Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Kita sudah di penghujung bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, bulan yang seharusnya kita ringan melakukan ketaatan, bulan yang seharusnya kita ringan untuk menjauhi kemaksiatan, bulan taubat, bulan titik balik diri kita dari yang semula bergumul dengan banyak dosa, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa.  

Ada tiga kondisi manusia setelah bulan ramadan usai:

Orang yang beruntung

Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjalankan puasa Ramadan selama 29 hari atau 30 hari atau terpaksa tidak berpuasa karena mendapat uzur syar’i seperti haid, nifas, bepergian, sakit, atau usia yang renta. Mereka adalah orang yang mendapat janji ampunan dosa dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه

“Siapa saja yang berpuasa penuh di bulan Ramadan, didasarkan adanya keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang sudah lalu,” (Muttafaq Alaih).

Orang yang beruntung adalah orang yang bisa melanggengkan ketaatan selama bulan ramadan, di luar bulan Ramadan. Mereka salat wajib 5 waktu di bulan ramadan, mereka juga menjalankan salat wajib 5 waktu di luar bulan Ramadan. Mereka salat 5 waktu secara berjamaah di bulan Ramadan, mereka juga salat 5 waktu secara berjamaah meski Ramadan telah selesai.    

Dinamakan beruntung karena kemampuan untuk melanggengkan ketaatan di luar bulan Ramadan adalah satu dari sekian tanda diterimanya amal.  

Ketika menafsirkan firman Allah:

فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ

“Maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah,” (QS Al-Lail: 7)

Imam Ibnu Katsir berkata:  

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا ، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا  

“Di antara ganjaran atau balasan untuk suatu kebaikan, adalah kebaikan lain sesudahnya. Dan di antara ganjaran atau balasan atas suatu kejahatan atau keburukan, adalah keburukan lain sesudahnya.”   Orang yang beruntung inilah orang yang bertakwa.  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)  

Wahai orang-orang yang beriman, wajib atas kalian untuk berpuasa seperti yg diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, tujuannya agar kalian jadi orang yang bertakwa, (QS Al-Baqarah: 183).  

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah  

Orang yang merugi

Kategori manusia yang kedua setelah Ramadan berlalu adalah orang yang merugi. Orang yang rugi adalah orang yang taat hanya di bulan Ramadan. Dia melakukan salat wajib hanya di bulan Ramadan, tetapi ketika di luar Ramadan, dia tidak lagi melakukan salat. Tidak salat di masjid, juga tidak salat wajib 5 waktu di rumah ketika dia tidak bisa ke masjid. Dia bisa salat magrib, isya, atau subuh di masjid selama Ramadan, lalu selesai Ramadan, selesai pula kebiasaannya mendatangi salat berjamaah.  

Orang yang merugi juga adalah orang yang bisa menghentikan hobinya berbuat dosa selama bulan Ramadan, dia berpuasa dari maksiat di bulan Ramadan, tetapi kembali bermaksiat di luar bulan Ramadan.Inilah mereka yang kondisinya seperti yang disebutkan oleh Allah:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا  

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, (QS An-Nahl: 92).  

Inilah kondisi manusia yang disebut oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu:  

َِْ ﺍﻟَُْْ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪﺇﻻ ﻓﻲﺭﻣﻀﺎﻥ  

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.”  

Orang yang celaka.

Kategori manusia ketiga setelah Ramadan usai adalah orang yang celaka. Mereka adalah orang yang senantiasa bermaksiat di luar bulan Ramadan, juga tetap bermaksiat di bulan Ramadan.

Dia tidak melakukan rukun Islam, salat 5 waktu misalnya, di luar bulan Ramadan, lalu di dalam bulan Ramadan dia juga tidak menjalankan salat 5 waktu, tidak berpuasa Ramadan, juga tidak mengganti (qadha) puasa Ramadan di luar bulan Ramadan.   

Inilah orang yang didoakan agar celaka oleh malaikat Jibril, dan diamini oleh Rasulullah . Nabi ketika naik mimbar, beliau mengucapkan Amin sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya, mengapa begitu? Rasul menjawab:  

إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ، قُلْ: آمِينَ ، فَقُلْتُ: آمِينَ  

“Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Seseorang bisa bertemu dengan bulan Ramadan, tetapi dia tidak mendapat ampunan Allah (karena tidak puasa, karena tidak salat), maka dia akan masuk neraka dan Allah akan melemparkannya jauh-jauh.’ Malaikat Jibril menyuruhku mengatakan: Amiin! Maka aku pun berkata Amiin. (Sahih Ibnu Hibban No. 907: 3/188)  

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Apabila kita merasa di dalam kategori dua dan tiga (orang yang merugi atau orang yang celaka), perlu diingat bahwa pintu surga masih belum tertutup. Rasulullah bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.”

Para sahabat yang mendengar nasihat Nabi ini heran, memang ada yang tidak mau masuk surga? Mereka pun bertanya, lalu Nabi bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Siapa saja yang mau nurut kepada perintah Nabi, dia masuk surga. Sebaliknya, siapa saja yang tidak nurut perintah Nabi, dia adalah orang yang tidak mau masuk surga,” (Sahih Bukhari: 7280, Musnad Ahmad: 8728).

Jadi bagaimana agar orang kategori dua dan tiga tetap bisa masuk surga?

Yang pertama, untuk orang yang bisa menjalankan ketaatan di bulan Ramadan, mari tetap jalankan ketaatan seperti itu di luar bulan Ramadan. Jika bisa salat 5 waktu di bulan Ramadan, ayolah tetap salat 5 waktu di luar bulan Ramadan. Jika bisa salat Magrib, Isya, atau Subuh secara berjamaah di masjid selama Ramadan (karena mungkin Zuhur dan Ashar dia bekerja di luar kampung), ayolah tetap hadir berjamaah seperti ketika bulan Ramadan. Apabila seperti itu, semoga nanti kita semua bisa sama-sama masuk surga, dan minta kepada Allah untuk memasukkan saya ke surga apabila bapak-bapak nanti di akhirat mendapati saya di neraka.

Nah, untuk kategori ketiga, orang yang celaka, karena selama Ramadan tidak salat 5 waktu lalu di luar bulan Ramadan juga tidak salat 5 waktu, atau yang selama bulan Ramadan tidak puasa padahal tidak memiliki uzur, solusinya:

1. Bertaubat kepada Allah. Rasulullah bersabda:

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ

“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (Sahih Bukhari: 6309, Sahih Muslim: 2747).

2. Tegakkan salat 5 waktu. Inilah ibadah yang paling agung di dalam agama Islam setelah tauhid. Tegakkan salat lima waktu selama Ramadan dan di luar bulan Ramadan. Tidak ada tanggal merah bagi para lelaki yang sudah baligh. Tidak ada alasan untuk tidak salat. Jika tidak bisa berdiri, dia salat sambil duduk. Jika tidak bisa duduk, dia salat sembari rebahan.

3. Untuk yang sempat tidak puasa Ramadan, ganti dengan berpuasa di luar bulan Ramadan. Dengan begitu, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, lalu memasukkan kita ke dalam surgaNya. Aamiin