Oleh Syekh Saleh Sadlan

Dari Jabir bin Abdullah
Radhiyallahuanhuma bahwa Rasulullah bersabda,
اتَّقُوا الظُّلْمَ ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ،
وَاتَّقُوا الشُّحَّ ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ،
حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
“Takutlah kalian
terhadap kezaliman, karena kezaliman akan menjadi kegelapan di hari kiamat. Takutlah
kalian terhadap “Asy-Sy
uhha”, karena ia
telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Asy-Syaha mendorong manusia
untuk menumpahkan darah, dan menghalalkan kehormatan mereka,” (HR Muslim:
2578).
Kosa kata hadis:
·        
اِتَّقُوْا : Takutlah. Yakni, berhati-hatilah dan hindarilah.
·        
الظُّلْمَ: Dengan zamah lalu sukun, kata
dasarnya adalah
ظَلَمَ yang
artinya zalim, menyimpang, dan melewati batas, atau menempatkan sesuatu bukan
pada tempatnya.[1]
·        
الشُّحَّ: bakhil tingkat akut, disertai
dengan sifat tamak atau rakus.[2]
·        
حَمَلَهُمْ: yang menyebabkan mereka
melakukan suatu perbuatan.
·        
سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ: sebagian mereka saling membunuh
sebagian yang lain untuk mengambil hartanya atau untuk menghalangi dari
mendapatkan haknya.
·        
وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ:
menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atas diri mereka dalam urusan
wanita-wanita mereka, misal berbuat keji (terhadap wanita-wanita mereka), atau
mereka melakukan tipu daya dengan melakukan apa-apa diharamkan oleh Allah
ta’ala atas diri mereka.[3]
Makna Hadis:
Di dalam hadis ini terdapat
peringatan terhadap dua sifat yang tidak terpuji. Sifat yang pertama adalah
zalim, sifat yang kedua adalah asy-sy
uhha.
Zalim adalah lawan kata
dari adil. Syariat ini semuanya adil. Syariat ini memerintahkan untuk bersikap
adil, dan melarang dari sikap zalim. Iman, baik pada tataran pokok atau cabang,
batin maupun zahir, semuanya mengandung keadilan, dan kebalikannya adalah
zalim.
Hendaknya kita senantiasa bersikap adil,[1]
yaitu dengan mengakui wujud Allah dan memurnikan tauhid kepadaNya, serta
beriman terhadap sifat-sifatNya yang tinggi, juga terhadap nama-namaNya yang
baik. Adil juga terwujud dengan memurnikan agama ini, beribadah kepadaNya,
menegakkan pokok-pokok iman, juga syariat Islam.
Kezaliman terdiri atas beberapa macam, yaitu kezaliman
yang berkaitan dengan hak-hak Allah
,
dan kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak hamba.[2]
Kezaliman yang paling besar adalah yang berkaitan dengan hak-hak Allah, dan
menyekutukanNya. Nabi

pernah ditanya, “Dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab,
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“Kamu menjadikan sekutu
bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu,” (HR Bukhari: 4477. Muslim: 86).
Kezaliman, apa pun
macamnya, semuanya adalah haram, karena kezaliman – seperti yang dijelaskan
oleh Nabi

sebelumnya – akan berubah menjadi kegelapan di hari kiamat. Secara zahir, kezaliman
akan menjadi kegelapan bagi pelakunya yang tidak
bakal mendapat petunjuk jalan di hari kiamat. Padahal, cahayanya orang-orang yang
beriman justru bersinar menyinari mereka dari depan, kanan, dan kirinya.[4]
Orang yang berlaku
zalim tidak akan mendapat pelita di hari kiamat lantaran kezalimannya di dunia.
Bisa jadi di hadapannya ada lubang yang sangat dalam, maka jatuhlah dia ke
dalam satu dari sekian lubang-lubang neraka.
Kemudian Nabi juga memperingatkan tentang
sifat As-Syuhha dengan sabdanya, “Takutlah kalian terhadap “Asy-Syuhha.”
Asy-Syuhha adalah tamak terhadap harta, atau menahan diri (dari mengeluarkan
harta) untuk sesuatu yang sifatnya wajib (zakat, dll). Asy-Syuhha adalah satu
dari sekian cabang kezaliman, sebagai isyarat bahwa asy-syuhha adalah satu dari
sekian bentuk kezaliman yang paling besar.”[5]
Tentang sabda Nabi :
فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Karena ia (asy-Syuhha)
telah membinasakan kaum sebelum kalian,”
Al-Qadhi berkata, “Mungkin
saja kehancuran di sini adalah kehancuran yang dikabarkan tentang mereka di
dunia, karena mereka salingg menumpahkan darah, mungkin pula bermakna
kehancuran di akhirat, yang kedua lebih jelas, bisa juga maknanya adalah
menghancurkan mereka di dunia dan akhirat.”[6]
Banyak punya yang
mengatakan, “Asy-Syuhha adalah bakhil tingkat tinggi. Asy-Syuhha adalah satu
dari sekian bentuk bakhil. Disebutkan pula bahwa, ‘Asy-Syuhha’ adalah bakhil
yang disertai dengan sifat tamak.’”[7]
Pelajaran dari Hadis
ini:
1.      
Haramnya kezaliman dan
peringatan tentang bahaya sifat zalim atau tindak kezaliman
2.      
Perkara-perkara yang
bersifat maknawi akan berubah di hari kiamat menjadi perkara-perkara yang bisa
dirasa atas izin Allah ta’ala
3.      
Bakhil dan zalim adalah
dua dari sekian sebab-sebab tersebarnya kejahatan
4.      
Zalim dan asy-Syuhha
adalah dua dari sekian dosa-dosa besar, yang menyebabkan kecelakaan di dunia
dan kesedihan yang besar di hari kiamat.
Sumber: Arbaun
Haditsan Kullu Hadits Fi Hashlatain: 119-122
Penerjemah: Irfan Nugroho
(Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)

[1] Allah memerintahkan manusia untuk bersikap
adil dalam firmanNya:
إِنَّ اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk bersikap adil,”
(QS An-Nahl: 90).
[2] Tentang kezaliman terhadap hak-hak
manusia, Rasulullah
bersabda:
اِتَّقِ دَعْوةَ
الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Takutlah dengan doa orang yang terzalimi, sebab tidak
ada hijab/ penghalang antara dia dengan Allah (untuk dikabulkannya doa itu),”
[Shahih Muslim].

[1] Mu’jam Lughatul Fuqaha: 296
[2] Lisanul Arab: 2/276
[3] Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus
Shalihin: 1/186
[4] Sahih Muslim bi Syarah An-Nawawi: 16/104
[5] Faidul Qadir: 1/134
[6] Sahih Muslim bi Syarah An-Nawawi: 16/134
[7] Sahih Muslim bi Syarah An-Nawawi: 16/370