Fiqih

Durus Yaumiyah (2 Jumadil Ula): Istisqa dalam Khutbah Jumat

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, tausiyah harian kita kali ini akan membahas tentang istisqa (meminta hujan) ketika khutbah Jumat. Materi tausiyah diterjemahkan dari kitab Ad-Durus Al-Yaumiyah karya Syaikh Rasyid Abdul Karim. Teruskan membaca!

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa seorang laki-laki menghadiri masjid di hari Jumat dan masuk dari pintu yang tepat di depan mimbar. Padahal waktu itu Rasulullah ﷺ sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut kemudian menghadap Rasulullah ﷺ dalam kondisi berdiri lalu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِيثُنَا

“Ya Rasulullah, harta benda telah binasa. Jalan-jalan telah terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”

Kemudian Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya lalu berdoa:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا

“Ya Allah, turunkan hujan kepada kami. Ya Allah, turunkan hujan kepada kami. Ya Allah, turunkan hujan kepada kami.”

Kemudian Anas bin Malik bersumpah bahwa beliau dan para sahabat sama sekali tidak melihat ada awan, baik yang tebal maupun yang tipis, juga tidak ada rumah atau bangunan apa-apa di antara masjid tersebut dengan bukit terdekat. Kemudian tiba-tiba dari bukit itu muncul awan seperti perisai yang ketika sudah membumbung tinggi, awan itu menyebar dan hujan pun turun.

Kemudian Anas bin Malik melanjutkan ceritanya bahwa matahari tidak muncul selama enam hari (akibat hujan yang turun terus menerus). Maka di Jumat berikutnya, seseorang memasuki masjid (untuk salat Jumat) dari pintu yang sama. Padahal waktu itu Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah. Kemudian orang itu menghadap Rasulullah ﷺ sembari berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا

“Ya Rasulullah! Harta-harta kami telah binasa. Jalan-jalan juga sudah terputus. Berdoalah kepada Allah agar menahan hujan.”

Anas mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat tangan lalu berdoa:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Turunkan hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah! Turunkan hujan di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta di tempat tumbuhnya pepohonan.”

Sahabat Anas bin Malik mengatakan bahwa hujan berhenti, lalu beliau dan para sahabat keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari, (Sahih Bukhari: 1013. Sahih Muslim: 897).

PENJELASAN

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Rasyid Abdul Karim berkata:

أُجْدِبَتْ الْأَرْضُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلَهُ رَجُلٌ  وَالرَّسُولُ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ – أَنْ يَسْتَغِيثَ اللَّهُ لَهُمْ، فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي خُطْبَتِهِ فَمَطَرَ النَّاسُ فِي الْحَالِ أُسْبُوعًا كَامِلًا حَتَّى طَلَبُوا مِنْهُ أَنْ يَسْأَلَ اللَّهَ أَنْ يُمْسِكَهُ عَنْهُمْ

“Bumi pernah mengalami kekeringan di masa Rasulullah ﷺ, maka seseorang meminta beliau ﷺ, padahal beliau sedang menyampaikan khutbah Jumat, agar beliau ﷺ meminta kepada Allah supaya Allah menurunkan hujan bagi mereka. Maka Rasulullah ﷺ berdoa di dalam khutbahnya, hingga seketika turun hujan kepada manusia selama satu pekan penuh, sampai mereka meminta kepada beliau agar berdoa kepada Allah supaya Allah mencukupkan turunnya hujan bagi mereka.”

PELAJARAN

Beberapa hukum yang bisa disimpulkan dari hadis di atas, menurut Syaikh Rasyid Abdul Karim, di antaranya:

فِي الْحَدِيثِ آيَةٌ مِنْ آيَاتِ نُبُوَّةِ الرَّسُولِ ﷺ

“Di dalam hadits ini terdapat satu dari sekian banyak tanda kenabian Rasul ﷺ.”

مَشْرُوعِيَّةُ الِاسْتِسْقَاءِ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ

“Disyariatkannya istisqa (meminta turun hujan) di dalam khutbah Jumat.”

مَشْرُوعِيَّةُ سُؤَالِ اللَّهِ كَفَّ الْمَطَرِ إِذَا تَضَرَّرَ النَّاسُ مِنْهُ

“Disyariatkannya meminta kepada Allah agar Allah mencukupkan hujan apabila hujan sudah menimbulkan bahaya bagi manusia.”

Wallahu’alam bish shawwab

Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah Minas Sunani wal Ahkamisy Syar’iyyati (2 Jumadil Ula)

Karya: Syaikh Rasyid Abdul Karim

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)

BACA JUGA:  Menjenguk Orang Sakit – Dalil, Hukum, dan Pahala

Irfan Nugroho

Guru TPA di masjid kampung. Mengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Nguter Sukoharjo. Penerjemah profesional dokumen legal atau perusahaan untuk pasangan bahasa Inggris - Indonesia dan penerjemah amatir bahasa Arab - Indonesia. Alumni Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) tahun 2008 dan 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button