Khutbah

Khutbah Jumat: Pemimpin yang Adil dan Kaidah Memilih

Pembaca rahimakumullah, pemimpin yang adil hukumnya wajib. Tetapi bagaimana kita mengetahui apakah seorang pemimpin itu adil atau tidak? Dan bagaimana kita mengetahui calon pemimpin itu adil atau tidak? Berikut adalah naskah khutbah Jumat tentang pemimpin yang adil. Naskah ditulis oleh Irfan Nugroho bin H. Suratman, anak dari Hj. Pami, rahimahallah ta’ala anha.

KHUTBAH 1

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.  عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Berlaku adil adalah kewajiban bagi seorang pemimpin, karena tujuan kepemimpinan adalah menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat, bukan menimpakan kezaliman kepada rakyat. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim,” (QS Al-Baqarah: 124).

Lan (elinga) nalikane Pengerane Ibrahim nyoba marang dheweke klawan pira-pira dhawuh, Ibrahim nuli ngestokake sakabehing dhawuh mau, klawan sampurna. Allah ngendika, “Ibrahim! Sira Ingsun dadekake pemimpin kanggo manungsa”. Ibrahim banjur munjuk, “Dalah para turun kawula makaten ugi.” Allah ngendika, “Janjiningsun ora tumrap marang wong kang padha nganiaya,” (QS Al-Baqarah: 124).

ORANG ZALIM HARAM JADI PEMIMPIN

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Jabatan kepemimpinan itu tidak boleh untuk orang-orang yang zalim, orang yang tidak adil. Tentang firman Allah ta’ala:

لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Janji Allah tidak berlaku untuk orang-orang yang zalim,” (QS Al-Baqarah: 124), Imam At-Tabari berkata:

أَنَّ الظَّالِمَ لَا يَكُونُ إِمَامًا يَقْتَدِي بِهِ أَهْلُ الْخَيْرِ

Bahwa orang yang zalim (tidak adil), dia tidak boleh menjadi imam atau pemimpin yang diikuti oleh orang-orang baik, (Tafsir At-Tabari).

لِأَنَّ الْإِمَامَةَ إِنَّمَا هِيَ لِأَوْلِيَائِهِ وَأَهْلِ طَاعَتِهِ دُونَ أَعْدَائِهِ وَالْكَافِرِينَ بِهِ

Karena kursi kepemimpinan itu hanya untuk wali-wali Allah, juga hanya untuk orang-orang yang taat kepada Allah, bukan untuk musuh-musuh Allah dan orang-orang yang kafir kepada Allah, (Tafsir At-Tabari).

MAKNA PEMIMPIN YANG ADIL

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Pemimpin yang adil itu seperti apa? Syaikh Abdul Qadir Audah di dalam ta’liq Ahkamus Sultaniyah berkata:

اَلْعَدَالَةُ هِىَ التَّحَلِّي الْفَرَائِضِ وَالْفَضَائِلِ،

Pemimpin yang adil adalah orang yang senantiasa berpegang pada hal-hal yang fardu dan sunnah

والتَخَلِّي عَنِ الْمَعَاصِي وَالرَّذَائِلِ،

Juga orang yang berlepas diri dari berbagai maksiat dan hal-hal yang hina dan rendah

وعَمَّا يَخِلُّ بِالْمُرُوْءَةِ أَيْضًا

Juga apa-apa yang bisa merusak wibawa calon pemimpin tadi, (Ahkamus Sultaniyah Lil Mawardi, Ta’liq Syaikh Ahmad Jadi).

BACA JUGA:  Khutbah Jumat Meninggalkan Shalat Wajib

CIRI CALON PEMIMPIN ADIL

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Bagaimana cara mengetahui seorang calon pemimpin itu punya potensi adil atau tidak? Disebutkan di dalam Ahkamus Sultaniyah Ta’liq Syaikh Ahmad Jadi bahwa untuk mengetahui seorang calon pemimpin itu adil atau tidak, baik atau tidak ada dua:

أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبَ اِسْتِقَامَةُ فِيْ السِّيْرَةِ

Calon pemimpin itu memiliki riwayat hidup atau rekam jejak yang lurus-lurus saja.

وَأَنْ يَكُوْنَ مُتَجَنِّبًا الْأَفْعَالِ وَالْأَحْوَالِ المُوْجِبَةِ لِلْفُسْقِ وَالْفُجُوْرِ

Calon pemimpin itu tidak dekat dengan perbuatan atau teman/lingkungan yang bisa menjerumuskannya pada kemaksiatan, (Ahkamus Sultaniyah Lil Mawardi, Ta’liq Syaikh Ahmad Jadi).

Inilah dua hal untuk menilai seorang calon pemimpin itu punya potensi adil atau tidak; 1) riwayat hidupnya lurus-lurus saja, serta 2) dia tidak mendekati perbuatan maksiat dan tidak dikelilingi oleh orang-orang yang buruk.

KAIDAH DALAM MEMILIH PEMIMPIN

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Lalu bagaimana jika calon pemimpin yang ada ternyata masih jauh dari sifat adil? Maka pilihlah yang keburukannya, kemaksiatannya paling sedikit. Disebutkan oleh Imam Izzudin Abdussalam di dalam Qawaidul Ahkam:

إذَا تَعَذَّرَتْ الْعَدَالَةُ فِي الْوِلَايَةِ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ بِحَيْثُ لَا يُوجَدُ عَدْلٌ

Jika keadilan adalah sesuatu yang mustahil dalam kepemimpinan, umum maupun khusus, dalam skala besar maupun skala kecil, karena (calon pemimpinnya tidak ada yang adil),

وَلَّيْنَا أَقَلَّهُمْ فُسُوقًا

Kita memilih calon pemimpin yang paling sedikit kefasikan atau keburukannya, (Qawaidul Ahkam, hal. 85).

MENITIPKAN AYAM KEPADA GARANGAN

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Mari menjadi pemilih yang cerdas. Memilih yang adil, yang riwayat hidupnya itu lurus-lurus saja, yang tidak dikelilingi oleh orang-orang yang jahat, yang paling sedikit keburukannya.

Syaikh Ahmad Jadi berkata:

كَمِثْلِ تَسْلِيْمِ قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ لِلْذِئْبِ وَجَعَلَهُ رَاعِيًا لَهَا

(Memilih pemimpin yang zalim itu) seperti menyerahkan sekumpulan kambing kepada serigala, dan menjadikan serigala tadi sebagai penggembala yang akan merawat kambing-kambing tersebut.

Dan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin alias mustahil, meskipun bisa saja serigala itu berjanji akan memberi kambing kita susu dan makan siang setiap hari, tetapi itu mustahil.

BACA JUGA:  Pranatacara Mantenan Bahasa Jawa untuk Walimatul Urs

Semoga kita dikaruniai pemimpin yang adil, yang senantiasa memegang hal-hal yang wajib dan sunah, yang berlepas diri dari maksiat dan hal-hal yang hina, yang paling sedikit keburukannya. AMIN

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

KHUTBAH 2

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ. أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ، اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُودِ وَمَنْ وَالاهُمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُودِ وَمَنْ وَالاهُمْ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُودِ وَمَنْ وَالاهُمْ، اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَداً، وَاقْتُلْهُمْ بَدَداً، وَلاَ تُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَداً، اَللَّهُمَّ انْصُرِإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ والْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ إِمَارَةِ الصِّبْيَانِ وَالسُّفَهَاءِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Irfan Nugroho

Hanya guru TPA di masjid kampung. Semoga pahala dakwah ini untuk ibunya.

Tema Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button