dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan
itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain
mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa
saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Persiapan (I’dad) disini, menurut para ulama, selalu mengiringi perintah
Jihad. I’dad jadi wajib jika jihad tidak bisa dilaksanakan (karena
lemah).

“Di tengah jatuhnya perintah Jihad karena kita sedang lemah, maka
hendaklah kita melakukan persiapan. Mempersiapkan diri dengan segala
kekuatan merupakan sebuah kewajiban yang mengiringi kewajiban Jihad,”
kata Ibnu Taimiyah.

Konotasi I’dad selalu dengan berlatih senjata, ini tidak salah.

Namun, I’dad lebih dari sekedar berlatih senjata.

Sedangkan nash yang kita dapat dalam Surah Al-Anfal: 60 merupakan
perintah untuk mempersiapkan kekuatan dengan segala bentuk dan ragamnya,
dengan berbagai sebab-sebab yang bisa menghantarkan pada kekuatan
tertentu.

Ada tiga poin utama yang ada di dalam Surah Al-Anfal: 60
1.    Wa a iddu lahum (dan persiapkanlah untuk mereka)
Persiapan yang kita lakukan ini seharusnya disiapkan untuk menghadapi musuh-musuh Allah.

“Lahum” di sini diterjemahkan “musuh-musuh Allah, musuh-musuh kaum
Muslimin, dan musuh selain keduanya yang Allah mengetahui bahwa pihak
ketiga ini benar-benar memusuhi Allah.”

Yang menjadi persoalan adalah ‘musuh yang lain’ karena tipe musuh yang
pertama dan kedua sudah jelas siapa mereka. Dan golongan ketiga inilah
yang jumlahnya tidak kita ketahui.

Hadist Hudzaifah Ibnu Yaman tentang akhir zaman tentang penyeru kepada
pintu-pintu jahannam, maka Rasul berkata, “Mereka kulitnya sama dengan
kita, bahasanya sama dengan kita (juga menggunakan ayat-ayat
Quran/Hadist) tapi membelakangi Islam.” (HR Bukhari).

Menurut professor Ahmad Jamal di Universitas Ummul Khura (dalam kitab
Kebohongan-kebohongan terhadap Islam), “Mereka adalah orang yang mengaku
Islam namun selalu mengekor pada barat dan cenderung untuk
mengembangkan pemikiran-pemikiran barat daripada Islam.”

Perlawanan mereka adalah melalui Ghazwul Fikr, maka I’dad untuk melawan
Ghazwul Fikr adalah dengan senantiasa belajar dan mendalami ilmu syar’i.

2.    Mas tatha’ tum
Ibnu Katsir, dalam memahami ini, menyebutkan bahwa kalimat ini berarti maksimal, dan bukan ‘leda-lede’ (lazily).

Banyak orang mengira bahwa “mas tatha’ tum” berarti “sebatas kemampuan mereka” dan hal ini memang tidak salah.

Yang jadi salah adalah ketika manusia selalu menganggap dirinya lemah
sehingga mereka berpikiran bahwa batas kemampuan mereka itu adalah sama
dengan “jangan bekerja terlalu keras.”

Padahal, kita di sini di minta untuk ber-I’dad sampai batas maksimal kita, bukan batas minimal.

Ibnu Katsir berkata mengenai ayat ini, “Meningkatkan dan memaksimalkan
sampai batas tertinggi dari batas kemampuan tertinggi seorang Muslim.”

Hal ini juga dikatakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb.

3.    Min quwwatin
Semua pembentukan kalimat dalam Al-Quran pasti ada maksudnya.

Oleh karena itu, dalam kalimat ini tidak dikatakan “Min AL Quwwatin.”

Maksud dari “min quwwatin” adalah merujuk pada jenis kekuatan secara umum.

Artinya, persiapan di sini adalah segala persiapan untuk menggetarkan musuh-musuh Allah.

Mempersiapkan diri dengan beragam keahlian namun berangkat dari mengerjakan sesuatu yang kita mampu terlebih dulu.

“Siapa yang dibebani dengan beban perintah ketaatan sedang dia hanya
mampu melakukan sebagian dan sebagian lain tidak bisa, maka hendaknya ia
melakukan yang ia sanggup terlebih dahulu,” kata Al-Izz Abdussalam.

Kalau kita sedang dalam keadaan lemah, maka kita hendaknya bersabar; sedang kalau kita dalam keadaan kuat, maka kita berperang.

“wama tun fiqu min syai’in” menurut Ibnu Taimiyah, “konsekuensi dari
ayat-ayat ini harus dijalankan dalam keadaan-keadaan apapun.”

Kesimpulan
Jadi, entah itu keadaan lemah atau keadaan kuat, I’dad harus tetap
dilaksanakan karena I’dad harus tetap diadakan dalam keadaan apapun
karena adanya perseteruan antara kebenaran dan kebatilan akan tetap ada.

Oleh karena perseteruan antara kebaikan dan kejahatan akan tetap ada, maka Jihad, I’dad, dan waspada harus tetap dilaksanakan.

Nabi bersabda – dalam hadist tentang Thaifah Mansurah – bahwa Jihad
tidak boleh dihentikan dan akan tetap dibutuhkan hingga hari kiamat.

I’dad jauh lebih dibutuhkan oleh mereka yang berada dalam keadaan lemah.

Maka, kita lebih diprioritaskan untuk melakukan I’dad karena belum mampu untuk berjihad.

Sehingga dari sini, akan dimungkinkan bagi kita untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan ini dan kemudian suatu hari nanti kita akan mampu
untuk berjihad.

Dengan I’dad kita mampu untuk menyusun kekuatan untuk berjihad.

Oleh karena itu, kita jangan berpikir secara ‘loncat,” yakni kita belum
punya kekuatan namun sekonyong-konyong hendak berangkat Jihad.

Rasulullah bersabda, berdasar riwayat Imam Ahmad dari Uqbah Bin Amir,
bahwa “Kekuatan itu adalah memanah, kekuatan itu adalah memanah!”

Dalam buku Tarbiyah Al-Askariyah karya Dr Juraish, ada enam aspek
yang harus disiapkan untuk mengalahkan musuh-musuh Allah (dalam hal ini
Dr Juraish menulis buku ini setelah melakukan refleksi atas kesuksesan
Mujahidin Afghan mengalahkan pasukan Uni Soviet):
1. I’dad ruhiyah (lebih utama dilakukan sebelum melakukan I’dad fisik)
2. I’dad fikriyah (untuk menanggulangi Ghazwul Fikr)
3. I’dad an-nafsy (mempersiapkan mental)
4. I’dad jasady (mempersiapkan secara fisik, belajar beladiri)
5. I’dad al-maly (mempesiapkan bekal dan harta)
6. I’dad ijtima’I (mempersiapkan masyarakat agar masyarakat juga mendukung jihad)