Di antara adab seorang muslim dalam meminta izin adalah tidak mengucapkan, “Saya” atau yg semisal ketika ditanya oleh pemilik rumah, “Siapa itu?”. Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahhullah di dalam kitabnya Shahihul Adab Al-Islamiyah menulis tentang hal ini:

أَنْ يَذْكُرَ اسْمَهُ، وَلَا يَقُولُ: أَنَا

Hendaknya orang yg meminta izin menyebutkan namanya, bukan mengatakan, “Saya” (atau yg semisal).

Di dalam Ash-Shahihain dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي

“Saya mendatangi Nabi ﷺ untuk berkonsultasi masalah utang ayah saya (Abdillah bin Hiram, beliau syahid ketika Perang Uhud).”

فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ

“Maka saya pun mengetuk pintu (rumah Nabi ﷺ) lalu beliau ﷺ bersabda:

مَنْ ذَا

“Siapa itu (yang mengetuk pintu)?”

Maka saya (Jabir bin Abdillah) menjawab:

أَنَا

“Saya.”

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

أَنَا أَنَا

“Saya. Saya.”

Jabir bin Abdillah berkata:

كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

“Seolah-olah beliau tidak suka dengan itu (jawaban Jabir yg hanya mengatakan ‘Saya’).”

TAKHRIJ

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 6250, juga oleh Imam Muslim nomor 2155.

PELAJARAN

Menjelaskan hadis ini, Syaikh Khalid Al-Jauhani di dalam Al-La-ali Al-Bahiyyatu, menyuguhkan tiga poin pelajaran:

Yang pertama:

كَرَاهَةُ عَدَمِ ذِكْرِ اسْمِ الْمُسْتَأْذِنِ عِنْدَ الِاسْتِئْذَانِ

Makruh hukumnya untuk tidak menyebutkan nama ketika meminta izin.

Yang kedua:

مَشْرُوعِيَّةُ الِاسْتِئْذَانِ

Meminta izin itu benar-benar ada syariatnya, atau tuntunannya, dan hadis ini adalah salah satu dalilnya.

مَشْرُوعِيَّةُ طُرُقِ الْبَابِ عِنْدَ الِاسْتِئْذَانِ

Hadis ini juga menjadi dalil tentang disyariatkannya mengetuk pintu ketika meminta izin.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari mengutip pernyataan Ibnul Jauzi tentang mengapa makruh hukumnya mengucapkan, “Saya,” alih-alih menyebutkan nama. Kata Ibnul Jauzi:

أَنَّ السَّبَبَ فِي كَرَاهَةِ قَوْلِ ” أَنَا ” أَنَّ فِيهَا نَوْعًا مِنْ الْكِبَر كَأَنَّ قَائِلَهَا يَقُولُ أَنَا الَّذِي لَا أَحْتَاجُ أَذْكُرُ اسْمِي وَلَا نِسْبِي

 

Bahwa sebab makruhnya ucapan “Saya” karena di dalam ucapan tersebut terdapat salah satu bentuk kesombongan, seolah-olah orang yg mengucapkan itu hendak mengatakan, “Saya adalah orang yang tidak perlu mengucapkan nama atau marga/nasab saya.”

Diterjemahkan oleh Irfan Nugroho, Staf Pengajar PPTQ At-Taqwa Sukoharjo, yg sedang berdoa semoga istrinya segera sembuh dari demam. Aamiin

====

🔴Apabila bapak/ibu/saudara pembaca semua ingin ikut andil dalam program dakwah melalui situs mukminun.com atau channel YouTube Mukminun TV, Anda bisa menyalurkan infak melalui nomor rekening Bank Muamalat: 5210061824 a.n. Irfan Nugroho.
🔴Semoga menjadi amal jariyah, pemberat timbangan kebaikan di akhirat, juga sebab tambahnya keberkahan pada diri, harta, dan keluarga pembaca semuanya. Aamiin