Di antara dosa-dosa besar (al-Kabair) yang paling besar adalah berdusta atas nama Allah dan RasulNya, shalallahu alaihi wasallam.

Berdusta atas nama Allah dan RasulNya ini ada beberapa macam:

1. Seseorang mengatakan, “Allah berfirman begini dan begitu,” atau “Allah telah berbuat seperti ini dan seperti itu,” padahal Allah tidak berfirman/berbuat seperti itu, dan dia tahu kalau Allah tidak berfirman/berbuat seperti itu.

2. Seseorang menafsirkan firman Allah, menafsirkan ayat di dalam Quran, dengan penafsiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, bertentangan dengan syariat yang sudah disepakati/ijma, atau kesimpulannya itu menjadikan yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِاٰيٰتِهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Transliterasi Arab-Latin: wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

Arti: Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung, (QS Al-An’am: 144).

Arti Bahasa Jawa: Sapata kang luwih nganiyaya ketimbang wong kang gawe-gawe goroh ingatase Allah Ta’ala? Utawa anggorohake ayat-ayate Allah? (Ora ana). Sejatine wong-wong kang padha dholim iku ora beja.

3. Seseorang mengatakan, “Rasulullah bersabda/berbuat begini dan begitu,” padahal Nabi tidak pernah seperti itu, dan dia tahu kalau Nabi tidak seperti itu.

4. Seseorang menafsirkan sabda Nabi hingga kesimpulannya itu bertentangan dengan syariat yang sudah disepakati/ijma, atau menjadikan yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang berdusta atas nama beliau ﷺ:

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Siapa saja yang berdusta dengan mengatasnamakan aku (Nabi ﷺ) secara sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap untuk duduk di atas kursi dari api,” (Sahih Bukhari: 110; Sahih Muslim: 3).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Siapa saja yang meriwayatkan suatu hadis dariku, padahal orang itu tahu bahwa riwayat itu dusta (palsu/maudhu), maka dia termasuk pendusta,” (Sunan At-Tirmizi: 2662).

5. Seseorang mengaku sebagai Nabi yang mendapat wahyu dari Allah, sebagaimana Musailamah Al-Kadzab, atau Aswad Al-Ansi, atau yang semisal yang mengaku sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad .

Hal ini didasarkan pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗ

Transliterasi Arab-Latin: wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au qāla ụḥiya ilayya wa lam yụḥa ilaihi syai`uw wa mang qāla sa`unzilu miṡla mā anzalallāh,

Arti: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah,” (QS Al-An’am: 93).

Arti Bahasa Jawa: Ora ana wong kang luwih nganiyaya katimbang wong wong kang gawe gawe goroh ingatase Allah Ta’ala, (kaya ngaku-ngaku dadi Nabi) utawa kandha-kandha yen tampa wahyu, ing mangkat sejatine ora keparingan wahyu apa-apa (kaya iku Musailamah, jago goroh)

Kiat agar tidak terjerumus ke dalam dosa berdusta atas nama Allah dan RasulNya:

1. Belajar ilmu agama Islam dari guru yang benar, dengan rujukan yang sahih

2. Banyak membaca Al-Quran dan maknanya, disertai dengan tafsirnya, lalu apabila menemui kebingungan dalam suatu masalah, tanyakan maksudnya kepada guru-guru kita, jangan menafsirkannya sendiri sesuai hawa nafsu dan pikiran kita

3. Banyak membaca Hadis dan maknanya, disertai dengan syarahnya atau penjelasan para ulama dalam masalah hadis, lalu apabila menemui kebingungan, tanyakan maknanya kepada guru-guru kita, jangan mengambil kesimpulan sendiri dari suatu hadis, sesuai dengan hawa nafsu atau pikiran kita yang dangkal

4. Apabila menyampaikan suatu riwayat yang maudhu atau palsu, harus disertai dengan penjelasan bahwa hadis itu adalah maudhu atau palsu. Jangan mengatakan, “Rasulullah ﷺ bersabda begini dan begitu,” padahal kita tahu bahwa itu adalah riwayat yang palsu

5. Hindari menyampaikan riwayat-riwayat dari kaum Syiah Rafidah, karena mereka – menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, adalah kelompok yang paling sering berdusta atas nama Nabi ﷺ.

Sukoharjo, 24 Juni 2022

Irfan Nugroho (Yang berdoa semoga Allah menjaganya dan keluarganya, serta menjadikan anak turunnya sebagai ulama).