Pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, tulisan ini adalah lanjutan dari serial Ad-Durus Al-Yaumiyah minas Sunani wal Ahkamisy Syar’iyyah karya Syaikh Rasyid Abdul Karim rahimahullah. Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, tanggal 21 Rabiul Tsani, tentang Keutamaan Qiyamul Lail atau Salat Malam. Kali ini kita akan belajar tentang sifat atau tata cara salat malam atau qiyamul lail. Teruskan membaca!

Hadist 1 tentang Sifat Qiyamul Lail

Dari ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah Rasulullah ﷺ dahulu ketika masih hidup menambah lebih dari sebelas rekaat (salat malam), baik ketika Ramadan maupun di luar Ramadan.”

يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“Beliau salat empat rekaat, dan Anda tidak usah bertanya tentang betapa bagus dan panjangnya.”

ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“Kemudian beliau salat lagi empat rekaat, dan Anda tidak usah bertanya tentang betapa bagus dan panjangnya.”

ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

“Kemudian beliau salat tiga rekaat.”

Kemudian Ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ

“Wahai Rasulullah, apakah Anda sempat tidur sebelum melakukan witir?”

Rasulullah ﷺ pun menjawab:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak,” (Sahih Bukhari: 1147. Sahih Muslim: 738).

Hadist 2 tentang Sifat Qiyamul Lail

Dari Ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ

“Dahulu Rasulullah ﷺ apabila melakukan salat (malam), beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak,” (Sahih Muslim: 2820).

Hadist 3 tentang Sifat Qiyamul Lail

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadany:

أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام

“Salat yang paling dicintai Allah adalah salatnya nabi Daud alaihissalam.”

وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya nabi Daud alaihissalam.”

وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Beliau tidur hingga pertengahan malam, lalu beliau bangun (melakukan salat malam) pada sepertiga malam, lalu beliau tidur seperenam malam. Beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari,” (Sahih Bukhari: 1131).

Hadist 4 tentang Sifat Qiyamul Lail

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang salat malam, maka Rasulullah ﷺ pun bersabda:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ

“Salat malam itu dikerjakan dua rekaat salam, dua rekaat salam. Tetapi apabila salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh (karena bangunnya mepet waktu azan subuh), hendaknya dia salat satu rekaat saja sebagai salat witir,” (Sahih Bukhari: 990. Sahih Muslim: 749).

Hadist 5 tentang Sifat Qiyamul Lail

Dari Ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Dahulu ketika Rasulullah ﷺ masih hidup, apabila beliau bangun pada sebagian malam untuk melakukan salat malam, beliau akan mengawali rangkaian salat malamnya dengan melakukan salat dua rekaat yang ringan (singkat bacaannya),” (Sahih Muslim: 767).

PENJELASAN

Syaikh Rasyid Abdul Karim ketika menjelaskan hadist-hadist di atas berkata:

سن رسول الله ﷺ صلاة الليل ركعتين ركعتين، وكان ﷺ لا يزيد عن إحدى عشرة ركعة يطيلهن ويحسنهن، وكان يفتتح صلاته في الليل بركعتين خفيفتين

“Rasulullah ﷺ melakukan salat malam dengan dua rekaat, dua rekaat. Beliau tidak melakukan salat malam sebanyak lebih dari sebelas rekaat, tetapi meskipun hanya sebelas rekaat, bacaan beliau itu panjang dan kualitasnya sangat bagus. Beliau mengawali rangkaian salat malam dengan melakukan salat dua rekaat yang ringan atau pendek.”

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa disimpulkan dari hadist-hadist di atas tentang sifat qiyamul lail, menurut Syaikh Rasyid Abdul Karim, adalah:

أن صلاة الليل ركعتان ركعتان.

“Bahwa salat malam itu dikerjakan dua rekaat dua rekaat.”

أن السنة صلاة إحدى عشرة ركعة.

“Bahwa yang sunnah itu salat malam dilakukan sebanyak sebelas rekaat (jadi kalau mau salat dua rekaat, satu rekaat, atau lebih dari sebelas rekaat itu tidak apa-apa alias boleh, karena “sunnah” di sini maksudnya afdal).”

فضل قيام ثلث الليل.

“Keutamaan menghidupkan sepertiga malam.”

استحباب افتتاح صلاة الليل بركعتين خفيفتين.

“Hukumnya mustahab atau disukai untuk memulai salat malam dengan melakukan dua rekaat yang ringan.”

Kitab: Ad-Durus Al-Yaumiyah min As-Sunani wa Al-Ahkami Asy-Syar’iyyati (22 Rabiul Tsani)

Karya: Syaikh Rasyid Abdul Karim

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo).