Dari Miqdam bin Ma’di Karib Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

“Jika seseoang mencintai saudaranya, hendaknya dia mengabarkan kepada saudaranya tadi bahwa dia mencintainya.”

Takhrij Hadis

Hadis mengabarkan rasa cinta kepada saudara ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullah di dalam kitabya Sunan Abu Dawud nomor 5124, Imam Bukhari rahimahullah di dalam Adabul Mufrad nomor 542, Imam At-Tirmizi di dalam Sunan At-Tirmizi nomor 2502, dan Imam Ahmad bin Hambal di dalam Musnad Ahmad nomor 16543.

Judul Hadis

Imam Abu Dawud rahimahullah memberi judul hadis ini, “Mengabarkan rasa suka kepada saudaranya.” Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah memasukkan hadis ini di dalam bab “Keutamaan cinta karena Allah, anjuran untuk cinta karena Allah, menyampaikan kepada orang yang dicintainya bahwa dia mencintainya dan apa yang diucapkan ketika orang lain memberitahukan tentang rasa cintanya.”

Makna Saudara dalam Hadis Ini

Imam ‘Ali bin Ahmad Al-‘Azizi rahimahullah di dalam Sirajul Munir berkata, “Yang dimaksud dengan saudara di sini adalah seseorang, bisa laki-laki atau perempuan. Pemakaiannya, seorang laki-laki mengucapkannya kepada laki-laki, dan apabila dia seoang wanita, dia mengucapkannya kepada wanita lain. Atau laki-laki mengucapkannya kepada wanita yang merupakan mahramnya atau isterinya.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid dalam salah satu fatwanya pernah menggunakan hadis ini dalam konteks orang tua dengan anak. Ketika ditanya tentang solusi menangani kenakalan anak, beliau memberikan tiga solusi, dan solusi nomor satu adalah mengungkapkan rasa cinta dari orang tua kepada anak. Beliau berkata:

Pertama: mengatakan dengan perkataan cinta penuh perasaan. Seperti ungkapan orang tua kepada putrinya, “Saya mencintaimu” atau kata-kata semisalnya. Ungkapan perasaan cinta, termasuk yang dianjurkan oleh Nabi . Dari Abu Karimah Miqdam bin Ma’dikarib dari bersabda:

 

إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ ، فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

“Kalau seseorang mencintai saudaranya, hendaknya dia memberitahukan bahwa dia mencintainya.”

Hendaknya mengungkapkan perkataan ini secara terus menerus, setiap hari, tanpa syarat, bukan hanya di momen tertentu atau karena melakukan perilaku yang disenangi ayah dan ibunya saja.

Akhir kutipan dari Fatwa Sual wa Jawab No. 279342

Jadi jangan gunakan hadis ini untuk “nembak cewek” untuk diajak pacaran, ya! Karena Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad di dalam Syarah Sunan Abu Dawud pernah ditanya, “Bolehkah seorang laki-laki mengucapkan kepada seorang wanita, ‘Aku mencintaimu karena Allah’?”

Kemudian beliau menjawab:

إذا كانت من أقاربه ومن له بها صلة وممن يمكنه الحديث معها، وكانت ممن تحب في الله فنعم.

“Jika wanita tadi masih sanak kerabatnya si laki-laki tadi, atau sang pria tadi masih memiliki hubungan (nasab, nikah, atau orang tua-anak dengan wanita tadi), atau sang pria tadi masih boleh berbicara dengan si wanita tadi (ingat, laki dan perempuan yang bukan mahrom tidak boleh berbicara tanpa perlu lho ya –ed), dan si wanita tadi adalah satu dari sekian orang yang dia cintai karena Allah, ya boleh,” (Syarah Sunan Abu Dawud: 582).

Mencintai Karena Allah

Yang dimaksud mencintai saudaranya di sini adalah mencintai karena Allah, demikian kata Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali di dalam Bahjatun Nadhirin. Pernyataan di atas didukung oleh hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad Ahmad nomor 20332 dan 20537 bahwa Rasulullah bersabda:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِي مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ لِلَّهِ وَقَدْ جِئْتُكَ فِي مَنْزِلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian cinta kepada saudaranya maka datangilah ke rumahnya dan sampaikan kepadanya bahwa dia mencintainya karena Allah dan aku telah datang ke rumahmu.”

Jadi, mengungkapkan rasa cinta di sini bukan berarti mengungkapkan cinta karena syahwat. Cinta di sini adalah cinta karena Allah. Menjelaskan hadis ini, Syaikh Bin Baz Rahimahullah berkata:

وهذه المحبَّة تُوجِب التَّعاون على البر والتقوى، والتَّواصي بالحق، والتَّناصح، هكذا المتحابُّون في الله: يتعاونون على البرِّ والتقوى، ويتواصون بالحقِّ، ويتناصحون، ويأمرون بالمعروف، وينهون عن المنكر.

“Inilah cinta yang mewajibkan adanya ta’awun atau kerja sama tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, juga dalam saling berwasiat dalam kebenaran dan saling menasihati. Inilah cinta karena Allah, yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, saling memberi wasiat kebenaran, saling menasihati, saling memerintahkan dalam kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran.

Sunah Mengungkapkan Rasa Cinta kepada Saudara

Syaikh Faishal Alu Mubarak berkata, “Hadis ini adalah dalil tentang sunnahnya memberitahukan cintanya kepada orang yang dicintai karena Allah agar bertambah rasa cinta dan kedekatan,” (Tathriz Riyadhus Shalihin).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga berpendapat demikian. Beliau berkata, “Jika Ada mencintai seseorang karena Allah, Anda hendaknya berkata, ‘Saya mencintaimu karena Allah.’ Mengapa? Karena ungkapan ini bisa membangkitkan kecintaan yang bersemi di dalam hati. Jika seseorang mengetahui kalau Anda mencintainya, dia pasti akan mencintai Anda,” (Syarah Riyadhus Shalihin li Ibni Utsaimin).

Imam Al-Khattabi rahimahullah mengatakan bahwa makna “mengabarkan kepada saudaranya tadi bahwa dia mencintainya” adalah anjuran untuk menunjukkan rasa kasih sayang, memperlihatkan rasa sayang dan kedekatan, (Rasysyal Barad Syarah Adabul Mufrad).

Hikmah Mengabarkan Rasa Cinta kepada Saudara

Di tingkat individu, hikmah dari mengabarkan rasa cinta kepada saudara adalah kemudahan dalam memberi/menerima nasihat. Imam Al-Baghawi di dalam Syarhus Sunnah berkata, “Jika seseorang memberitahukan rasa cintanya kepada orang yang dicintainya, maka orang tersebut akan mau menerima nasihatnya yang menunjukkan kepada kebaikan, serta tidak menolak ucapannya yang berupa kebaikan yang belum diketahui olehnya,” (Bahjatun Nadhirin: 384).

Sedang di tingkat yang lebih banyak, seperti masyarakat, kebiasaan mengungkapkan rasa cinta kepada saudara akan semakin memperkuat kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat.

Tertulis di dalam Ensiklopedia Hadis Durar Saniyah, “Kerukunan, juga mengungkapkan ruh rasa cinta dan kasih sayang di dalam suatu perkumpulam (baik itu masyarakat, organisasi, jamaah) adalah satu dari sekian pilar dalam menjaga keharmonisan perkumpulan tersebut.”

Dr. Muhammad Luqman berkata, “Hikmah dari mengabarkan (kecintaan kepada saudara) tadi adalah untuk memenangkan hatinya dan menarik rasa cintanya sehingga bisa terwujud keharmonisan atau kerukunan, hingga sirnalah perbedaan atau ihtilaf di antara kaum mukminun,” (Rasysyal Barad Syarah Adabul Mufrad).

Sukoharjo, 14 Juni 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)