Pembaca yang semoga dirahmati Allah ﷻ, suri tauladan kita mengajarkan bahwa ketika kita memakai pakaian baru, hendaknya kita mengucapkan suatu doa tertentu. Artikel kali ini akan membahas tentang doa ketika memakai baju baru dan bagaimana penjelasannya juga hikmahnya. Teruskan membaca! Bismillah.

Imam At-Tirmizi meriwayatkan suatu hadis yang beliau sendiri menyebut hadis ini adalah hadis Hasan Garib Sahih, dari Abi Said Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ عِمَامَةً أَوْ قَمِيصًا أَوْ رِدَاءً ثُمَّ يَقُولُ

Apabila Rasulullah ﷺ mengenakan pakaian baru, beliau selalu menyebut namanya, baik itu pakaian yang berupa imamah, gamis, atau selendang. Setelah itu beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Latin: Allahumma Lakal Hamdu Anta Kasautaniihi As`Aluka Khairahu Wa Khaira Maa Shuni’a Lahu Wa A’uudzu Bika Min Syarrihi Wa Syarri Maa Shuni’a Lahu

Arti: Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu, Engkau telah mengenakan pakaian itu kepadaku. Maka aku meminta kebaikannya dan kebaikan apa yang dibuat untuknya. Dan aku berlindung kepadamu keburukannya dan keburukkan apa yang dibuat untuknya.

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi nomor 1767, juga Abu Dawud nomor 4020. Imam At-Tirmizi menyebut hadis ini Hasan Garib Sahih, sedang Al-Albani menyebutnya Sahih di dalam Sahihul Jami: 4664.

Penjelasan Kata-kata

“idzaa istajadda tsauban” maksudnya apabila beliau ﷺ memakai pakaian yang baru.

“sammaahu” maksudnya beliau menyebut jenis-jenis baju tersebut.

“lakal hamdu”, alhamdu adalah pujian kepada Allah dengan apa-apa yang Allah miliki. Dhamir-nya didahulukan untuk menunjukkan kekhususan.

“Anta kasautanihi” artinya sama dengan “min gairi hauli minnii wa laa quwwah” atau tanpa daya dan kekuatan dariku.

“as-aluka khairahu” artinya hamba memohon kepadaMu ya Allah kebaikannya. Kebaikan suatu baju adalah awetnya dan kebersihannya.

“wa khaira maa shuni’a lahu” artinya kebaikan dari tujuan asal baju itu diciptakan, mulai dari yang tujuan darurat seperti untuk melindungi dari panas dan dingin, sampai untuk menutupi aurat. Tujuan dari permintaan kebaikan dalam hal ini adalah agar baju itu bisa membantu ibadah dan semakin taat kepada Allah ta’ala.

“wa a’udzubika min syarrihi wa syarri maa shuni’a lahu” artinya aku berlindung kepadaMu (ya Allah) dari keburukan di dalam pakaian ini juga keburukan yang ada di dalamnya. Maksud keburukan di dalam pakaian adalah adanya sesuatu yang haram atau najis, atau pakaian itu tidak bisa awet lama, atau pakaian itu justru menjadi sebab pemakainya untuk bermaksiat, atau untuk melakukan keburukan lainnya, atau menjadi sebab munculnya rasa bangga dan takjub pada diri sendiri, serta rasa angkuh dan hilangnya sikap qonaah.

Pelajaran dari Hadis

1. Disukainya berdoa dengan doa ini ketika memakai pakaian baru

2. Disukainya memuji Allah ketika memakai baju baru

3. Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk tampil dengan pakaian yang usang lagi lusuh

4. Hendaknya orang Islam itu beranggapan bahwa semua nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya itu adalah karunia dari Allah, bukan karena dirinya sendiri (yang memiliki kelebihan atau apa)

5. Seseorang itu mencari kebaikan ya hanya dari Allah saja, dan ketika meminta perlindungan pun hendaknya dia hanya memintanya dari Allah semata.

Sumber: Syarah Sahih Adab Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)