Dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi ﷺ yang bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rekaat salat salat sunah fajar adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya,” (Sahih Muslim: 725).

Dari Hafsah Radhiyallahu Anha beliau berkata:

إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

“Apabila muazin selesai mengumandangkan azan subuh, Rasulullah ﷺ memulai subuh dengan dua rekaat (sunah) yang ringan sebelum salat (wajib subuh) ditegakkan,” (Sahih Muslim: 723).

Syaikh Rasyid Abdul Karim rahimahullah berkata:

جَوَازِ قَضَائِهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Boleh meng-qada-nya setelah salat fajar.”

Dari Qais bin Amru Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki melakukan salat dua rekaat setelah salat subuh. Maka Rasulullah ﷺ tanya:

صَلَاةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ

“Salat subuh itu dua rekaat.”

Maka lelaki tersebut berkata kepada Rasulullah ﷺ:

إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا فَصَلَّيْتُهُمَا الْآنَ

“Sesungguhnya aku belum mengerjakan salat dua rekaat (sunah fajar) sebelum dua rekaat (salat subuh), maka saya melakukannya saat ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah ﷺ pun terdiam, (Sunan Abu Dawud: 1267. Al-Albani: Sahih. Abu Tahir Zubair Ali Zai: Hasan).

Di dalam riwayat Ibnu Majah (1154) lafaz pertanyaan Rasulullah ﷺ adalah:

أَصَلَاةَ الصُّبْحِ مَرَّتَيْنِ

“Apakah salat subuh dikerjakan dua kali?”

PENJELASAN

Berkata Syaikh Rasyid Abdul Karim rahimahullah:

سُنَّةَ الْفَجْرِ مِنَ الْعِبَادَاتِ الْفَاضِلَةِ الَّتِي كَانَ يُحَافِظُ عَلَيْهَا الرَّسُولَ ﷺ،

“Sunah fajar adalah satu dari sekian ibadah yang utama, yang senantiasa dijaga oleh Rasulullah ﷺ.

وَكَانَ يَرْغَبُ أَصْحَابَهُ فِيهَا

“Dan Rasulullah ﷺ senantiasa memotivasi para sahabatnya untuk melazimi salat sunah fajar.”

وَأَخْبَرَ أَنَّهَا – لِمَا فِيهَا مِنْ الْأَجْرِ الْعَظِيمِ – خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Beliau mengabarkan bahwa di dalam salat sunah fajar itu terdapat pahala yang sangat besar, yang lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”

وَلَمَّا رَأَى مَنْ يَتَنَفَّلُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ فَلَمَّا عَلَمَ أَنَّهُ يَقْضِي سُنَّةَ الْفَجْرِ سَكَتَ وَأَقَرَّهُ عَلَى ذَلِكَ

“Dan ketika beliau melihat seseorang melakukan salat nafilah setelah salat subuh, beliau ﷺ sempat mengingkari perbuatan seperti itu. Akan tetapi, setelah beliau mengetahui bahwa sahabat tersebut melakukan salat sunah fajar, beliau ﷺ diam sebagai bentuk setuju akan hal tersebut.”

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari materi kali ini, menurut Syaikh Rasyid Abdul Karim rahimahullah, di antaranya:

اسْتِحْبَابُ صَلَاةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Hukumnya mustahab, atau sunah, atau disukai, untuk melakukan salat dua rekaat sebelum salat subuh.”

عَظْمٌ فَضْلُ هَذِهِ السَّنَةِ

“Agungnya keutamaan sunah ini (Salat sunah fajar).”

جَوَازُ قَضَائِهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Boleh melakukan qada salat sunah fajar setelah salat subuh.”

Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunnani wal Ahkami Asy-Syar’iyyati (19 Rabiul Tsani)

Karya: Syaikh Rasyid Abdul Karim

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)