Fiqih

Minhajul Muslim: Memakamkan Jenazah

Membaca rohimakumullah materi pelajaran Minhajul Muslim kita kali ini tentang memakamkan jenazah. Apa artinya? Apa hukumnya? Dan bagaimana sifatnya? Teruskan membaca!

DEFINISI MEMAKAMKAN JENAZAH

Apa arti memakamkan jenazah? Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullah berkata:

دَفْنُ الْمَيِّتِ هُوَ مُوَارَاةُ جَسَدِهِ كَامِلاً بِالتُّرَابِ

Memakamkan jenazah adalah menimbun jasad secara sempurna dengan tanah.

Bagaimana jika seseorang meninggal di atas kapal di tengah lautan? Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullah berkata:

مَنْ مَاتَ بِالْبَحْرِ يُرْجَاءُ يَوْمًا أَوْ يَوْمِيْنِ إنْ لَمْ يَتَغَيَّرُ لَيُدْفِنَ بِالْبَرِّ

Siapa saja yang meninggal dunia di atas laut dan diharapkan bisa mencapai daratan pada satu atau dua hari berikutnya tanpa mengalami perubahan bentuk pada jenazahnya, maka dia dimakamkan di daratan.

وَإِنْ لَمْ يُمْكِنَ الْوُصُوْلُ إِلَى الْبَرِّ قَبْلَ تَغْيِيْرِهِ غُسِّلَ وصليَ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُرْبِطُ مَعَهُ شَيْءٌ ثَقِيْلٌ وَيُرْسِلُ فِي الْبَحْرِ، بِهَذَا أَفَتَى أَهْلُ الْعِلْمِ

Tetapi jika tidak mungkin untuk mencapai daratan sebelum mengalami perubahan bentuk pada jenazahnya, maka dia dimandikan kemudian disalati, lalu diberi pemberat dan dilarung di lautan.

HUKUM MEMAKAMKAN JENAZAH

Apa hukum memakamkan jenazah? Tentang hal ini Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullah berkata:

فَرْضُ كِفَايَةٍ

Memakamkan jenazah hukumnya fardhu kifayah. (Sedangkan jenazah wajib dimakamkan).[1]

Catatan penerjemah:

Jenazah wajib dimakamkan. Sedang orang yang memakamkan jenazah hukumnya fardhu kifayah. Maksudnya, jika sudah ada petugas yang memakamkan jenazah, tidak perlu semua anggota masyarakat ikut memakamkan jenazah.

ADAB MEMAKAMKAN JENAZAH

Ada beberapa hal atau adab yang harus diperhatikan ketika memakamkan jenazah sebagaimana kata Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullah sebagai berikut:

أَنْ يُعَمَّقَ الْقَبْرُ تَعْمِيْقًا يَمْنَعُ وُصُوْلَ السِّبَاعِ وَالطَّيَرِ إلَى الْمَيِّتِ ويَحْجِبُ رَائِحَتَهُ أَنْ تَخْرُجَ فَتُؤْذِيَ

1 – Menggali kubur dengan dalam untuk mencegah datangnya binatang buas dan burung kepada mayat serta untuk menghalangi keluarnya bau yang mengganggu.[2]

أَنْ يُلْحَدَ فِي الْقَبْرِ؛ إَذِ اللَّحَدُ أَفْضَلُ، وَإِنْ كَانَ الشَّقَ جَائِزًا

2 – Membuat Lahad, karena itu lebih afdal meskipun Syaq hukumnya boleh.[3]

BACA JUGA:  Minhajul Muslim: Salat Eid (Idain/Hari Raya)

Lahad artinya:

هُوَ الْحَفْرُ فيِ جَانِبِ الْقَبْرِ الْأَيْمَنِ

Lubang di sisi kubur sebelah kanan.

Syaq artinya:

هوَ الحَفْرُ فيِ وَسَطِ الْقَبْرِ

Lubang di tengah kubur.

يُسْتَحَبُّ لِمَنْ حَضَرَ الدَّفْنَ أَنْ يَحْثُوَ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ بِيَدِهِ فَيَرْمِيَ بِهَا فيِ الْقَبْرِ مِنْ جِهَةِ رَأْسِ الْمَيِّتِ

3 – Disunahkan bagi orang yang hadir di pemakaman untuk melempar tanah tiga kali dengan tangannya ke arah kubur bagian kepala.[4]

أَنْ يَدْخَلَ الْمَيِّتُ مِنْ مُؤَخَّرِ الْقَبْرِ إِذَا تَيَسَّرَ ذَلِكَ

4 – Memasukkan mayit dari bagian belakang kubur jika dirasa mudah.

وَأَنَّ يُوَجَّهَ إلَى الْقِبْلَةِ مُوْضُوْعًا عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ

5 – Menghadapkan mayat ke arah kiblat dengan bertumpu pada tubuh sisi kanan.

وَأَنْ تُحَلَّ أَرْبِطَةُ كَفْنِهِ

6 – Melepas ikatan pada kafan.

وَأَنْ يَقُوْلَ وَاضِعُهُ: بِسْمِ اللّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللّهِ – صلى الله عليه وسلم

7 – Ketika meletakkan jenazah mengucapkan, “Bismillahi wa ‘ala millati Rasulillah ﷺ.”

أَنْ يُغَطَّى قَبْرُ الْمَرْأَةِ بِثَوْبٍ أَثْنَاءَ وَضَعِهَا فيِ قَبْرِهَا

8 – Membentangkan kain ketika meletakkan jenazah perempuan di kuburnya.

Demikian ringkasan pelajaran Minhajul Muslim karya Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullah tentang memakamkan jenazah. Materi ini disampaikan di Pesantren IRMAS Bani Saimo kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo. Semoga bermanfaat.

Karangasem, 8 Mei 2024

Irfan Nugroho (Pengajar di Pesantren IRMAS Bani Saimo dan PPTQ At-Taqwa Sukoharjo).

DALIL-DALIL

[1] Dalil memakamkan jenazah adalah Firman Allah:

ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ

Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, (QS Abasa: 21).

[2] Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Hisyam bin Amir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَاجْعَلُوا الرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي الْقَبْرِ

Galilah dengan dalam dan lebarkanlah. Serta jadikan kubur ini untuk dua atau tiga orang.

Kemudian beliau ditanya:

فَأَيُّهُمْ يُقَدَّمُ

Mana yang harus didahulukan?

أَكْثَرُهُمْ قُرْآنًا

Yang paling banyak hafalan qurannya, (Sunan Abu Dawud: 3215).

[3] Imam at Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad Hasan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا

Lahat itu untuk kita sedangkan Asy-Syaq itu untuk selain kita, (Sunan At-Tirmidzi: 1045).

BACA JUGA:  Minhajul Muslim: Salat Kusuf (Gerhana) – Hukum, Waktu, dan Tata Cara

[4] Imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu anhu yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا

Bahwa Rasulullah ﷺ melakukan salat jenazah kemudian mendatangi makam jenazah itu lalu melempar tanah ke bagian kepala kubur tersebut sebanyak tiga kali, (Sunan Ibnu Majah: 1565).

Irfan Nugroho

Hanya guru TPA di masjid kampung. Semoga pahala dakwah ini untuk ibunya.

Tema Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button