Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala di antara adab majelis adalah tidak duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai. Siapa yang dimaksud orang-orang yang dimurkai? Apa dalilnya? Teruskan membaca!

Syekh Wahid abdussalam Bali hafizahullah di dalam kitabnya shahihul adab Al islamiyah bab adab majelis beliau menulis:

لَا يَقْعُدُ قَعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

Tidak duduk dengan cara duduk orang-orang yang dimurkai.

Abu Dawud dan lainnya (Imam Ahmad dan Abdurrazaq) meriwayatkan hadits yang sahih dari Asy-Syarid bin Suwaid yang berkata:

مَرَّ بِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِيَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِي وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِي فَقَالَ 

“Rasulullah ﷺ melewatiku saat aku duduk seperti ini. Aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggung, lalu aku bersandar dengannya. Beliau lantas bersabda:

أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

“Apakah kamu ingin duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai (Yahudi)!” [Sunan Abu Dawud: 4848].

PENJELASAN

Syarid bin Syuwait nama lengkapnya adalah Syarif bin Syuwaid Ats-Tsaqofi. Beliau adalah sahabat yang syahid di perang hudaibiyah. Beliau adalah penduduk Thaif.

Bagaimana sikap duduk orang yang dimurkai?

Meletakkan telapak tangan kiri di belakang punggung agak ke kiri, lalu menyandarkan punggung pada lengan tangan kiri. Inilah sikap duduk orang-orang yang dimurkai.

Siapakah orang-orang yang dimurkai?

Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai pada hadis ini adalah sama dengan orang-orang yang dimurkai pada surat al-fatihah yaitu orang-orang Yahudi. Jadi, duduk seperti ini adalah cara duduknya orang-orang Yahudi dan nabi tidak menyukainya, karena orang Yahudi duduk seperti itu dan Allah murka kepada orang-orang Yahudi.

PELAJARAN

Apa hukum duduk seperti duduknya orang Yahudi?

Syaikh Khalid Al-Jauhani berkata ketika menjelaskan hadis ini di dalam Al-La-ali Al-Bahiyyatu:

عَدَمُ مَشْرُوعِيَّةِ الْجُلُوسِ عَلَى هَيْئَةِ جُلُوسِ الْيَهُودِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْحَدِيثِ

Tidak disyaratkan untuk duduk seperti duduknya orang Yahudi seperti yang disebutkan dalam hadis.

Lebih spesifiknya bagaimana? Haram atau makruh?

Syaikh Abdullah Al-Faqih dari Asy-Syabakah Al-Islamiyah berkata di dalam fatwanya nomor 253807:

وَهَذَا لِلْكَرَاهَةِ فِيمَا ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ

Duduk seperti ini hukumnya makruh, sebagaimana yang disebutkan beberapa ulama.

Lalu bagaimana kalau bersandar dengan tangan kanan, bukan dengan tangan kiri?

Pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah:

أَمَّا إِذَا كَانَتْ الْيُمْنَى فَلَا بَأْسَ

“Kalau duduknya dengan bersandar pada tangan kanan, maka tidak apa-apa.”

Lalu bagaimana dengan bersandar pada kedua tangan di belakang?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

الِاتِّكَاءُ عَلَى الْيَدَيْنِ مِنْ الْخَلَفِ لَا بَأْسَ بِهِ

“Bersandar dengan kedua tangan di belakang tidak apa-apa.”

Bagaimana dengan bersandar pada siku tangan kiri? Boleh tidak?

Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti hafizahhullah berkata:

وَالِاتِّكَاءُ عَلَى مِرْفَقِ الْيُسْرَى الْأَصْلُ فِيهِ الْجَوَازُ، وَلَمْ نَقِفْ عَلَى دَلِيلٍ لِمَنْعِهِ

“Bersandar pada siku kiri, pada asalnya, boleh. Kami tidak mendapati ada dalil yang melarangnya.”

Pelajaran lain yang bisa diambil dari hadis ini, menurut Syekh Khalid Al-Jauhani, adalah:

وُجُوبُ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ عَلَى قَدْرِ الِاسْتِطَاعَةِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Wajibnya mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dengan hikmah dan nasihat yang baik.”

Pelajaran lainnya, menurut beliau:

الْمُسْلِمِ لَا يَتَشَبَّهُ مُطْلَقًا بِغَيْرِ الْمُسْلِمِينَ

Seorang muslim tidak boleh menyerupai, meniru, ciri khas non-muslim.

Diterjemahkan oleh Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa Sukoharjo)

====

🔴Apabila bapak/ibu/saudara pembaca semua ingin ikut andil dalam program dakwah melalui situs mukminun.com atau channel YouTube Mukminun TV, Anda bisa menyalurkan infak melalui nomor rekening Bank Muamalat: 5210061824 a.n. Irfan Nugroho.

🔴Semoga menjadi amal jariyah, pemberat timbangan kebaikan di akhirat, juga sebab tambahnya keberkahan pada diri, harta, dan keluarga pembaca semuanya. Aamiin