Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, di antara kesempurnaan agama Islam adalah adanya anjuran kepada pemeluknya untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat intelektual pendengar, mulai dari tema pembicaraan, cara dan bahasa penyampaian. Apa dalilnya? Bagaimana maksudnya? Teruskan membaca!

Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahhullah di dalam kitabnya Shahihul Adab Al-Islamiyah bab Adab Berbicara menulis:

أَنْ تُخَاطِبَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

Anjuran supaya seseorang berbicara kepada manusia sesua dengan akal mereka.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu yang berkata:

ما أنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إلّا كانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

Tidaklah kamu berbicara ke suatu kaum dengan suatu perkataan yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka, kecuali di antara mereka akan muncul fitnah.

PENJELASAN

1. Kata beliau, “Maa” artinya “Laisa” atau tidaklah.

2. Kata beliau, “haditsan” artinya perkataan atau ucapan atau kalam.

3. Yang dimaksud dengan “Tidak bisa dicapai oleh akal mereka” maksudnya:

لَا يَفْهَمُونَهُ وَأَوْ لَا يُدْرِكُونَ مَعْنَاهُ

Yang tidak bisa dipahami oleh mereka atau tidak bisa dimengerti oleh mereka makna ucapan tersebut.

4. Yang dimaksud dengan, “Kecuali di antara mereka akan timbul fitnah”, adalah

الضَّلَالِ وَالْحِيرَةِ

Tersesat atau salah paham dan kebingungan.

TAKHRIJ

Hadits ini statusnya Sahih Mauquf. Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Mukadimah Sahih Muslim. Juga terdapat di dalam Sahih Bukhari nomor 127 dengan menukil perkataan Ali

حَدَّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذِّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Berbicaralah kalian kepada manusia dengan tema, cara, dan bahasa yang bisa dimengerti oleh mereka. Apa kamu suka jika Allah dan RasulNya didustakan (akibat mereka tidak memahami tema yang kamu sampaikan, juga karena cara dan bahasa penyampaianmu yang tidak sesuai dengan tingkat akal pendengar).

PELAJARAN

Syaikh Khalid Al-Jauhani berkata di dalam kitabnya al-Laali Al-Bahiyyatu tentang apa yang bisa disimpulkan dari riwayat di atas:

يَنْبَغِي لِلْمُتَكَلِّمِ أَنْ يُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

Hendaknya seorang pemateri/penceramah itu berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat kepahaman atau akal pendengarnya.

الْحَثُّ عَلَى مُخَاطَبَةِ النَّاسِ بِمَا يَفْهَمُونَهُ

Di dalam riwayat ini terdapat anjuran agar ketika berkhutbah, atau berceramah, dengan apa yang bisa dipahami oleh pendengar.

يَنْبَغِي لِلْمُتَحَدِّثِ أَلَّا يَأْتِيَ بِالْكَلِمَاتِ الْغَرِيبَةِ أَثْنَاءَ حَدِيثِهِ مَعَ النَّاسِ

Hendaknya seorang pembicara tidak mendatangkan kata-kata atau istilah asing ketika berbicara dengan orang awam.

DALIL DARI QURAN

Firman Allah ta’ala:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Arab-Latin: Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk, [QS An Nahl 125].

Diterjemahkan dari al-Laali Al-Bahiyyatu karya Syaikh Khalid Al-Jauhani oleh Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa Sukoharjo).
====
🔴Apabila bapak/ibu/saudara pembaca semua ingin ikut andil dalam program dakwah melalui situs mukminun.com atau channel YouTube Mukminun TV, Anda bisa menyalurkan infak melalui nomor rekening Bank Muamalat: 5210061824 a.n. Irfan Nugroho.
🔴Semoga menjadi amal jariyah, pemberat timbangan kebaikan di akhirat, juga sebab tambahnya keberkahan pada diri, harta, dan keluarga pembaca semuanya. Aamiin