Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, ketika kita bertamu kepada saudara sesama mahram, ayah/ibu, atau kakak/adik, apakah kita tetap harus meminta izin? Untuk menjawab pertanyaan ini, yuk teruskan membaca.

Imam Malik meriwayatkan dari Sofwan bin Sulaim, dari Atha bin Yasar, bahwa Rasulullah SAW ditanya oleh seseorang:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَأْذِنُ عَلَى أُمِّي 

Ya Rasulullah, apakah saya juga tetap harus meminta izin ketika masuk ke rumah/kamar ibu saya? Maka Nabi SAW pun menjawab, Iya. Kemudian pria itu berkata lagi:

إِنِّي مَعَهَا فِي الْبَيْتِ 

Saya tinggal satu rumah dengan beliau. Kemudian Nabi pun bersabda:

اسْتَأْذِنْ عَلَيْهَا 

Tetap minta izin kepada beliau. Lalu pria itu berkata lagi:

إِنِّي خَادِمُهَا 

Saya juga pelayan beliau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

اسْتَأْذِنْ عَلَيْهَا أَتُحِبُّ أَنْ تَرَاهَا عُرْيَانَةً

Kamu harus tetap meminta izin kepada beliau. Apa kamu suka melihat beliau dalam kondisi telanjang?

Maka pria tadi mengatakan tidak, kemudian Rasulullah SAW bersabda:

فَاسْتَأْذِنْ عَلَيْهَا

Kalau begitu tetaplah kamu meminta izin kepada beliau, (Al-Muwattha: 2789).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Alqamah yang mengatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu lalu berkata:

أسْتَأْذِنُ عَلى أُمِّي؟

Apakah saya harus meminta izin kepada ibu saya?

Maka Abdullah bin Mas’ud berkata:

ما عَلى كُلِّ أحْيانِها تُحِبُّ أنْ تَراها

Ada beberapa waktu di mana beliau tidak suka apabila kamu melihat beliau, (Adabul Mufrad: 1059).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan sanad yang hasan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah Radhiyallahu Anhu:

أسْتَأْذِنُ عَلى أُمِّي؟

Apakah saya harus meminta izin kepada ibu?

Kemudian beliau berkata:

إنْ لَمْ تَسْتَأْذِنْ عَلَيْها رَأيْتَ ما تَكْرَهُ

Kalau kamu tidak izin kepada beliau, kamu akan melihat sesuatu yang tidak kamu sukai, (Adabul Mufrad: 1060).

PELAJARAN

1. Disyariatkannya meminta izin untuk masuk kamar atau rumah mahram

2. Disyariatkannya bertanya dalam masalah agama dengan tujuan untuk memahami suatu masalah dalam ilmu agama tersebut

3. Kelengkapan syariat Islam karena di dalamnya ada perhatian terhadap hak-hak manusia