Hadits Raghima Anfuhu

Pembaca
yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, memiliki orang tua sejatinya
memiliki pintu surga. Tinggal kita mau memasukinya atau tidak. Pun demikian,
apabila saat ini kita sudah dimampukan secara finansial oleh Allah, dan masih
memiliki orang tua yang dalam kondisi tua, lalu apa yang membuat kita tidak mau
memasuki surga lewat pintu tersebut.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shalallahu
alaihi wasallam yang bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ،
رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ! مَنْ؟ قَالَ:
مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَهُ الْكِبَرِ، أَوْ أَحَدُهُمَا فَدَخَلَ
النَّارَ

Latin: Ragima anfuhu! Ragima anfuhu! Ragima anfuhu! Qaaluu: Yaa Rasuulullahi! Man? Qaala: Man adraka waalidaihi ‘indahul kibari au ahaduhumaa fadakhala an-naara

Arti: “Celaka! Celaka! Celaka!” Kemudian para sahabat
bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang celaka?” Kemudian Rasulullah
bersabda, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya
dalam keadaan tua, tetapi dia tidak berbakti kepadanya maka dia masuk neraka.”

Takhrij Hadis

Hadis ini
kami ambil dari Adabul Mufrad, bab 10 hadis nomor 21. Hadis serupa diriwayatkan
oleh Imam Muslim nomor 45.

Penjelasan dari Syarah
Adabul Mufrad

Tentang
makna “Ragima anfuhu”, Syaikh Husain Audah Awayisah berkata:

ألصق بالرغام وهـو تـراب مختلط
برمل هذا هو الأصل ثم استعمل في الذل والعجز عن الانتصاف والانقياد على الكره

“(Ragima
anfuhu) artinya menempel di “Ragaam”, yaitu campuran debu dan pasir. Aslinya maknanya
itu, kemudian dipakai untuk sesuatu yang hina atau untuk menunjukkan sikap tidak
bisa berbuat adil dan tidak bisa menundukkan kebencian.

Tentang
pengulangan sabda beliau “Ragima anfuhu” sebanyak tiga kali, ini sebagai
penekanan lafaz. Lalu tentang makna dari pertanyaan para sahabat, “Wahai
Rasulullah! Siapa?”, maksudnya adalah agar mereka tidak meniru sifat tersebut,
sehingga mereka tidak akan melakukan perbuatan yang berujung pada kecelakaan
seperti itu.

Lalu
tentang sabda Nabi
,
“Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua,
tetapi dia justru masuk neraka,” dalam hal ini disebutkan di dalam Makmal
Al-Ikmal (8/490), “Makna dalam keadaan tua adalah dalam keadaan keduanya berada
di hadapan laki-laki (yang celaka tadi) dan di tempatnya, yaitu dia mendapati
keduanya dalam kondisi lemah dan tidak berdaya.”

Hadis
serupa di dalam Sahih Muslim (2551) berbunyi:

مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ
عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ

“Siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya atau
salah satunya dalam kondisi tua, kemudian dia tidak masuk surga.”

Tentang hadis ini, Imam An-Nawawi (16/109) berkata:

وفيه على الحث على بر الوالدين
، وعظم ثوابه . ومعناه أن برهما عند كبرهما وضعفهما بالخدمة ، أو النفقة ، أو غير
ذلك سبب لدخول الجنة ، فمن قصر في ذلك فاته دخول الجنة وأرغم الله أنفه

“Di dalam hadis ini terdapat hasungan untuk berbakti
kepada orang tua juga besarnya pahala dari berbakti kepada orang tua. Maknanya,
berbakti kepada keduanya ketika keduanya dalam kondisi tua lagi lemah, misal dengan
melayaninya, memberi nafkah kepada mereka, atau yang lainnya, itu semua adalah
sebab bagi seseorang untuk bisa masuk ke dalam surga. Maka siapa saja yang
menyia-nyiakan peluang tersebut, sungguh terlewatlah darinya peluang untuk
masuk ke dalam surga, dan sungguh Allah akan menghinakannya.”

Penjelasan dari Rasyul
Barad

Menjelaskan hadis ini, Syaikd Dr. Muhammad Luqman
as-Salafi menulis sebagai berikut:

1. Sebenarnya, makna asli dari Ragima adalah ditempelkannya
hidung seseorang pada debu bercampur pasir, maknanya hina dan malu. Ini adalah
suatu kiasan tentang betapa hina dan rendahnya sesuatu.

2. Di dalam hadis ini terdapat hasutan untuk berbakti
kepada orang tua, juga penjelasan tentang besarnya pahala berbakti kepada orang
tua, serta peringatan dari durhaka kepada orang tua dan besarnya hukuman untuk
durhaka kepada orang tua.

3. Berbakti kepada orang tua ketika keduanya dalam
usia lanjut dan lemah, misal dengan melayaninya dan menafkahinya adalah sebab
masuknya seseorang ke dalam surga. Maka, siapa saja yang kurang dalam hal
memenuhi hak-hak keduanya, dia tidak masuk surga atau Allah akan
menghinakannya.

4. Disukainya mengulangi suatu perkataan sebanyak tiga
kali agar orang semakin paham.

Penjelasan dari Syaikd
Adil Salahi

Hadis ini menjelaskan bahwa siapa saja yang orang
tuanya, atau salah satunya, dalam kondisi tua dan berada di bawah perawatannya,
sungguh dia memiliki jalan yang pasti menuju surga. Itu jika dia bisa merawat mereka
dengan baik. Mereka sedang berada di masa-masa kehidupan mereka, di mana mereka
sangat membutuhkan perawatan. Semua yang dilakukan oleh anak-anaknya kepada
mereka akan dicatat oleh Allah yang akan melipatgandakan pahala dari setiap
kebaikan sebanyak minimal 10 kali. Orang tua yang dalam kondisi tua butuh
kenyamanan dan perawatan setiap hari. Artinya, itulah peluang yang terus
menerus bagi sang anak untuk meraih pahala yang jelas akan dilipatgandakan
banyaknya. Jelas hal ini akan membuat timbangan kebaikan menjadi lebih berat
daripada timbangan dosa yang mungkin mereka perbuat. Oleh karena itu, Allah
akan mencatat kebaikan mereka, penuh dengan amal saleh, dan seharusnya kalau
begitu sang anak berhak untuk masuk ke dalam surga. Seseorang yang berada dalam
situasi seperti ini, tetapi dia justru masuk ke dalam neraka, sungguh dia telah
berbuat dosa yang besar. Atau minimal dia telah menyia-nyiakan peluang tersebut
dengan bersikap tidak ramah dan tidak berbakti kepada orang tuanya.

Sukoharjo, 27 Oktober 2021

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren
Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)