Di antara adab meminta izin yang paling banyak dilalaikan manusia adalah tidak berdiri di depan pintu dan menghadapkan wajahnya ke dalam rumah secara langsung. Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahhullah di dalam kitabnya Shahihul Adab Al-Islamiyah menulis:

أَنْ لَا يَقِفَ الْمُسْتَأْذِنُ أَمَامَ الْبَابِ بِوَجْهِهِ

Hendaknya orang yang meminta izin tidak berdiri di depan pintu.

Maksudnya, hendaknya seseorang yang meminta izin itu berdiri di samping pintu, atau menghadapkan wajahnya membelakangi pintu. Jadi ketika pemilik rumah membukakan pintu, orang yang meminta izin tidak langsung melihat ke dalam rumah.

Imam Abu Dawud meriwayatkan suatu hadis yang dinilai Sahih oleh Syaikh Al-Albani dari Abdullah bin Busri Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلْ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوْ الْأَيْسَرِ وَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ

“Dahulu Rasulullah ﷺ punya kebiasaan apabila beliau mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke arah pintu secara langsung, tetapi ke arah kanan atau kiri sembari mengucapkan, ‘Assalamualaikum. Assalamualaikum.’ Itu karena rumah-rumah di zaman dulu belum memiliki satir.”

TAKHRIJ

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di dalam Sunan Abu Dawud nomor 5186.

PENJELASAN

Yang dimaksud dengan, “…apabila beliau mendatangi pintu suatu kaum…” adalah beliau ﷺ berkunjung ke rumah para sahabat, misal untuk menjenguk orang sakit atau yang semisal.

Yang dimaksud dengan, “…beliau tidak menghadapkan wajahnya ke arah pintu secara langsung…” adalah agar beliau tidak melihat secara langsung dari luar pintu tersebut apa-apa yang di dalam rumah, padahal dalam kondisi ini seseorang belum mendapat izin untuk masuk dan melihat dalam rumah.

Yang dimaksud, “…tetapi ke arah kanan atau kiri...” adalah beliau memalingkan wajah dan badannya ke kanan beliau atau kiri beliau, jadi sekali lagi, beliau tidak menghadap ke arah pintu secara langsung.

Yang dimaksud dengan, “…sembari mengucapkan, ‘Assalamualaikum. Assalamualaikum,” adalah mengulangi salam sebanyak dua kali. Tujuannya agar suara beliau bisa didengar oleh orang yang di dalam rumah.

Yang dimaksud dengan, “…rumah-rumah di zaman dulu belum memiliki satir,” adalah hijab, atau sekat yang menghalangi pandangan orang di luar pintu sehingga bisa langsung melihat dalam rumah meskipun belum diizinkan masuk oleh pemilik rumah.

Tertulis di dalam Ensiklopedia Hadis Durar Suniyah:

وَأَمَّا إِذَا كَانَ عَلَى الْأَبْوَابِ سَاتِرٌ، أَوْ كَانَ عَلَيْهَا مَا يُغْلِقُهَا فَلَا مَانِعَ مِنْ اسْتِقْبَالِ الْبَابِ مَعَ التَّحَرُّزِ أَيْضًا مِنْ فَتْحِهِ؛ حَتَّى لَا يَرَى مَا يَكْرَهُ أَهْلُ الْبَيْتِ أَنْ يَرَاهُ

Tetapi jika di pintu-pintu itu ada satir atau sekat atau apa saja yang bisa menutupinya, maka tidak ada larangan menghadap pintu, sembari waspada apabila satir itu terbuka. Tujuannya agar seseorang tidak melihat apa-apa yg membuat sang pemilik rumah tidak senang jika suatu bagian di dalam rumahnya terlihat.

PELAJARAN

Syaikh Khalid Al-Jauhani menyuguhkan beberapa poin kesimpulan dari hadis ini:

عَدَمُ مَشْرُوعِيَّةِ الْوُقُوفِ أَمَامَ الْبَابِ مُبَاشَرَةً عِنْدَ الِاسْتِئْذَانِ

Tidak boleh secara syariat bagi seseorang untuk berdiri menghadap pintu secara langsung ketika meminta izin.

Tambahan penerjemah:

Hendaknya seseorang yang meminta izin itu menghadapkan wajah (atau sekaligus badannya) ke kanannya atau kirinya, atau bahkan membelakangi pintu. Sekali lagi, tujuannya agar orang yang meminta izin tidak melihat bagian dalam rumah dari luar pintu, padahal dalam kondisi itu dia belum mendapat izin dari sang pemilik rumah untuk masuk dan melihat dalam rumah, atau bisa jadi sang pemilik rumah belum sempat membereskan rumahnya.

Pelajara kedua, kata Syaikh Khalid Al-Jauhani:

الْحَثّ عَلَى الِاسْتِئْذَانِ

Hadis ini adalah anjuran untuk meminta izin.

Tambahan penerjemah:

Yang jika dipadukan dengan hadis-hadis lain dalam bab ini (meminta izin), maka akan semakin sempurna adab seseorang dalam meminta izin. Bisa dibaca di sini untuk hadis lain tentang adab meminta izin.

Pelajaran ketiga kata Syaikh Khalid Al-Jauhani:

عَظِيمٌ وَرَعُ النَّبِيِّ

Besarnya sifat warak, atau kehati-hatian dalam bertindak, Nabi ﷺ. Allahumma shalli ala Muhammad.

Diterjemahkan oleh Irfan Nugroho, staf pengajar di PPTQ At-Taqwa Sukoharjo, bakda salat Ashar di hari Jumat, 26 Agustus 2022.

====

🔴Apabila bapak/ibu/saudara pembaca semua ingin ikut andil dalam program dakwah melalui situs mukminun.com atau channel YouTube Mukminun TV, Anda bisa menyalurkan infak melalui nomor rekening Bank Muamalat: 5210061824 a.n. Irfan Nugroho.
🔴Semoga menjadi amal jariyah, pemberat timbangan kebaikan di akhirat, juga sebab tambahnya keberkahan pada diri, harta, dan keluarga pembaca semuanya. Aamiin