kepadanya, pengakuan atas kebaikannya, serta berterima kasih kepadanya, ini semua merupakan perkara yg bisa mendatangkan ridha Allah. Sebaliknya, mengingkari hal-hal di atas justru akan membuahkan murka Allah juga azabNya.

Tentang sabdanya:

لا يَنظُرُ اللهُ تَبارك وتَعالى

Allah tabaraka wa taala tidak akan melihat

Maka perlu diketahui bahwa “melihat” adalah sifat fi’liyah Allah. Sifat ini erat kaitannya dengan kehendak Allah Subhanahu wa Taala, maksudnya, Allah tidak akan melihat pada seseorang yg tidak dicintai oleh Allah. Maknanya, Allah taala tidak akan melihat dengan pandangan rahmat pada seorang wanita atau istri yg memiliki karakter tertentu.

Apa karakter seorang wanita atau istri yg menyebabkan tidak mendapat rahmat Allah?

Hal ini dijelaskan di dalam lanjutan sabda beliau ﷺ:

إلى امرَأةٍ لا تَشكُرُ لزَوجِها، وهي لا تَستَغني عنه

Pada wanita yg tidak berterima kasih kepada suaminya, padahal dia membutuhkan suaminya.”

Maksudnya:

أنَّ زَوجَها أحسَنَ إليها، وقام بأُمورِها لدَرَجةٍ تَصِلُ إلى عَدَمِ الاستِغناءِ عنه، ومع ذلك هي لا تَشكُرُه، وتَكفُرُ مَعروفَه

Suami dari wanita tersebut telah berbuat baik kepada istrinya, juga sudah menegakkan hak-hak sang istri tersebut, sampai pada tataran sang istri tadi tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada suaminya. Tetapi demikian, dia justru tidak bersyukur, tidak berterima kasih kepada suami. Dan yg lebih parah, sang istri justru kufur atas kebaikan suaminya. Nauzubillah.

Hanya saja, yg dimaksud syukur di sini bukan semata berterima kasih dengan lisan, lalu menyakiti suami dengan perilaku, akhlak, dan perlakuan yg buruk. Bukan begitu. Yg dimaksud bersyukur atau berterima kasih kepada suami, menurut Ensiklopedia Hadis Durar Suniyah yaitu:

الثَّناءُ عليه باللِّسانِ والأفعالِ من إظهارِ السُّرورِ، 

Memuji sang suami dengan lisan dan perbuatan, di antaranya dengan menampakkan kebahagiaan

والرَّاحَةِ بالحَياةِ في كَنَفِه، 

Merasa nyaman hidup di pangkuannya

والقِيامِ على أُمورِه وأُمورِ وَلَدِه، 

Menegakkan hak-hak suami dan anaknya

وخِدمَتِه، 

Melayaninya

وعَدَمِ التَّخلِّي عنه في مِحَنِه، 

Tidak berpaling dari suami ketika suami sedang mendapat cobaan

وعَدَمِ تَتَبُّعِ عَثَراتِه، 

Tidak mengikuti ketergelinciran suami (dalam maksiat)

وتَركِ الإساءَةِ إليه في مَواطِنِ خَلَلِه وزَلَلِـهِ وقُصورِه

Tidak mencela aib suami, atau ketergelincirannya, serta kekurangannya

وتُجيبُه إذا طَلَبَها، 

Menjawab/memenuhi panggilan suami

وتَستَمِعُ إليه إذا ما أفْضَى إليها، 

Mendengar apabila suami menasihatinya

وتَحفَظُ سِرَّه إذا أسَرَّ إليها بشَيءٍ، إلى غيرِ ذلك

Menjaga rahasia tentang suaminya apabila sang suami menampakkannya kepadanya.

 

Selesai diterjemahkan oleh Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa Sukoharjo) pada Senin, 25 Juli 2022 pukul 10:49 WIB. Awal ditulis ketika omnya anak-anak menikah, ketika sedang menyimak penjelasan MC pernikahan selama prosesi adat panggih, lalu muncul redaksi hadis ini di laman Twitter @badratkhaier. Jadi hadis ini ditulis bukan karena menyindir siapa-siapa orang tertentu njih. Baarakallahu fiikum

Istri yang bersyukur