Pembaca
yang semoga dirahmati Allah
, tahukah Anda bahwa di dalam
wudhu terdapat anjuran untuk istinsyaq, atau memasukkan air ke dalam hidung
dengan menghirupnya, lalu mengeluarkannya. Nah, di dalam istinsyaq, ternyata
terdapat anjuran untuk bersungguh-sungguh. Apa maksudnya? Yuk teruskan membaca
dan beramal mengikuti sunah Nabi
.
Bismillah


Imam At-Tirmizi
meriwayatkan sebuah hadis yang menurut beliau berstatus Hasan Sahih dari Laqith
bin Shabirah Radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa beliau bertanya kepada
Nabi
:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْوُضُوءِ

“Wahai Rasulullah, kabarkan kepada saya tentang wudhu.”

Maka beliau bersabda:

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي
الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Baguskanlah wudhu, sela-selalah di antara jari-jari,
dan bersungguh-sungguhlah ketika istinsyaq, kecuali apabila engkau sedang
berpuasa.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwatkan oleh Imam At-Tirmizi rahimahullah
di dalam Sunan At-Tirmizi nomor 788, juga Abu Dawud nomor 2366, An-Nasai: 87,
Ibnu Majah: 407, dengan sanad yang sahih.

Judul Hadis

Imam At-Tirmizi memberi judul hadis ini, “Dimakruhkan
bagi orang yang berpuasa untuk berlebihan ketika istinsyaq.” Imam Abu Dawud
menjuduli hadis ini, “Orang yang berpuasa diguyur air dan berlebihan dalam
istinsyaq karena haus.” Imam An-Nasai menjudulinya, “Menghirup air ke hidung,”
sedang Imam Ibnu Majah, “Memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya secara
sempurna.”

Penjelasan dari
Tawadhihul Ahkam Syarah Bulughul Maram

Berkata
Syaikh Abdullah Al-Bassam tentang bersungguh-sungguh dalam istinsyaq, “Disunahkan
bersungguh-sungguh dalam istinsyaq kecuali saat berpuasa. Dalam kondisi
berpuasa, melakukan istinsyaq secara sungguh-sungguh justru makruh karena dapat
membuat air masuk ke dalam tubuh.”

Penjelasan dari Aunul Ma’bud
Syarah Sunan Abu Dawud

Berkata
Syaikh Syamsulhaq Adzim Abadi:

إِنَّمَا كُرِهَ الْمُبَالَغَةُ لِلصَّائِمِ خَشْيَةَ أَنْ يَنْزِل إِلَى
حَلْقه مَا يُفْطِرُهُ

“Makruh
untuk bersungguh-sungguh (dalam istinsyaq) bagi orang yang berpuasa karena
dikhawatirkan bahwa air (istinsyaq tadi) biasa masuk ke kerongkongan dan
membatalkannya.”

Penjelasan dari
Al-Laalu Al-Bahiyyatu

Syaikh Dr.
Khalid Al-Jauhani mengatakan bahwa yang dimaksud, “Mubalagah fil istinsyaq
adalah menjadikan air wudhu hingga ke pangkal hidung,” sedang yang dimaksud, “Kecuali
jika engkau sedang berpuasa,” adalah “Jangan bersungguh-sungguh menghantarkan air
hingga pangkal hidung karena bisa masuk ke tenggorokan dan berpotensi
membatalkan puasa. Pun demikian hukumnya dengan berkumur-kumur (jangan terlalu
maksimal).”

Lebih
lanjut beliau menyimpulkan beberapa pelajaran dari hadis ini:

1.
Pentingnya bertanga untuk memahami ilmu agama

2. Wajibnya
istinsyaq dan berkumur

3.
Disukainya membaguskan wudhu

4.
Disukainya menyela-nyela jari ketika wudhu

5.
Makruhnya bersungguh-sungguh dalam berkumur dan istinsyaq bagi orang yang
berpuasa

6.
Singkatnya jawaban Nabi
dalam menjawab pertanyaan (Laqith bin Shabirah)
karena beliau tahu bahwa si penanya ini tidak sedang bertanya tentang zahir wudhu.
Yang ingin diketahui (oleh Laqith bin Shabirah) adalah tentang sifat sempurnanya
wudhu yang berkaitan dengan kejadian di dalam mulut, hidung, dan jari-jari.

Penjelasan dari Islam
Sual wa Jawab

Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Munajjid ketika ditanya, “Apakah mengalirnya air di
tenggorokan ketika membersihkan hidung di saat berwudhu dapat membatalkan puasa”,
beliau menjawab sebagai berikut:

الصائم منهي عن المبالغة في الاستنشاق ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم
للَقِيطِ بْنِ صَبِرَة رضي الله عنه : ( أَسْبِغْ الْوُضُوءَ ، وَخَلِّلْ بَيْنَ
الأَصَابِعِ ، وَبَالِغْ فِي الاسْتِنْشَاقِ إِلا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا ) رواه
أبو داود (142) والترمذي (788) وصححه الألباني في صحيح الترمذي
.

والحديث يدل على تجنب المبالغة في الاستنشاق حال الصوم حتى لا ينزل الماء
إلى جوف الصائم من غير اختياره
.

“Orang yang
berpuasa dilarang untuk bersungguh-sungguh dalam istinsyaq. Hal ini didasarkan
pada sabda Nabi
,
“Baguskanlah wudhu, selalah jari-jari, dan bersungguh-sungguhlah dalam
istinsyaq kecuali apabila engkau sedang berpuasa,” (Sunan Abu Dawud: 142, Sunan
At-Tirmizi: 788. Al-Albani: Sahih. At-Tirmizi: Sahih).

Hadis ini
menunjukkan agar menjauhi sifat bersungguh-sungguh dalam istinsyaq ketika
berpuasa, sehingga air tidak meresap ke perut orang yang berpuasa di luar
kendali dirinya.

لو تمضمض الصائم أو استنشق فنزل شيء من الماء إلى حلقه من غير قصدٍ منه
فإنه لا يفطر ؛ لقول الله تعالى : ( وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا
أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ) الأحزاب/5 . وهذا لم
يتعمد قلبه فعل المفسد ، فيكون صومه صحيحاً
.

“Tetapi
jika orang yang berpuasa itu berkumur-kumur, atau istinsyaq, kemudian ada air
yang masuk ke tenggorokannya tanpa dia berniat memasukkan air itu ke
tenggorokan (secara sengaja), maka hal tersebut tidak membatalkan (puasanya).
Hal ini didasarkan pada firman Allah, “Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa
yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh
hatimu,” (QS Al-Ahzab: 5). Orang tersebut hatinya tidak sengaja melakukan
kerusakan, maka puasanya tetap sah.

Sukoharjo,
14 Oktober 2021

Irfan
Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)