Pembaca
yang semoga dirahmati Allah
, termasuk sunah dalam
berwudhu adalah menyela-nyela jari tangan dan jari kaki. Apa dalilnya?
Bagaimana penjelasan ulama tentang hal ini? Yuk teruskan membaca. Bismillah


Rasulullah
bersabda:

Dari
sahabat Laqit bin Shabirah radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah

bersabda:

إِذَا
تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلْ الْأَصَابِعَ

“Apabila kamu berwudu, hendaknya kamu menyela-nyela
jari.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi di dalam
Sunan At-Tirmizi nomor 38. Imam At-Tirmizi menyebut bahwa derajat hadis ini
hasan sahih dan para ahli ilmu mengamalkan hadis ini. Syaikh Muhammad Nasirudin
Al-Albani juga mensahihkan hadis ini, pun demikian dengan Abu Tahir Zubair Ali
Zai.

Judul Hadis

Imam At-Tirmizi memasukkan hadis ini ke dalam bab
Bersuci, dengan judul “Menyela jari-jemari dengan air.” Syaikh Wahid Abdussalam
Bali di dalam Sahih Adab Al-Islamiyah memasukkan hadis ini ke dalam bab “Adab
Berwudhu,” dengan sub-judul “Menyela Jari Tangan dan Jari Kaki.”

Penjelasan dari
Tuhfatul Ahwadzi

Syaikh Abu Al-‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim
Al-Mubarakfuri di dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmizi, ketika
menjelaskan hadis ini, beliau menulis:

صِيغَةُ أَمْرٍ مِنَ التَّخْلِيلِ وَهُوَ إِدْخَالُ الشَّيْءِ خِلَالَ
شَيْءٍ وَهُوَ وَسَطُهُ وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ تَخْلِيلِ أَصَابِعِ
الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ

“Bentuk dari perintah “takhlil” adalah memasukkan
sesuatu melalui sesuatu, yaitu di tengah-tengahnya. Hadis ini menjadi dalil
tentang wajibnya menyela-nyela jari tangan dan kaki.”

Penjelasan dari Durar
Saniyah

Tertulis di dalam Ensiklopedia Hadis Durar Saniyah
bahwa di dalam hadis ini “Nabi
menghasung untuk membaguskan wudhu, yaitu
memberikan hak basuhan pada setiap anggota badan yang dibasuh ketika wudhu,
termasuk menyela-nyela jari.”

Lebih lanjut di sana tertulis:

والمرادُ بالتَّخليلِ: إيصالُ الماءِ بقَصدِ إلى المنطقةِ الَّتي ربَّما لا
يَصِلُها الماءُ وفَرْكُه وتدليكُه به

“Yang dimaksud dengan Takhlil adalah menyampaikan air
secara sengaja menuju bagian yang mungkin tidak terjangkau oleh air, yaitu
dengan mengusapnya dan menekannya.”

Penjelasan dari Sahih
Adab Islamiyah

Syaikh Wahid Abdussalam Bali ketika menyuguhkan hadis
ini memberi catatan kaki, bahwa yang dimaksud dengan takhlil adalah “Mengalirkan
air di antara jari-jari tangan dan kaki, dengan sedikit menekannya atau dengan
cara yang lain yang bisa menyempurnakan basuhan. Takhlil ini hukumnya fardhu
dalam berwudhu dan mandi, dan ini adalah pendapat banyak para ahli fikih. Hal
ini didasarkan pada firman Allah ta’ala:

فَٱغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا
بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ

“maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (QS
Al-Maidah: 6).

Tapi kalau hukum takhlil kalau airnya sudah sampai ke
sela-sela jari, maka menurut jumhur ahli fikih (Hanafiah dan Syafiiah juga
Hanabilah) adalah sunah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi

kepada Luqait bin Shabirah, “Baguskanlah wudhu, juga sela-sela jari.” Tetapi
menurut pendapat yang sarih dari Hanafiyah, Takhlil setelah masuknya air ke
sela-sela jari adalah Sunah Muakadah.

Penjelasan dari Al-Lalu
Al-Bahiyyatu

Menjelaskan bab ini dari kitab Sahih Adab
Al-Islamiyah, Syaikh Dr. Khalid Al-Jauhani menyebutkan beberapa pelajaran dari
hadis ini:

1. Disukainya takhlil antara jari tangan dan jari kaki
secara mutlak, terlepas dari kemungkinan bahwa air tersebut sudah mencapai area
sela-sela jari tanpa disela (dengan sendirinya) atau dengan disela (secara
sengaja).

2. Disukainya membaguskan wudhu.

3. Semangatnya Nabi dalam mengajari para sahabatnya.

4. Besarnya cinta para sahabat, semoga Allah meridhai
mereka, terhadap Nabi
,
terwujud dengan penukilan mereka terhadap seluruh sunah beliau
.

Sukoharjo, 11 Oktober 2021

Irfan Nugoho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren
Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)