.fullpost { display: inline; }

Irfan Nugroho
Politik pencitraan merupakan upaya seseorang atau lembaga untuk membangun kesan baik di tengah publik.

Setidaknya inilah definisi ‘pencitraan’ yang bisa saya simpulkan setelah
selama satu smester mengikuti kuliah “Public Relations” atau “Hubungan
Masyarakat.”

Inilah strategi yang biasa digunakan oleh orang-orang berduit yang
berhasrat untuk menjadi presiden, anggota dewan, gubernur, bupati,
camat, atau lurah sekalipun.

Televisi kemudian dipenuhi dengan ‘iklan narsis’ dimana seorang yang
bengis ditampilkan seolah-olah sosok yang ‘berwibawa’ dan ‘bersahaja.’

Di sini pula kemudian seseorang yang sangat amat jarang melaksanakan
shalat kemudian ‘disulap’ menjadi sosok yang ‘shalih’ dengan baju koko,
sarung, peci hitam, dan sajadah yang disampirkan di pundak.

Inilah yang disebut dengan politik pencitraan dan ini menjadi hal yang
‘legal’ dalam ilmu Public Relations (Silahkan tanya pada mereka yang
kuliah di fakultas ilmu sosial dan politik).

Nah, ternyata ‘politik pencitraan’ juga dijalankan bukan hanya oleh
orang-orang berduit, namun juga mereka yang diklasifikasikan golongan
“tidak mampu” oleh pert*mina.

Konon di Tana Toraja, adat setempat ‘memfatwakan’ wajibnya menyembelih
1,000 ekor kerbau jika ada keluarga yang menginginkan agar leluhur
mereka dikategorikan dalam kasta tertinggi.

Berdalih mengadakan ‘shadaqah,’ beberapa orang di Jawa kadang harus
berhutang kesana kemari agar bisa menjalankan ‘selamatan tujuh hari,’
‘selamatan 40 hari,’ ‘selamatan 100 hari,’ ‘selamatan 1,000 hari,’ dan
lain sebagainya.   

Beberapa orang pun kadang ngotot mengadakan pesta pernikahan mewah agar
dikatakan mampu memberi makan orang banyak, padahal setelah acara
selesai, sang penyelenggara harus berpusing-ria memikirkan cara melunasi
hutang yang menopang acara tersebut.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, sering kita melihat seorang karyawan
baru dengan gaji berkisar 4-5 juta pun kadang langsung memberanikan
diri ‘kredit mobil’ agar bisa dipamerkan di kampung halaman saat mudik
lebaran.

Seperti ‘politik pencitraan’ yang dilakukan oleh kaum elit yang mulai
terbuka kedoknya, ‘politik pencitraan’ oleh kaum fakir jauh lebih mudah
terkuak aib-nya. Bukankah 1500 tahun yang lalu Rasulullah telah berpesan
kepada kita:
Siapa saja yang berbuat riya’ Allah akan memperlihatkan aib-nya,” (Hadist Sangat Shahih Riwayat Imam Bukhari).

Seandainya masih terdapat iman sebesar biji atom di dalam diri kita,
tentu kita harus senantiasa berharap agar kelak di akhirat kita tidak
akan ‘dicuekin’ oleh Allah karena Nabi Muhammad Bin Abdullah telah
memberitahu kita:

Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari
kiamat, tidak akan disucikan, tidak akan dilihat, dan baginya siksa
yang pedih. Ketiga golongan tersebut adalah orang tua yang berzina, raja
yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,
” (Hadist Sangat Shahih Riwayat Imam Muslim).

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka
katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan
jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka kira,
” (HR Imam Bukhari). (2 September 2011/3 Syawal 1432 H)