Pertanyaan: Saya menikah dengan seorang laki-laki. Ibunya meninggal sejak tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, ayah suami saya tinggal bersama saya di satu rumah. Saya tidak kuat lagi menghadapi situasi seperti ini. Bagaimana hukum syar’i dalam hal ini? Apa yg harus saya lakukan?

Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata:

مِنْ حَقِّكَ عَلَى زَوْجِكَ أَنْ يُوَفِّرَ لَكَ مَسْكَنًا مُسْتَقِلًّا مُنَاسِبًا لَيْسَ فِيهِ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ،

Termasuk hak Anda dari suami Anda adalah suami Anda memberi Anda tempat tinggal yang layak dan terpisah, yang tidak ada seorang pun dari keluarga suami Anda di rumah tersebut.

Kemudian beliau berkata:

وَالْمَقْصُودُ بِالْمَسْكَنِ الْمُسْتَقِلِّ أَنْ يَكُونَ لَكَ جُزْءٌ مِنْ الدَّارِ مُنْفَصِلَ الْمَرَافِقِ

Yang dimaksud dengan tempat tinggal terpisah adalah Anda dibuatkan satu bagian dari rumah tersebut dengan fasilitas yang tersendiri atau terpisah (dalam fatwanya yg lain beliau menyebut kamar mandi dan dapur yg terpisah dari yg dipakai mertua atau ipar).

Beliau melanjutkan:

فَإِذَا جَعَلَ لَكَ زَوْجُكَ جُزْءًا مِنَ الْبَيْتِ مُسْتَقِلًّاً مُنَاسِبًاً لَكَ، وَأَسْكُنُ فِي بَاقِي الْبَيْتِ أَبَاهُ؛

Maka jika suami Anda membuatkan untuk Anda suatu ruangan khusus dan terpisah di rumah tersebut, maka tetaplah Anda tinggal di rumah ayah dari suami Anda tersebut.

فَلَا حَقّ لَكَ فِي طَلَبِ مَسْكَنٍ آخَرَ

Dengan demikian, Anda tidak berhak untuk menuntut tempat tinggal lainnya.

Tertulis di dalam Majmu Al-Anhar fii Syarhi Multaqa Al-Abhar:

وَلَوْ كَانَ فِي الدَّارِ بُيُوتٌ وَأَبَتْ أَنْ تَسْكُنَ مَعَ ضَرَّتِهَا وَمَعَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِهِ إِنْ خَلَّى لَهَا بَيْتًا وَجَعَلَ لَهُ مَرَافِقَ وَغَلَقًا عَلَى حِدَةٍ، لَيْسَ لَهَا أَنْ تَطْلُبَ بَيْتًا آخَرَ

Meskipun di rumah tersebut ada beberapa rumah, dan dia (istri) menolak tinggal bersama istri lainnya, atau menolak tinggal bersama salah satu keluarga suaminya, jika sang istri menempati suatu rumah, yang di dalamnya ada ruangan terpisah khusus untuk dirinya, maka sang istri tidak boleh menuntut rumah lainnya.

فَإِنْ كَانَ وَالِدُ زَوْجِكَ يَسْكُنُ مَعَكُمْ فِي بَيْتٍ وَاحِدٍ مُتّحِدَ الْمَرَافِقِ؛ فَمِنْ حَقّكَ مُطَالَبَةُ زَوْجِكَ بِتَوْفِيرِ مَسْكَنٍ مُسْتَقِلٍّ، لَا يُشَارِكُكَ فِيهِ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ

Maka apabila ayah dari suami Anda tinggal bersama kalian di rumah dengan fasilitas yang sama, termasuk hak Anda untuk meminta kepada suami Anda ruangan terpisah, sehingga Anda tidak perlu berserikat atau berbagi perabotan di dalam rumah tersebut dengan keluarga suami Anda.

وَأَمّا إِذَا كَانَ لَكَ مَسْكَنٌ مُسْتَقِلّ فِي الْمَنْزِلِ؛ فَلَا حَقّ لَكَ فِي الِاعْتِرَاضِ عَلَى إِسْكَانِ أَبِيهِ فِي الْمَنْزِلِ،

Tetapi jika Anda sudah memiliki ruangan terpisah di rumah tersebut, Anda tidak berhak untuk menolak keinginan suami Anda untuk mengizinkan ayahnya tinggal di rumah tersebut.

Menutup fatwanya, Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata:

وَنَصِيحَتُنَا لَكَ عَلَى كُلِّ حَالٍ؛ أَنْ تَصْبِرِي وَلَا تَعْتَرِضِي عَلَى بَقَاءِ وَالِدِ زَوْجِكَ مَعَكُمْ؛ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ تُعِينِي زَوْجَكِ عَلَى بِرّ أَبِيهِ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِ

Tetapi nasihat kami kepada Anda adalah, hendaknya Anda bersabar dan tidak menentang keinginan suami Anda untuk menempatkan ayahnya satu rumah bersama kalian. Hendaknya Anda membantu suami Anda untuk berbakti kepada ayahnya dan berbuat baik kepadanya.

وَتُحْسِنِي إِلَى أَبِيهِ وَتَصْبِرِي عَلَيْهِ؛ فَكُلُّ ذَلِكَ مِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللَّهُ تَعَالَى، وَأَبْشِرِي بِبَرَكَةِ بِرّ زَوْجِكَ بِأَبِيهِ وَإِعَانَتِكَ لَهُ عَلَى ذَلِكَ.

Hendaknya Anda berbuat baik kepada ayah suami Anda dan bersabar merawat beliau. Itu semua termasuk amal saleh dan akhlaq mulia yang dicintai oleh Allah taala. Maka kami sampaikan kabar gembira dan doa keberkahan atas bakti suami Anda kepada ayahnya, juga atas bantuan Anda kepada suami Anda dalam berbakti kepada ayahnya.

Wallahu’alam

Fatwa No: 461146

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Yg berdoa kepada Allah anak-anaknya menjadi anak-anak yg saleh, beriman, berilmu, beramal, beradab, berakhlak, berjihad, dan bersabar menjalani itu semua. Aamiin)