Pertanyaan: Bolehkah seseorang minum ketika khutbah Jumat sedang berlangsung dan jika di dekatnya tidak ada air minum apakah mungkin seseorang itu berdiri dari tempatnya untuk mencari air? Jazaakumullah khair.

Jawaban oleh Tim Fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Selawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya dan sahabatnya. Amma bad’du.

فالشرب أثناء الخطبة كرهه بعض أهل العلم إذا ترتب عليه صوت لأنه فعل يشبه مس الحصا الذي يعتبر من اللغو،

Minum ketika khutbah sedang berlangsung hukumnya makruh menurut sebagian ulama jika mengakibatkan timbulnya suara, karena hal itu merupakan perbuatan yang dianggap mirip dengan menyentuh (bermain) kerikil yang merupakan al-laghwu (perbuatan yg sia-sia).

وقال بعض أهل العلم لا بأس به إذا اشتد العطش لحصول عدم الخشوع حينئذ

Sebagian ulama mengatakan bahwa minum ketika khutbah Jumat sedang berlangsung adalah tidak mengapa, karena jika hausnya begitu parah, hal itu dapat menyebabkan tidak khusyu pada waktu itu.

وهذا إذا كان الشراب بجانب الشخص،

Ini jika air minumnya berapa di dekat orang tersebut.

أما الخروج لطلبه أثناء الخطبة فالأمر فيه أشد لما فيه من الانشغال عن سماع الخطبة خصوصا إذا انضاف إلى ذلك قطع الصفوف وتخطى رقاب الناس، ولا يخفى ما في ذلك من الأذية لهم.

Tetapi jika keluar ketika khutbah untuk mencari minum, maka urusannya semakin besar karena hal itu termasuk perbuatan yg menyibukkan diri dari mendengar khutbah, apalagi jika dalam upaya pencarian air minum itu harus memutus shaf dan melangkahi pundak/leher orang-orang dan tidak diragukan lagi bahwa ini mengganggu.

Disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan An-Nasai dari hadis Abdullah bin Bisr Radhiyallahu Anhu yg mengatakan bahwa:

جاء رجل يتخطى رقاب الناس يوم الجمعة والنبي صلى الله عليه وسلم يخطب، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: اجلِسْ فقد آذَيْتَ.

Seseorang datang lalu melangkahi leher manusia di hari Jumat ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam sedang berkhutbah. Maka beliau shalallahu alaihi wasallam berkata kepadanya, “Duduklah! Sungguh, tindakanmu itu mengganggu sekali.”

وعليه فلا ينبغي أثناء الخطبة الخروج بحثا عن شراب ذلك إن لم تكن هناك ضرورة لذلك لما فيه من تشويش ويحرم عند المالكية إذا ترتب عليه تخطى رقاب الجالسين.

Berdasarkan hal ini, hendaknya seseorang tidak keluar untuk mencari minum apabila memang tidak dalam kondisi darurat, karena tindakan tersebut bisa menimbulkan kekacauan dan ketidakteraturan, selain karena pandangan mazhab Maliki yg mengharamkannya apabila menyebabkan si pelaku melangkahi pundak para hadirin.

Itulah mengapa di dalam Al-Khirsyi Al-Maliki disebutkan:

يعني أنه يجوز للداخل يوم الجمعة إلى الجامع تخطى رقاب الجالسين قبل جلوس الخطيب على المنبر لفرجة ويكره لغيرها وأما بعده فيحرم ولو لفرجة. انتهى.

Boleh bagi orang yang masuk (masjid) di hari Jumat (ketika Jumatan) untuk melangkahi leher (pundak) orang-orang yang duduk. Itu jika dilakukan sebelum khatib duduk di mimbar dan untuk mengisi celah yang kosong. Tetapi hukumnya makruh jika tujuannya untuk selain mengisi celah yang kosong. Lalu jika khatib sudah di mimbar, hukumnya haram meskipun untuk mengisi celah yang kosong.

Wallahu’alam bish shawwab

Fatwa No: 54737
Tanggal: 5 Ramadan 1425 H
Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah
Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)