Oleh Sheikh Dr Muhammad Azzam

Selama 13
tahun, ayat-ayat Makkiyah turun menjelaskan kalimat “Laa Ilaaha Illallaah”,
menjelaskan akidah hingga tertanam ke dalam jiwa. Agama ini seluruhnya tegak
atas kalimat “Laa Ilaaha Illallaah” yang mencakup;
perundang-undangannya, perincian, dan hukum-hukumnya, tegak di atas prinsip uluhiyah.
Agama ini
ibarat sebuah pohon yang akarnya menghunjam ke dasar bumi dan cabang-cabangnya
besar. Apabila pohon itu besar, maka akar pohon tersebut harus betul-betul
dalam agar dapat menopang besarnya pohon itu. Demikian pula akar-akar agama,
yakni “Laa Ilaaha Illallaah” yang haruslah merupakan iman yang menancap
dalam-dalam ke dasar hati sehingga dapat menopang agama ini seluruhnya.
Karena itu,
para dai yang menyangka bahwa dengan mengedepankan sistem ekonomi Islam, sistem
sosial menurut Islam, sistem politik menurut Islam, atau sistem etika dalam Islam dapat membuat manusia menyukai Islam lalu masuk Islam, maka mereka tidak
memahami tabi’at agama ini, tidak pula mengetahui hakikat manhaj operasionalnya.
Kita
mendakwahi orang bukan dengan membuat mereka tertarik pada persoalan furu’
dalam Islam. Kita, semestinya mendakwahi mereka dengan cara menanamkan akidah
ke dalam hati mereka. Setelah akidah tertanam di hati, otomatis mereka akan
mengerjakan segala tuntutannya.
Adapun jika
kita mengajak mereka dengan aspek-aspek yang ada di dalam Islam seperti
misalnya shalat, wudhu, hak dan kewajiban kaum wanita, keadilan, dan lain-lain,
maka persoalan tersebut hanya akan sampai pada taraf “dibicarakan” saja. Dan
setiap hari mereka akan mengajukan berbagai macam pertanyaan yang harus engkau
jawab.
Ketahuilah,
bukan seperti ini cara yang ditempuh Islam pertama kalinya. Berusaha menarik
manusia kepada Allah dengan jalan mengenalkan mereka kepada sistem ekonomi dan
sistem sosial sebelum mengenalkan “Laa Ilaaha Illallaah” tak ubahnya
seperti orang yang menebar bibit tanaman di udara lantas menunggu bibit itu
tumbuh menjadi pohon di udara.